Google+

Di Perjalanan

Leave a comment

June 22, 2014 by willamnasution

FxCam_1318323514442

Mengabur segala pemandangan di tepi jalan. Yang jauh melapang, maupun yang dekat terbawa jarak. Matahari yang tinggi dan tergelincir. Birunya angkasa yang mengarung. Terang seperti matamu, senyummu, tingkah lakumu. Kita bertiga bertualang ke berantah yang antah, ke tanah yang kita tidak tahu. Dan kamu meloncat, bersorak. Berlari dan kembali, tak kenal lelah. Tidur dengan lelap, dimanapun bersama sepoi hembusan angin. Tak kenal paragraf, hanya cerita demi cerita, kisah demi kisah, yang kita sambungkan sendiri, yang kita telusuri, yang melesat seperti kereta api, yang berdengung lagi dan lagi pesawat di angkasa. Mobil-mobil yang begitu banyak jumlahnya.

Kita berusaha menjadi diri kita sendiri. Selalu begitu dimanapun juga. Sementara itu kita terus mencari dan menemukan siapa kita. Di tempat yang jauh itu kita lebih dekat lagi, sedekat ketika kita berada di rumah. Tidak pernah renggang, karena di dalam hati yang semerbak wangi  itu kita senantiasa erat berdekapan.

Aku senang kita selalu membagi waktu kita bersama. Diantara terlelap dan terjaga. Selalu kita bernafas dalam suatu ruang, udara yang sama yang kita hirup ke dalam paru-paru kita. Menyibak realita demi realita, bertemu dan berpisah, dan hal-hal yang kita lihat waras maupun tidak masuk akal.

Dan pemandangan di tepi jalan senantiasa mengabur. Di hadapan kita hanya ada jalan. Yang kita ikuti dan coba kita telusuri. Berharap dapat berjumpa dengan kalian lebih dalam lagi. Di taman, di setiap kelakuan, di setiap saat, di setiap senyuman yang tidak terlupakan.

Jangan salahkan aku, jangan salahkan waktu. Dunia berputar, hari demi hari bergulir, tidak hanya diantara aku dan kamu. Walaupun dengan begitu kita semakin dekat dengan bumi, semakin dekat dengan jantung hati. Waktu hanya terlepas sementara dari tanah untuk kembali merekah dalam segala panorama yang kita perlahan beri intensi. Dalam pupuk perhatian yang kita kira lebih berharga daripada sekedar hujan dan panas yang singgah.

Dan kita pulang, meskipun rumah adalah dimanapun kaki kita berjejak, bersama. Tamasya telah usai, mengantarkan jalan ke pintu yang kita lewati pertama kali. Namun cerita yang dikisahkannya terus berkembang, bercabang, menjalar, tambah tinggi.

Kita hanya berharap apa yang kita lakukan adalah benar. Adalah cukup, adalah pantas, dan berkilau. Bukan persoalan menang dan kalah. Bukan persoalan senang dan pasrah menyerah. Hanya saja dalam waktu itu jiwa kita bertebaran di sepanjang perjalanan. Jam demi jam yang berguguran diantara cuaca. Diantara jeda langkah dan keringat yang bercucuran.

Kebahagiaan adalah senantiasa bersama kalian apapun yang kita kerjakan. Dan kadang mendung membuat suhu udara turun, dan padam di wajah. Tapi kaki-kaki roda terus naik dan turun otomatis mengikuti gelombang jalan. Diterbangkan awan dari satu koordinat ke koordinat lain. Hanya untuk terus bersama. Menggapai puisi-puisi yang sepanjang hidup kita coba kita ungkapkan. Namun satu-satunya cara untuk membacanya adalah hanya dengan menjalani kehidupan ini apa adanya. Dengan tulus dan jernih, mengalir menuju samudra.

Dan semua perjuangan dan semua pengorbanan yang kita lakukan berbuah manis. Tidak hanya di bibir dari setiap botol minuman perasa yang kita beli. Tapi menjadi sebuah peta di dalam kalbu, sebuah geografi di dalam akal. Hidup kita kadang tidak masuk akal, tapi seperti ucapmu, hal itu tergantung akal siapa.

Genggam erat tanganmu. Sinar matahari yang meraja sepanjang hari. Malam-malam yang lelah, bintang-bintang tujuan impian. Segala pengalaman ini tak terbayarkan. Bersama kalian. Bersinar menggapai tapak dan jejak di dalam taman. Cerita-cerita itu tak akan pernah pudar. Mengisi tabula rasa labirin masa. Ketika kita diam maupun saling berbicara. Di sepanjang perjalanan pulang dan pergi.

Karena itu aku hidup. Untuk menyaksikan segala perjalanan kita bersama. Segala daya juang yang dikerahkan untuk senantiasa melangkah ke tujuan yang sama. Jalan yang mengantarkan kita. Sampai ataupun tidak, disanalah kita berada. Setidaknya aku senang kita sudah dan senantiasa akan berusaha. Tak tinggal sepi, tak tenang pikiran ombak-ombak yang berhamburan, ditepis pantai hanya untuk kembali memberikan kecupan. Kasih sayang luas yang tak terperikan. Memberatkan setiap kata. Makna yang berkilauan.

Hijau daun dan pepohonan. Rancangan dan segala tempat makan yang kita kunjungi. Petualangan itu belum usai sayang, jangan pernah lepaskan. Terus genggam dengan erat di dalam hati. Meloncat dan berlarianlah selalu. Tidur dimanapun, dan tanpa mengenal paragraf, semua cerita hidup kita akan berkialaun dengan segala senyummu, tingkah lakumu, sinar bola matamu. Semua hal yang tiada taranya itu. Tak ternilai harganya dalam waktu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: