Google+

Sinaran

Leave a comment

June 9, 2014 by willamnasution

IMG_0757

Masih lagi teringat di lapangan terbuka di bibir landasan, diantara kerumunan orang, untuk pertama kalinya hari itu Sinaran melihat orang yang terjun payung. Ketika saya jongkok untuk menunjukan itu padanya, dia diam tercenung, tengadah mengernyitkan dahinya dengan mulut sedikit terbuka. Selama ini dia pikir balon yang ada di udara biasanya terbang ke atas, tapi entah mengapa kali ini, sejak hari itu, balon di udara dapat perlahan terombang-ambing, mengayun, perlahan mengendap turun ke bawah.

Wajahnya heran begitu lucu, Sinaran masih kecil waktu itu. Dan sejak dulu ketika pensaran wajahnya selalu begitu, tidak pernah berubah. Sinar matanya, menyorot bulat dan terang, ekspresi kebingungannya tetap saja menawan. Mengundang mekar senyuman orang yang ada di dekatnya, untuk menjelaskan atau sekedar mengatakan bahwa tidak ada yang salah dan semua akan baik-baik saja.

Tahun demi tahun berselang, Sinaran kini sudah hampir selesai kuliah, dan cerita yang dulu kami biasa bagi dari hari ke hari, minggu ke minggu, bergulung bersama waktu. Tanpa terasa. Dan satu-satunya yang tinggal, yang dia selalu sematkan pada saya, meskipun pangkat dan jabatan terus berubah, hanyalah sekedar menjadi ayah.

Bagai musim yang berganti yang disadari atau tidak itu semua dipengaruhi oleh matahari. Dari dulu Sinaran tidak hanya senang pada balon, tapi dia juga senang dengan semua hal yang ada di angkasa. Apabila dia menerawang ke birunya langit ataupun ketika dia sedang menutup matanya dan melihat ke dalam batinnya, adalah benda-benda angkasa yang sama yang dia lihat di pelupuk matanya.

Bintang di kala malam juga berbagai bentuk bulan bagai piring yang ditelan kelam, matahari yang dia ucapkan selamat datang dan selamat tinggal setiap pagi dan senja, dan juga awan-awan yang dalam benaknya tidak pernah berhenti mengembara.

Terlepas dari itu, ibunya bilang, bagaimana tidak Sinaran tidak menyukai itu semua, karena hampir setiap waktu ayahnya bekerja dibalik kemudi pesawat terbang. Itulah mengapa, menurut ibunya, Sinaran selalu senang dengan benda-benda angkasa. Karena mereka semua adalah sahabat-sahabat yang selalu menemani ayahnya.

Sejak kecil dia selalu tahu darimana datangnya arah pesawat. Dari jauh bahkan sebelum saya atau orang-orang yang dekat dengannya bahkan dapat mendengar gemuruhnya, dia akan menunjuk ke angkasa dan menyahut. Kami semua tidak percaya pada awalnya, tapi tidak sekalipun dia pernah luput. Mungkin awalnya itu hanya sebuah imajinasi, tapi lamat-lamat menjadi sebuah intuisi.

Semua berawal dari sebuah fantasi bahwa suatu hari dikala dia bosan, ayahnya akan datang dan mendaratkan pesawat yang dikendarainya tepat di depan jendela kamarnya. Dan dengan segera dia dapat berlarian menjemput, menunggu pintu pesawat terbuka sebelum berhamburan untuk memeluknya.

Suatu malam sebelum tidur dia pernah menceritakan itu semua pada saya. Dan ketika saya bilang padanya bahwa ayah ada tugas dan tidak akan bertemu dengannya esok pagi, dia pun kemudian tersenyum. Senyum yang menyentuh batin yang paling dalam, yang selalu mengantarkan dan tidak pernah berubah sejak dulu. Tidak sejak pertama kali saya mendengar tangisannya, sejak pertama kali dia mengulas senyum di bibirnya, atau ketika berbalik melambaikan tangan ketika masuk sekolah untuk kali pertama, atau juga ketika dia diterima di universitas pilihannya. Adalah senyum itu, saya ceritakan padanya, berulang kali, seperti dedaunan yang tidak berhenti berguguran di depan halaman rumah kami, yang selalu ada di pelupuk mata ayahnya setiap kali mengudara.

Tahun demi tahun berlalu, dan itu semua dapat terlintas dalam angan hanya dalam sekejap mata. Di pagi hari Sinaran tidak mendapat kabar dari ayahnya tengah di bandara mana dia berada. Jadwal yang begitu semrawut dan kesibukannya sendiri yang sedang dia jalani, itu semua membuatnya tidak dapat mengikuti kecepatan ribuan kilometer yang dikeluarkan oleh tenaga mesin jet pesawat.

Ayah belum melihat kamu wisuda, belum melihat kamu menikah, belum melihat kamu menimang anakmu yang tentunya akan begitu lucu, yang memiliki bola matamu, yang akan kita ajak berlarian dan bermain di bibir lapangan terbang tanpa ketahuan oleh petugas keamanan. Persis seperti kamu dulu.

Tapi percayalah Sinaran, meskipun segenap waktu itu belum lagi terlewati olehmu juga olehku, aku dapat melihat sinar kebahagian itu. Bahwa dirimu akan baik-baik saja, akan tentram dan bahagia. Putri kecilku yang jelita tiada tara. Dan kamu akan baik-baik saja.

Kamu tahu bahwa bagi ayah tidak ada akhir yang paling manis selain masa yang usai di tempat awal kita memula. Di tempat ayah mengetahui mengapa ayah perlu ada di dunia. Kamu adalah salah satu alasannya, dan tanpa perlu lagi ayah ceritakan padamu kamu bisa melihat berbagai benda angkasa itu di dalam setiap pertemuan kita. Betapa mega dan tetap saja memukau kita.

Sinaran, ayah tidak akan membuat ini menjadi sulit. Tapi esok pagi ketika kamu terbangun kamu tidak akan bertemu lagi dengan ayah. Tidak di kamarmu, di meja makan atau di teras depan tempat ayah biasa membaca koran. Kamu harus genggam itu semua, semua gulungan waktu puluhan tahun yang kita bagi bersama. Dan retas kembali untuk hidupmu di kemudian hari. Detik demi detik kebahagiaan yang telah dialirkan ke dalam masa. Ketika kita berbincang, berdiri berdampingan atau duduk bersama, dan seluruh waktu yang kita bagi bersama. Kamu harus melanjutkan itu semua.

Ayah hanya ingin kamu tahu bahwa ibumu adalah pelita itu, cerita kita bersama adalah bintang-bintang itu, angkasa luas adalah hidup kita, dan awan-awan yang mengembara adalah tempat bernaungnya kisah kita selanjutnya. Sementara itu dirimu, hatimu, tidak pernah sedetikpun meleset dari arah radar yang terus ayah pantau selama penerbangan. Dirimu adalah arah di belahan penjuru dunia manapun ayah berada, degup yang senantiasa membuat ayah pulang.

Ayah tidak sedih Sinaran, tapi ayah bangga denganmu dan dengan kehidupan kita semua. Ayah bahagia dapat memiliki anak perempuan sepertimu. Dapat mengenalmu di dunia. Kamu tidak akan pernah kehilangan ayah, karena ayah tahu yang perlu kamu lakukan hanyalah tengadah, melihat ke angkasa. Siang ataupun malam. Kamu selalu tahu darimana arah pesawat terbang datang, sekalipun tidak ada yang mengetahuinya selain dirimu.

Ayah tidak tersiksa atau menderita, tapi ayah tersenyum. Sesaat sebelum ayah lepas landas untuk terakhir kalinya, ayah teringat pengalaman kita pertama kalinya ketika kamu melihat orang yang terjun payung. Kamu bingung, mata bulat dan mulut ternganga, begitu lucunya. Dan jika nanti kamu sudah mendapat kabar dari ayah bahwa ayah tidak pernah mendarat dengan selamat, ayah tahu wajah itulah yang akan ayah lihat. Paras yang tidak pernah berubah kejelitaannya sepanjang masa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: