Google+

Dewa Di Dalam Keseharian

Leave a comment

August 19, 2014 by willamnasution

DSCN9715

Sang penulis lepas pulang dari lari paginya. Lepas lelah bersama surutnya segelas air putih di gelas yang bening. Di sekitarnya hanya ada sunyi sehingga terdengar barusan saja air putih yang baru ditenggaknya habis. Satu-satunya teman hanyalah handuk yang setia mengaleng dilehernya. Dari posisinya berdiri dia melihat keluar jendela apartemennya, dan dia merasa bahwa badannya tidak terasa lelah. Tapi sebaliknya badannya terasa ringan. Seolah tidak menapak di atas lantai kayu cemerlang yang memanjang ke seluruh ruangan. Berwarna muda tertimpa cahaya senada dengan pigura jendelanya. Sejurus kemudian dia melepas pandang ke arah meja tulisnya, ke kursi tulisnya. Seakan menunggu. Dan disanalah dia selama berjam-jam kedepan akan mendudukan dunianya.

Namun sebelum itu dia beranjak untuk mengisi segelas air putih yang baru. Menenggaknya lagi bertahap sambil berdiri masih menatap ke jendela yang sama. Handuknya yang sejak tadi dikalungkannya, sesekali dia tempelkan pada keningnya. Masih dalam kesyahduan yang sama. Darisitu dia memandang jauh keluar jendelanya, dia lihat kota, jalan-jalan dan bangunan yang itu-itu juga. Tapi pikirannya menerawang, mencari layang-layang, mengapai angan yang terbang.

Seperti biasa selepas itu dia masuk ke kamar mandinya, membasuh dirinya di bawah pancuran. Sehabis itu dia tidak menyapa dirinya sendiri di cermin. Pukul delapan tepat dia lalu duduk di hadapan meja tulisnya, yang kayunya masih juga berwarna sama dengan kusen jendela dan lantainya. Memanjang. Derap langkahnya hampir tidak dapat terdengar dimanapun juga di dalam kamar apartemennya. Pukul delapan tepat dia duduk dengan dua potong roti isi yang dia buat, tergeletak siap untuk disantap.

Layar komputer menyapa, tapi tidak terlalu dia hiraukan. Berbagai notifikasi hanya sekedar berlalu. Badannya terasa begitu enak, begitu siap, untuk menerjang pekerjannya yang sama membosankan dengan segala ritual yang dia lakukan setiap harinya. Dengan jadwal sama yang tidak pernah berubah selama entah beradab. Sebuah sistem dalam tubuhnya sudah mengatur itu semua, dan menyesuaikan dengan hitungan waktu yang sejak lama sudah dia pertahankan.

Di kursi tulisnya, yang terbuat dari kayu dengan empat kaki, beralaskan busa dan senderan, dia mulai menulis saat itu juga. Tanpa banyak berpikir kata-kata itu mulai meluncur di layar, mengalir bagai sungai yang satu demi satu turun mengisi layarnya, menggapai deras terjun mengisi ruang.

Detak-detak papan ketik, hanya itulah yang bersuara. Selama satu dua jam berikutnya tanpa henti. Sesekali lengannya menggapai roti isi di sampinya, piringnya berwarna biru, dan seiring waktu hanya tertinggal remah roti saja disana. Cahaya yang masuk dari jendela bergeser di lantai kayu, terhisap semakin tinggi di cakrawala. Tapi sang penulis tidak memerhatikannya. Dia hanya duduk dengan posisi tegap di hadapan mejanya. Memaku pada layar. Menulis tanpa jeda.

Dia tidak bertanya pada gagasan, tidak berbincang bersama inspirasi. Dia sendiri tidak tahu dengan pasti kemana alur cerita, riak-riak di lautan membawa awal, pertengahan, dan akhir cerita.

Yang dia lakukan hanyalah berlayar.

Nyaris tidak ada tarikan nafas panjang dalam tulisannya, konstan teratur, seperti juga ritual lari paginya selagi mengitari kawasan tempat dia tinggal. Menyusuri sepenggal taman, lokasi ketika dia bertemu dengan beberapa pelari lainnya. Orang-orang asing yang melempar senyum padanya namun hanya sampai disitu saja. Dia tidak memikirkannya, siapa atau dimana atau apa pekerjaanya. Dia hanya ingin berlari.

Dalam fajar pagi yang mendung itu dia menarik lurus resleting sweaternya, mengenakan kerudungnya, mengikat tali sepatunya, dan tanpa dia sedniri sadari dia sudah mulai berlari keluar meninggalkan pintu. Berkejaran mencari irama sambil mengatur nafasnya. Tidak ada yang benar-benar dia coba singkapkan dalam benak selain hanya berlari. Pagi ini dia terjaga tepat di waktu seperti kemarin, dan apa yang dia lakukan setelah itu juga tidak ada yang berbeda. Duduk di atas seprei putihnya untuk sesaat, di sisi yang sama, dan meninggalkan bantal putihnya yang tanpa dia gugah sedikitpun. Lalu dengan celana pendek putih dan kaos putih dia menuju kamar mandi, menuju ke lemari untuk mengganti pakaiannya dengan kostum lari.

Satu-satunya waktu ketika di menepi dari meja tulisnya adalah ketika jam makan siang. Jam yang tanpa dia lihat lagi sudah tepat jam 12 siang. Lalu masih tanpa derap yang terdengar dia beranjak ke dapur. Membuat roti isi lainnya. Duduk sendiri di meja makan, masih dengan tidak banyak pikiran. Dia bahkan sudah tidak ingat sama sekali apa yang dia tuliskan barusan.

Setelah makan dia kembali ke tempatnya semula, merapatkan kembali kursinya ke meja tulisnya. Dia merapatkan lagi segala kata-kata yang dapat dituliskannya. Dia biarkan saja meluncur dengan kecepatan konstan yang tidak pernah melambat ataupun bertambah cepat. Dan hanya suara papan ketiknya saja yang senantiasa berbunyi di ruangan itu. Yang lainnya tidak ada.

Jam dua lewat dan seperti sudah diduganya pada saat-saat itu badannya sudah mulai terasa lelah, kantuk sudah mulai mengetuk. Tapi dia tahu bahwa dirinya tidak atau belum diijinkannya beranjak sebelum pukul tiga. Dimana dia akan sedikit bergeser ke sofa di kamar tidurnya dan akan rebahan disana untuk sekitar setengah jam. Di kamar tidurnya itu terdapat jendela yang sama di dekat meja tulisnya. Dan sebelum rebahan seperti biasa dia akan memandang dulu ke arah kota. Melihat bangunan menerawang jalanan.

Tulisan yang sudah begitu banyak mengisi halaman demi halaman, memanjang seperti kereta api yang di dalam perjalanan mengisi pemandangan terus dia pertahankan. Dan dia belum menyadari sudah sampai dimana perjalanan itu membawanya. Sudah berapa banyak tokoh baru yang meloncat di stasiun dan memperkenalkan dirinya, bertingkah polah, berjibaku, berbuat laku dan entah apa tujuannya. Dia sudah biasa untuk tidak mempertanyakan itu semua dan menunggu hingga akhirnya dia kira tulisannya itu telah rampung. Setelah itu baru dia akan tentukan bahwa apakah besok akan dilanjutkan atau untuk sementara waktu dia kembalikan masuk ke dalam khayangan. Terlentang dan rebahan seperti juga yang dia lakukan pada pukul tiga.

Di dekat sofa merah hatinya itu dia simpan beberapa tumpukan buku yang tengah dia baca. Jika dia masih memiliki tenaga atau ada sebuah halaman yang dia kira akan dia selesaikan dulu maka untuk beberapa lama matanya akan mengusik itu semua. Tapi jika tidak maka dia akan langsung terlelap.

Setelah tiga puluh menit tanpa sebuah kejutan, seolah semua sudah dia prediksikan, maka dia terbangun. Mengambil air minum dan kembali ke meja tulisnya, dan duduk kembali di kursi tulisnya. Kemudian kata-kata itu meluncur kembali hingga pukul delapan malam. Waktunya dia makan.

Dan ke dapur dia kembali dengan lampu-lampu yang kali ini sudah dinyalakan. Lalu dia kembali menyantap makanannya sambil duduk sendiri di meja makan. Tidak ada apa-apa selain sepi yang menemaninya. Tidak ada kegiatan lain yang dia lakukan selain mungkin ke kamar mandi. Dan setelah selesai menyantap makanannya dia padamkan layar komputer.

Baru ketika itulah dua lamat-lamat mencoba mengingat cerita apa yang sudah di torehkan. Sekejap dia mengingat kalimat baru yang dia temukan dalam dunia karangan atau sebuah adegan yang melekat dalam angan. Tapi dia tidak berpikir lagi jam berapa dia akan tidur atau apa yang akan dilakukannya besok. Karena semua sudah terjadwal dengan rapi dan tertata dalam sistem tubuhnya.

Pukul sepuluh, setelah beberapa kali berganti buku bacaan dia kembali menganti kostumnya dengan pakaian tidur. Kaos berwarna putih dan celana pendeknya. Dia padamkan semua lampu dan membiarkan jendelanya terbuka. Dia sangat senang dengan bias cahaya kota yang mengucapkan selamat malam disana, meninabobokannya, dan seringkali masuk ke dalam mimpi-mimpinya.

Seiring padamnya lampu perlahan segala sistem dalam tubuhnya pun padam. Dan seperti juga malam-malam sebelumnya maupun berikutnya dengan cara itu pula dia terlelap dalam gelap. Besok semua adegan itu akan berulang kembali, tidak ada beda sedikitpun selain mungkin cuaca yang ada di jendela. Sang penulis kembali ke jalur lari yang sama, kembali dengan kebiasan-kebiasannya, kembali ke peraduannya bersama kursi dan meja tulis, dan dengan irama papan ketik yang itu juga, satu-satunya bunyi yang mengisi apartemennya. Menu makanan yang sama, dan posisi duduk yang tidak berbeda.

Namun dalam hitungan tahun atau bulan setelah dia melakukan itu semua, satu demi satu naskah yang dia kerjakan itu rampung dan sebagian sampai ke penerbit. Jutaan kata itu melayang dan setiap kali nama sang penulis itu terbaca sebagai pengirim, maka siapapun yang menerimanya akan langsung terhentak dan tergetar untuk sesaat. Siapapun itu akan langsung terbirit-birit masuk ke ruangan direktur. Siapapun itu akan mendobrak pintu direktur dengan suara yang lancang dan wajah sumringah bukan kepalang. Maka baik siapapun itu dan sang direktur matanya akan berbinar-binar. Nama sang penulis kembali tersebut dan mereka akan memandang penuh tanya sekaligus takjub akan karya yang ada di hadapan mereka. Apakah kita telah menemukannya? Tanya mereka.

Apakah novel ini adalah novel yang akan meledak seketika di pasaran? Apakah ceritanya akan tersimpan juga senantiasa dibicarakan oleh banyak orang sepanjang jaman? Apakah novel ini adalah novel yang akan mengubah lanskap pikiran manusia untuk selamanya?

Sang direktur lalu berusaha membaca halaman pertama dari novel tersebut. Dan tidak sampai dua paragaraf, meskipun belum cukup untuk mengantarkannya kemana-mana, bibirnya bergetar dan dia hampir menitikkan air mata. Saat itu juga dia berusaha menghubungi sang penulis. Saat ini pukul sebelas siang, dan sang penulis seperti yang sudah dia mafhum tidak dapat dihubungi. Dia sedang menulis di suatu bumi yang kita kira kita ketahui tapi ternyata tidak sama sekali. Karena dunia itu hanya terjamah dan dapat diterjemahkan olehnya.

Selama ini jika berdiri di hadapan jendela apartemennya sang penulis merasa dia sedang menatap pemandangan kota. Tapi sebenarnya pemandangan itulah yang selama ini menatapnya. Dan dari sana kita bisa lihat bahwa dengan khidmat dia sedang berada di peraduannya. Menulis, dan hanya itulah yang dia lakukan. Selalu begitu sepanjang jaman.

Advertisements
»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: