Google+

Gili

Leave a comment

September 2, 2014 by willamnasution

DSC04040

Gambar-gambar pagi, siang, dan malam. Senja. Fajar. Hari demi hari yang terlalui bagai lapisan. Yang membuat kerut di bibir dan di ujung kerlingan mata, tersenyum. Gaya rambut berubah seiring dengan jaman. Tapi kita selalu mencari pelabuhan. Hal-hal yang tidak pernah berubah dalam ingatan. Bintang yang mengingatkan tempat kita berdiri, dan tujuan yang kita ketahui pasti akan menghampiri.

Hanya saja kita tidak mengetahui harus lewat mana untuk mencapainya. Kita berputar-putar di dunia. Berlarian pulang dan pergi. Mengisi jalan raya. Berseliweran diantara masa muda, masa kecil, dan masa di hadapan. Dan kita selalu terjaga. Terbangun dari tidur, dari mimpi yang tidak selalu kita pahami.

Lalu kita maknai dan terjemahkan lagi semua perjalanan ini. Mencari arti. Berjalan di pinggir pantai dinaungi pepohonan. Dengan sinar matahari yang meninggi, perlahan berkilauan. Riak-riak ombak ingatan. Sepuluh tahun yang lalu kita pergi ke tempat itu berdua. Menggelar lamunan akan hari ini. Melarikan diri, menyelinap dari tembok-tembok keseharian.

Kita melangkah ke penginapan yang sama, merebah di kamar yang sama. Masih dengan tempat tidur yang sama, dan deru ombak yang mengisi ruang kalbu kita. Tirai kita buka dan seketika itu juga cahaya pelita membanjiri. Mengisi seluruh ruang, sudut-sudut kehidupan kita. Menjadi lebih terang. Senyuman malas bangun tidur. Tidak ingin melakukan apa-apa. Hanya ingin menikmati keterhempasan dalam waktu. Saat ini, momen ini, bersama kalian.

Dan ketika itu kamu duduk di bibir kasur membelakangiku. Menyisir rambutmu. Sebuah adegan pagi hari yang tak lekang. Kuperhatikan dengan rasa yang melapang. Teman hidupku, tempat kubagi setiap waktu. Dan kini sepuluh tahun kemudian ada anak kecil yang duduk di sebelahmu. Dengan rambut menjuntai yang sama, menyisir dengan gaya menyisir yang sama denganmu. Juga membelakangiku.

Aku bertanya pada cahaya, aku melepas pandangan pada sinar yang terus membanjiri ruang di dalam relung batinku. Cahaya yang menyinari langkahku. Tujuan yang hendak kita capai bersama. Dan masih lagi pagi lepas pantai ketika kita mencemplungkan kaki kita. Bermain air tak ayalkan siapa-siapa.

Berjalan kaki menyisir diantara debur ombak yang menepi ke pantai. Dalam hening diri. Dalam jiwa yang penuh. Dan yang kulihat adalah senyummu. Senyummu pulau teduh, tempatku berlabuh. Kini senyum itu pun berimbuh satu. Senyum mungil anak kecil yang lucu. Yang setiap paginya menyapa dan tidak pernah sedetik pun aku tidak jatuh hati padanya.

Aku bertanya pada ujung lautan nun jauh disana. Darimana keindahan ini jatuh ke dunia? Butir-butir pasir yang menempel di sela kaki kita dan terbasuh kembali oleh bibir pantai yang menjulurkan ombak kecilnya. Pagi, siang, dan malam. Senja. Fajar. Kita jalani bersama.

Sepuluh tahun serasa hanya lipatan dalam waktu. Dan kini kasih sayang kita telah mewujud tunas harapan baru yang tak terkira. Dia berlari meninggalkan kita di tepi pantai. Memanggil ayah dan bunda, menyeru bermain bersama angkasa biru dan sapuan awan yang berlayar menuju samudra.

Dia yang mengisi hari demi hari kita dengan lapis demi lapis cerita. Apa yang dulu kita lamunkan sambil rebahan, sambil terlentang, maupun di kemilau meja makan, kini mewujud kenyataan. Putri pujaan.

Senyumnya, senyummu. Secercah cahaya yang terserap, berkerling, kemilau riak-riak, terang. Membanjiri seluruh ruang kamar penginapan kita. Seluruh langkah kita ke hadapan.

Bagaimana bisa, kubertanya pada angin semilir yang membelaiku, menggetarkan cemara laut, kutengadah, tajuk-tajuk hijau yang memayungi saat-saat bermain kita di tepi pantai, ada gadis kecil yang mirip denganmu? Yang baiknya sebaik dirimu? Yang cantiknya secantik dirimu? Meski hanya dari belakang menyisir rambutnya, bisa jadi milikku, bisa jadi bagian hidupku?

Pemandangan batin itu menggetarkan kalbu. Tak mungkin terlupakan. Di bibir tempat tidur itu, di atas hamparan seprei putih itu, akan terus kubawa pulang. Mengisi hari dengan berjuta kesibukan. Tapi kerling mata itu, senyum itu, noktah cahaya itu, adalah bintang yang kutuju sebelum kupejamkan mata.

Suatu hari kelak, sayang, kita akan kembali ke pulau ini. Mungkin masih bermalam di tempat yang sama. Mungkin masih berbagi tempat tidur yang sama. Ketika itu kita pasti akan bertambah tua, dan gadis kecil kita telah bertambah dewasa. Tapi bagiku pelabuhan tetaplah sama, pulau teduh akan senantiasa niscaya. Dan kenangan akan bagai lepas pantai yang ombaknya berhamburan, menjulur terus kembali dan kembali menepi ke bibir pantai.

Kupegang tanganmu sambil berjalan di tepi pantai itu. Sama seperti dulu. Dan yang kulihat adalah batas pertemuan antara samudra dan angkasa biru. Titik yang sama sepanjang waktu.

Ayah dan bunda! Seru gadis kecil kita. Dan kita pun berhamburan mengejarnya dalam gelak canda tawa. Di bawah pelita, diantara miliaran senyum yang membuncah mengisi relung hati. Hingga nanti. Hingga pagi, siang, dan malam. Senja. Fajar. Tak lagi berganti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: