Google+

Adegan Pagi Hari Di Dapur

Leave a comment

June 16, 2014 by willamnasution

FxCam_1341024776563

Kotak-kotak keramik meja dapur, kotak-kotak lantai. Kotak-kotak bingkai jendela, kotak-kotak gedung. Tumpukan cuci piring yang naik dan turun, menggunung. Dan ke dapur kita selalu kembali, mencari remah nasi, berpikir tapi berusaha untuk tidak memikirkannya, dengan apa hari ini nasi akan ditemani. Telor lagi, di dadar, di ceplok, di rebus, di scrambled. Baso dan sosis lagi, nugget, yang bentuknya setiap hari lebih dari bintang, lebih dari sekedar binatang. Yang justru jadi tidak ingin memakannya, malah ingin membuat sandiwara di atas meja dapur atau juga meja makan, mengobrol aku dan kamu. Kehidupan rumah tangga lewat nugget yang kita jadikan sandera sebagai tokoh-tokoh yang mencerminkan kita.

Pada istri saya bilang, tidakkah kita bisa menertawakan ini semua? Ketika kita tidak punya uang. Tidakkah kita bisa menganggap situasi ekonomi ini sebagai bahan becandaan seperti dulu kita pacaran?

Ya, menertawakan kemiskinan tidak akan membuat kita kaya. Kita harus bekerja lebih keras dan lebih cerdas lagi untuk mengumpulkan uang.

Tapi apa bedanya jika kita marah-marah dan emosi, membekukan udara freezer yang keluar dari kulkas hanya untuk membuat sunyi dapur kita? Itu juga tidak akan membuat kita bertambah kaya.

Ingin telor dimasak seperti apa pagi ini tuan? Ah, puan masih adakah barisan telor di dalam lemari pendingin kita? Dari ayam mana dia datang, anak siapa dia, dan siapa bapaknya. Mengapa semua telor rasanya sama?

Ini, hal ini yang aku tidak suka darimu. Istri saya melotot, tapi kemudian membuang pandangannya.

Apa? apa sayang?

Kamu suka mengalihkan pembicaraan.

Saya tidak membicarakan apa-apa, tapi sebaliknya saya sedang membicarakan segalanya. Kotak-kotak baju dastermu, mencoba menggapai, mencari garis untuk kemudian berkamuflase dengan dinding dapur, dengan lantai, dengan jendela dan bangunan.

Bisakah segala ini kita jalani dengan tidak terlalu serius?

Apakah kamu tidak serius menikahi aku?

Mengapa kamu berkata begitu?

Mengapa obrolan kita pagi ini semua berakhir tanda tanya, dan tidak ada satupun yang menjawabnya?

Saya hanya rindu ketika dulu kita pertama kali mengontrak rumah kita ini. Betapa kita seringkali tertawa di dapur, sambil memasak, sambil membasuh segala lemak dari piring, sambil mencuci tangan bersama, sambil mengepel, sambil duduk dan saling menatap mesra. Apapun menu makanannya. Apapun, bahkan jika kita tidak tahu akan makan apa kita nanti malam.

Aku bosan begitu terus. Istriku.

Jadi, kamu bosan kalau aku miskin terus? Kamu ingin aku punya banyak uang? Itukah alasan cemberutmu pagi ini wahai mendung yang menyumputkan sinar matahari?

Kamu ingin aku merampok, kamu ingin aku mencari nafkah yang tidak halal, kamu ingin aku menjambret, kamu ingin aku korupsi, atau kamu ingin kita mulai punya kartu kredit dan membangun semua fondasi perekonomian keluarga ini dengan hutang?

Istri saya menunduk. Dalam hatinya sekerjap pikiran melintas seandainya saja dia bisa menjawa segala pertanyaan itu dengan iya. Kamu tidak lucu?! Ketusnya.

Saya memang tidak sedang berusaha untuk melucu. Saya hanya ingin tidak terlalu serius. Saya hanya ingin kita bisa kembali seperti dulu ketika kita bisa menertawakan segala ketidakpunyaan kita. Segala nasib keseharian yang menghempaskan kita, yang membuat kita berpikir betapa beruntungnya orang-orang, dan kita pun berusaha mengais segala kekayaan yang kita miliki meski tidak bisa dirupiahkan. Kita bersama, kamu dan aku, disini, diantara udara yang menjedakan kita ini, itu kan kekayan kita, sayang?

Aku hanya ingin perubahan. Mau sampai kapan kita hidup seperti ini terus?

Dan pertanyaan itu memanjang ke setiap kotak keramik di meja dapur, ke setiap kotak lantai, ke setiap kotak jendela, ke setiap kotak rumah-rumah sepanjang jalan, keluar kompleks, ke tengah kota, dan kembali lagi, ke telinga.

Katel yang sudah gosong pantatnya, spatula yang sudah hitam bibirnya, gelas yang terlungkup, piring yang tiarap, tetes air di pancuran cuci piring, airnya yang tak terlihat masih berpusar terserap diantara sisa makanan di pembuangan. Diam memalingkan muka.

Saya berusaha melihat lekat-lekat istri saya, tapi dia tidak mau membalasanya. Kemana senyuman manis pelita yang senantiasa hangatkan saya di setiap paginya?

Kamu tahu kan setiap hari aku bekerja keras untuk semua ini. Untuk kontrakan ini dan semua batas geografi yang berusaha kita penuhi di setiap petak kotak yang ada di rumah ini?

Keras? Keras kamu bilang? Kamu sendiri bilang kalau di kantor kerja kamu cuma luntang-lantung dan baca koran.

Kan aku sudah bilang dari dulu, kalau pekerjaan di kantor tidak menentu. Kamu ingin saya korupsi apa? Kan, aku sudah bilang kalau kamu ingin kaya jangan menikah denganku, nikahi saja mantan-mantan kamu yang dulu, yang sekarang sudah pada sukses itu.

Kamu. Kamu yang ingin menikahi saya, kamu yang mengajak, merayu, mencium duluan, dan memeluk aku, dan berkata tidak bisa hidup denganku. Kamu, mas, itu semua kamu yang bilang, kamu yang pingin, bukan aku.

Jadi, maksud kamu apa, sayang, istriku? Ya, saya memang cinta kamu dan ingin hidup bersamamu. Tapi maaf jika beberapa tahun kebelakang ini kondisi ekonomi kita ini hanya seperti inilah adanya. Kamu yang sabar ya, doakan saya supaya bisa naik gaji, supaya dapat bonus, supaya bisa punya banyak uang. Nah, sekarang bisakah kita menertawakan ini semua?

Senyum kamu, istriku. Berkembangnya senyummu dan delikan mata yang mencercahkan cahaya, percayalah, itulah kekayaanku yang sebenarnya. Tak ternilah harganya. Maukah kamu tersenyum lagi untukku, untuk hari ini dan segala hari kelam yang akan kita lewati?

Dia mengangguk. Meminta maaf. Meskipun sebenarnya mendung di luar tidak sepenuhnya tersingkap. Saya yang seharusnya minta maaf membuatmu melarat. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menjalaninya dari hari ke hari, dari barisan telor ke barisan telor berikutnya. Mungkin kali ini bisa kita tambahkan cabai dan bawang daun, mungkin bisa juga kita masukan kornet. Atau banyak variasi menu telor lain yang mungkin kita tidak ketahui eksis di dunia ini.

Tapi ke dapur kita selalu kembali. Melintasi kotak demi kotak keramik dapur dan lantai, melewati kotak jendela dan bangunan. Untuk menjadi apa? Masa depan yang lebih baik seperti apa? Sekaya apa? atau malah terus jatuh miskin, saya tidak tahu juga sebenarnya.

Maafkan saya yang membawamu dalam perjalanan ini. Tapi rasa-rasanya berdua kita bisa lewati semua. Yang perlu kita lakukan hanyalah berjalan, dan berharap, menggantungkan leher, diri, baju basah pada jemuran, pada harapan. Uang sebanyak apapun bisa habis dalam semalam. Tapi kehidupan kita yang selalu kita bagi setiap harinya, senyumanmu yang begitu memesona tak akan pernah ada habisnya.

Ya, saya melantur lagi. Ya kemiskinan ini tidak lucu. Tapi cemberut dan marah-marah di pagi hari tidak akan mengisi piring kita dengan sushi atau pizza atau steak yang selalu ingin kita nikmati. Jadi, maukah dirimu memberikan senyum padaku untuk terakhir kalinya sebelum aku pergi ke kantor?

Kukecup keningmu dan kuucapkan salam. Dan istri saya kembali ke dapur. Mencuci piring, yang naik turun, menggunung. Tertunduk, ingin menertawakan, tapi nasib yang berkepanjangan meninggalkan mendung.

Ketika keluar rumah saya tengadah. Awan kelabu, lapang, tak berujung. Tak bisa tertawa, tapi setidaknya saya sedikit bisa bernafas lega. Kemudian sama sepertinya saya melangkah dengan tertunduk pula. Bertanya seperti juga berjuta pertanyaan yang sama tapi hampir tak serupa, seperti hujan yang bercucuran kemudian menenggelamkan. Sampai kapan kita akan terus dilanda dalam kemiskinan?

Pertanyaan demi pertanyaan. Hanya itu yang saya miliki. Tak pernah bertemu jawaban. Tidak juga hingga hari ini. Berat hati harus melewati adegan yang sama berulang kali di dapur. Tempat kita kembali. Tapi langkah harus tetap tegak mengayun. Bagaimanapun juga. Semua harus kita jalani, melebur bersama kehidupan kota, peradaban dunia. Menuju kantor. Menuju entah kemana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: