Google+

Meja Tulis

Leave a comment

June 27, 2014 by willamnasution

FxCam_1341249335557

Setiap pagi penulis pergi ke meja tulisnya, ke rasa takutnya, ke kekosongan demi kekosongan yang berjurang, ke ujung tebing tempat dia bisa terbang sebelum menyelam. Tidak ada janji, tidak ada harapan. Tapi kesana senantiasa dia menyandarkan hari-harinya. Melamunkan kata, membenamkan cerita. Pulang-pergi bersama angan mencari rumahnya, alinea.

Banyak hal yang bisa dia salahkan, dunia, waktu, kurang uang, kurang makan, kelelahan, dan semua. Di malam-malam yang buruk dia terpuruk di salah satu sudutnya dan berserapah bahwa dia membenci dirinya. Tapi keesokan paginya ke meja tulis itu dia pergi kembali.

Meja yang tidak bersih, tidak juga kotor. Meja yang tertata rapih, tapi juga berdebu, sesekali kacau, namun dirancang kembali sesuai aliran pikirannya saat itu. Terhisap batas sinar matahari, surut seperti ombak yang pamit undur untuk kemudian besok memberi kehangatan lagi.

Cerita kehidupannya mungkin lebih banyak kegagalan ketimbang kemenangan. Tidak ada gaji, tidak ada jenjang karir, tidak ada kepastian kecuali mudah-mudahan esok mentari masih bisa menggantung disana. Yang ada hanya dirinya dan hanya ada itulah yang ada. Dunianya yang dia reka sendiri dari serpihan udara, dari arus yang kadang menghantamnya entah darimana, tapi sungai kadang mengering, kadang keruh, kadang lupa.

Tapi suatu pagi ketika terjaga, ketika hendak beranjak ke peraduannya, sang penulis menemukan bahwa meja tulisnya tidak ada. Dia bingung setengah mati, dia kucek-kucek lagi matanya. Melihat ke depan ke tempat barusan dia datang, dan melongo kembali ke tujuannya ke tempat dia biasa pergi. Dia lihat seisi ruangan dan dia pikir ini adalah rumahnya, kamar kerjanya, disana kamar tidurnya, disana dapur dan kamar mandi. Tapi meja tulisnya menghilang lenyap begitu saja.

Dia tanya pada jendela, pada daun pintu, pada dinding-dinding yang mungkin mau bicara dan memberitahukannya. Tapi mereka semua diam, beku, tanpa ekspresi. Dia kemudian pergi ke halaman mengadu pada awan, mengadu pada sang surya, tapi mereka hanya mengerling tanpa suara. Pada pagi itu untuk pertama kalinya sang penulis kehabisan kata-kata. Untuk sekian lama tidak ada yang mengalir di dalam darahnya kecuali sepi, hening yang mengisi relung-relung jiwa raganya.

Bukan hanya itu ketika dia masuk ke dalam rumahnya perlahan satu demi satu perabot rumah tangganya pun lenyap begitu saja. Sofa dan kursi-kursi, tiada. Tempat tidur dan rak buku, hilang. Meja makan dan kursinya, kabur. Rumah itu menjadi kosong seperti dirinya. Dia tidak tahu lagi musti bagaimana. Dia lalu merogoh saku celana belakangnya yang tergantung di balik pintu, dan dompetnya pun tidak ada.

Sang penulis menggigggil kedinginan, tidak tahu harus berbuat, tidak mengerti harus bertindak. Dia kemudian melihat seonggok kerikil di halamannya, yang kemudian dia genggam. Dia ingin memastikan bahwa dia masih bisa merasa, bahwa dia masih ada. Bahwa semua keajaiban yang seperti sulap ini hanya mimpi semata. Tidak betul-betul terjadi. Mungkin ini hanya kilasan berbayang yang dia alami ketika dia tidur-siang di meja tulisnya.

Tapi seaneh apapun yang terjadi, genggaman kerikil itu betul-betul dia bisa rasakan. Dengan tatapan kosong dan linglung dia bolak-balik ke dalam rumah dan ke halaman. Mungkin rentenir sudah mengambil semua yang dia punya. Mungkin maling sudah mengambil semua yang bisa dia angkut. Dia tidak memiliki penjelasan apapun selain pertanyaan yang coba dia bekam dan penjelasan yang menyandera.

Baginya siksaan ini cukup sudah. Seperti biasa dia tidak ingin peduli dengan harta, dengan benda, dengan kepunyaan, dan semua yang bisa terbeli dan terjual kembali. Dia hanya ingin menulis pagi ini, dan dia khawatir dia tidak bisa melakukan itu. Bertahun-tahun dia melakukannya setiap pagi, menyandar pada meja tulisnya, dan kini tanpa peringatan atau isyarat apapun semua lenyap begitu saja.

Kerikil di dalam genggamannya kemudian dia keluarkan, dia terlentangkan di atas telapak tangan. Dan kemudian dia mulai menulis dengannya. Dia menulis di tembok dengannya, dia menulisi lantai, dia menulisi jendela, pintu, dan terus beranjak ke halaman. Tempat pertama kali dia menemukan kerikil itu. Dia menulis tentang dirinya, tanpa mengarang, tanpa tujuan tertentu untuk menjadi suatu bentuk tertentu. Apakah puisi, entahkah haiku, apalah cerpen, atau permulaan dari sebuah novel baru.

Dia hanya mencurahkan isi hatinya pagi itu melalui kerikil sebatang kara seperti dirinya. Sambil berharap ada seseorang yang bisa membangunkan mimpinya, jika memang kejadian ini semua adalah sebuah bunga tidur. Tapi sambil menulis dia menanti, dan tidak terjadi apa-apa.

Seisi bangunan rumah itu sudah penuh dengan tulisannya. Interior maupun eksterior. Lantai maupun langit-langit. Tapi kemudian rumah itu pun rubuh, musnah di depan matanya. Dan keatas puing-puing itu sang penulis berusaha beranjak. Melihat-lihat dengan pandangan yang tambah bingung dan panik. Pedih menyayat, tapi air matanya tidak dapat merembeskan sedih tangisnya.

Tidak ada yang lebih menyedihkan baginya selain tidak bisa menulis pagi ini, tidak dapat bermain dengan kata-kata atau dirinya yang tidak dapat dipermainkan oleh kata-kata. Sang penulis akhirnya melempar kerikil yang sejak tadi mulai luruh karena terus-menerus digunakan sebagai alat tulis. Dia melempar kerikil itu sekuat tenaga. Dan mengenai seseorang.

“Mas, giliran anda untuk diwawancara. Anda melamar untuk pekerjaan ini, bukan?” tanya sebuah suara. “Sebaiknya anda bersiap karena masih banyak antrian pelamar lainnya yang bergiliran juga untuk diwawancara, anda sebaiknya bangun dan bersiap untuk…”

Untuk menghadapi kenyataan bahwa penulis yang anda impikan harus anda kubur selamanya diantara reruntuhan yang anda bangun sendiri selama ini. Di dunia nyata diri anda bukan dan tidak pernah menjadi apa-apa. Sambil masih sedikit pening karena apa yang baru dialaminya, dia masuk ke dalam sebuah ruangan.

Ketika dipersilahkan duduk dia berjumpa lagi dengan orang itu. Orang yang terkena kerikil tadi. Dia adalah sang pewawancara. Tapi bukan itu yang membuatnya beringsut dan membuat langkahnya terhentak untuk sesaat. Yang membuatnya terkejut adalah karena meja yang memisahkan antara dirinya dan sang pewawancara adalah meja tulisnya. Mirip sekali dengannya, dengan tempat biasa dia pergi. Dan kini meja itu seolah berpura-pura bahwa apa yang pernah dia lakukan bersamanya, setiap harinya, tidak pernah terjadi apa-apa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: