Google+

Tupai Yang Pulang

Leave a comment

May 22, 2014 by willamnasution

DSC03317

Setelah sepuluh tahun lebih bekerja dan diberi penghargaan oleh perusahaannya Gunadi Rohiman Kurnia menyadari bahwa itu adalah bukan hal yang ingin dikerjakannya. Dia bukan dilahirkan untuk itu, dia merasa. Dan dalam upacara yang dilaksanakan untuk pemberian penghargaannya itupun air matanya berjatuhan. Tapi itu bukan karena dia terharu, bukan karena tersanjung dan merasa begitu dihargai. Melainkan dia merasa kesepian. Alam bawah sadarnya baru saja mengetuk kenyataan lalu merangsek, seperti banjir air bah yang sekuat tenaga dia tahan. Bahwa sepuluh tahun sudah yang dia lakukan sebenarnya hanyalah menjadi hantu.

Kata sambutan, tepukan bahu, jabatan tangan, namanya yang dielu-elukan tidak membuatnya tersenyum. Ketika upacara usai dan kemudian rekan kerjanya berusaha mengerumuninya untuk itu semua, seketika dia pun pingsan. Gunadi Rohiman Kurnia yang lunglai langsung dilarikan ke rumah sakit, dan sepulang dari sana dia bertekad untuk menjadi seseorang yang baru. Seseorang yang selama ini dia takuti untuk menjadi, yang dia sembunyikan jauh, jauh di lubuk hati. Menggapai impiannya untuk menjadi seorang penyanyi.

Pikirannya berkecamuk, batinnya menyeruak, mengoyak-ngoyak kepercayaan dirinya. Karir yang tahun demi tahun dia bina, jabatan yang dia kejar dan dia rencanakan dengan seksama. Segala harta kekayaan dari kerja keras, dan kolega juga jaringan yang selama ini telah direntangkan dan dijalin begitu rupa. Ternyata bukan itu, bukan itu yang jiwanya inginkan. Bukan itu dahaga akan menjadi seseorang yang selama ini dia cari dan dia temui. Maka dari itu berlapis rasa pahit di tenggorakan, bahwa sesungguhnya dia semakin benci melihat dirinya sendiri di cermin, setiap pagi.

Karenanya ketika dia mandi, dia berusaha untuk mencopot hidungnya, dia coba untuk memukul jantungnya agar berdegup dengan detak yang berbeda. Dia potong dan pangkas lagi rambutnya sendiri, menjadi pendek. Dan kemudian dia bentuk kembali sudut matanya. Dia gosok daun kupingnya. Gunadi Rohiman Kurnia tidak menyangka bahwa sepuluh tahun sudah dia tidak menjejakan kakinya. Dia ingin mengakhiri teror ini. Teror yang selama ini bagai hantu yang gentayangan yang membangunkan tidurnya di tengah malam.

Apa yang paling dia takutkan tentu saja kegagalan. Dia tidak tahu darimana untuk memulai dan kemana ujung perjuangannya itu akan menujur. Tidak ada uang pensiun ataupun jaminan akan hasrat terpendamnya untuk mewujud, muncul ke permukaan, dan bersinar. Selamanya dia pikir dia akan menjadi pegawai. Tapi keringat basah di malam sebelum dia mendapatkan penghargaan itu begitu mencekam.

Dia pikir dia telah membohongi semua orang. Semua karyawan yang duduk di bawahnya maupun di kursi atasnya. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk menyelam. Tapi seiring dia masuk lebih dalam, tekanan dari bawah meluncurkannya ke atas dengan segera, bergelegap. Dia sudah tidak tahan. Dalam hatinya dia menjerit tanpa suara.

Di rumah sakit dia tergeletak bangun dari sadar. Dia ingin lari sekencang-kencangnya. Lari kencang dari kehidupannya. Dia ingin mengulang waktu dan berandai jika saja dia lebih berani dulu. Tapi iming-iming kenaikan gaji, kekhawatiran nasi yang tidak akan terbeli, membuatnya terus terhuyung di dalam pusaran untuk senantiasa bekerja dan menjadi seseorang yang jauh dari dirinya. Menjadi anak emas perusahaan yang menggajinya.

Dan hidungnya dia copot, jantungnya dia pukul, sudut matanya dia tarik, rambutnya dia potong cepak, kupingnya dia gosok. Dia tidak tega menyatakan itu semua pada dunia. Dia takut dirinya tidak akan diterima. Dibilang pengkhianat, dicap jalang dan tidak bertanggung jawab. Karena sesungguhnya, menurutnya sendiri, suaranya juga tidak bagus-bagus amat.

Tapi itulah yang dia kehendaki untuk menjadi. Pagi ini sepuluh tahun yang lalu dia pergi dari rumah kemudian terhempas, dan tetap saja mengambang di samudra bergantung pada pelampungnya. Tapi kini setelah dia diberi penghargaan atas jasa dan pengabdiannya terhadap perusahaan, pelampung itu seolah menyeretnya ke sebuah tempat yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Tempat dimana dia pertama kali tercebur dan memulainya.

Di atas ranjang rumah sakit dia tidak sanggup menahan semua tekanan itu. Pikirannya limbung dan lututnya gemetar setiap kali dia membayangkan dirinya harus berhenti bekerja. Gunadi Rohiman Kurnia selama ini, tanpa dirinya sendiri sadari, menjadi seorang yang pemarah. Dan anak-anaknya merasa terancam ketika berada dekat dengannya. Begitu juga dengan istrinya, tapi dia menganggap itu adalah karena persoalan kerja yang dihadapainya.

Setiap hari dia semakin menjadi orang yang tidak dia sukai seumur hidupnya. Menjadi tidak ramah, tidak mudah tersenyum, pulang malam, dan tidak peduli pada setiap detil kejadian yang terjadi di dapur, di ruang makan, di depan TV dan seterusnya. Yang dia perlu lakukan adalah bersikeras bahwa dia harus berjuang dengan pekerjaannya. Tidak ada yang bisa membebaskan pikiran dari logika bahwa fondasi dari roda pergerakan anak-anak dan istrinya adalah uang di saku, uang di tabungan, dan uang dan uang dan uang untuk membiayai segala.

Karenanya Kurnia Rohiman Gunadi sekedar menjadi robot pencetak uang. Tapi sepuluh tahun berlalu membuat robot itu rapuh, mesin itu angus, dan tanpa dia sadari sebagai Rohiman Gunadi Kurnia atau siapapun namanya, dia tidak menyangka bahwa langit dapat runtuh.

Rasa takut itu begitu besar menganga, seperti lubang di atas kertas yang terbakar, yang menjauhkan dirinya dari kalbunya sendiri. Dari cahaya. Dia pikir dia telah berbuat yang benar, tapi jiwanya terus saja menyiksa. Anak-anak dan istrinya sayang padanya, bangga padanya, bukan pada pekerjaannya, tapi oh-tentu saja pada pekerjaanya, walaupun begitu mereka akan lebih senang jika dapat melihat ayahnya pulang dari kerja dengan senyuman. Bukan bentakan, semprotan, ataupun robot terprogram yang seolah mirip dengan ayah yang pernah mereka kenal dulu. Sepuluh tahun yang lalu.

Rohiman Gunadi Kurnia terkulai di atas ranjang rumah sakit menatap jendela. Menatap cahaya pagi yang merembes dan menghantarkan kehangatan. Terbayang akan orang tua dan kakak juga adiknya, sepupu dan juga keponakannya. Dia sudah lupa dengan itu semua. Mereka yang menjenguknya. Yang dia lakukan hanyalah berkunjung saat Lebaran, dan kembali meceburkan diri kedalam kesibukan.

Membeli rumah, membeli mobil, membeli kulkas, sofa baru, dan segala peralatan rumah tangga. Tapi jauh di lubuk hatinya dia tidak bahagia, dia tidak bangga dengan dirinya ataupun itu semua.

Dan diantara mereka semua, bayangan dari masa lalu yang muncul pagi itu, tidak ada satupun yang mengetahui apa yang sebenarnya dia inginkan. Pernah dulu sekali waktu kecil dia menyanyi di depan semua, tapi dia ditertawakan karena suaranya yang sumbang. Setelah itu tidak pernah lagi. Padahal yang dia inginkan hanyalah menjadi penyanyi. Dia ingin bernyanyi pagi, siang dan malam. Dibayar atau tidak, tidak menjadi persoalan. Tapi itulah yang membuat hatinya berkembang. Membawanya terbang menuju ke awang-awang.

Seiring berjalannya waktu dia semakin menjadi penakut, ciut, dengan segala hal yang mega yang harus dia tata ulang dan informasikan pada seluruh dunia. Dia takut, dia kecil, dia kentut yang hanya akan jadi bahan olok-olokan. Kurniawan Gunadisan Rohimyay, dia akan mengganti namanya. Dirinya bahkan tidak peduli lagi dengannya. Dia yang tidak pernah ada waktu bahkan untuk bernyanyi di kamar mandi. Sekalipun di hari Minggu.

Semakin lama terjaga dari pingsannya dan tidak pernah terjadi sebelumnya di lorong rumah sakit itu seorang pasien berlari, bukan karena dia tidak boleh berlari, tapi baju pasiennya yang memperlihatkan bagian pantatnya ke seluruh rumah sakit itu dapat menganggu ketenangan setiap pasien yang melihatnya.

Dia berlari entah kemana. Berkelibat dalam benak para suster pasien kabur yang belum bayar. Tidak makan obat-obatan yang nantinya akan dimarahi oleh atasannya. Para suster itu akan dimarahi oleh para dokter, dan nanti akan diberitakan sebagai malpraktek atau ketidakbecusan pekerjaan sehingga mereka akan kehilangan pekerjaannya.

Tapi Rohadi Gunawan Sukmayanto atau siapapun itu tetap berlari dan semakin banyak perawat baik yang perempuan maupun yang laki-laki mengejarnya. Maka wajahnya pun kian berseri.

Dia berlari hingga ke luar rumah sakit, hingga ke jalan raya. Dan tukang parkir, juga tukang jualan yang terkejut melihatnya ikut bergegas mengejarnya. Khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada pasien itu, tertabrak atau melarikan diri. Selain itu mereka juga ingin dianggap berjasa dan memberikan kontribusi.

Ruhadi Gunawan Karmayanto berlari kembali melintasi lapang parkir. Dari kejauhan keluarganya baru saja keluar dari mobil dan melihat kerumunan itu. Mereka pikir ada orang gila yang kabur. Tapi langkah mereka tertahan, ada sebuah pemandangan yang menancap di kejauhan memaku mereka untuk terus memerhatikan.

Ibunya tadinya memanggil mereka satu-satu dengan nama. Ruhai Gunawan Karyanti, Mudahlaisan Hanafi Jugaro, Makando Ribuan Sungtai Kulimah, Babai Yutano Jugapo, Kewing Hariman Lambaor Gunadi, siapapun juga kalian, ayo kita jenguk ayah.

Tapi yang terkecil dari mereka adalah yang pertama menyadari, disanalah ayah. Dia menunjukkan tangannya tanpa berpaling atau bicara pada ibunya. Dan semua mata terbelalak, tapi anak-anak itu begitu senang melihat ayahnya yang telanjang belakangnya berkejaran dengan begitu banyak orang. Berlarian seperti orang gila, tapi seolah telah menemukan dirinya sendiri. Itulah dia tertawa dan berseri, sebuah pemandangan yang sudah sepuluh tahun ini tidak pernah mereka lihat kembali.

Mereka pun berseru dan melambaikan tangan, ayah!

Melihat itu Gunadi Rohiman Kurnia bergegas berlari mendekati mereka. Dengan lihai menghindar dari gapaian para perawat, sekuriti, juga yang lainnya. Membuat mereka seolah seperti badut sirkus yang mengejar tupai yang luput dari genggaman.

Gunadi Rohiman Kurnia berlari menuju keluarganya seolah dirinya tidak pernah berlari untuk menyambut mereka, anak–anak dan istrinya. Dan mereka pun bersorak sorai menyambut kedatangannya, mereka memuji ketangkasan ayahnya. Terkecuali istrinya yang sejak tadi hanya ternganga.

Begitu sampai maka seketika itu juga Gunadi Rohiman Kurnia berhamburan memeluk anak-anaknya. Dan sekilas dunia berada dalam gerak lambat ketika dia mengangkat mereka semua, dia dapat melihat satu per satu senyuman mereka yang begitu terang, yang selama ini sudah menghilang, dan membuatnya begitu bahagia. Dan dia pun merasa melebur kedalam rasa yang tak terkalahkan, dan dia merasa tidak akan ada yang dapat menghalanginya. Senyuman mereka itu adalah kurnia adalah tenaga adalah harta berlimpah yang luar biasa. Dan sepuluh tahun sudah dia telah menyia-nyiakan itu semua.

Disaat cahaya itu membasuhnya maka dirinya pun tertangkap. Usaha terakhir yang dia lakukan adalah meloncat naik ke atas kap mobil, lalu meloncat kembali ke atapnya. Ayah gila, kata salah seorang anaknya dengan bangga. Ya, dia hebat, kata yang lain. Aku akan menceritakan ini semua pada teman-temanku. Mengapa ayah lari ya? Tidak tahu, jawab yang satu. Dia mungkin takut disuntik. Tapi lihat, betapa dia bisa melarikan diri seperti itu. Obrolan anak-anak itu, tidak juga membuat sadar ibunya. Istrinya berdiri seperti patung dengan mulut terbuka.

Keesokan harinya Gunadi Rohiman Kurnia dipecat dari pekerjaanya. Dianggap tidak lagi waras dan setelah itu kerjaannya hanya bernyanyi. Istrinya pingsan. Gunadi tersenyum dan sekali lagi dia memeluk anak-anaknya yang selama ini dia rindukan. Untuk merekalah dia kira sepuluh tahun sudah pelampung itu diketemukan diantara samudara ketidaktahuan. Di jalan yang jelas tidak semua orang dilahirkan, dia ingin keluar dari sana dan sekedar menjadi dirinya. Tidak ada lagi hantu, bukan lagi robot, dia hanyalah Gunadi Rohiman Kurnia.

Anak-anaknya begitu bahagia, dan mereka meminta ayahnya untuk terus bernyanyi. Istrinya sakit, satu dua hari, tiga empat hari. Tapi di hari kelima dia tersadar dan berusaha bernyanyi dengan suaminya. Yang baru istrinya sadari adalah bahwa lagu itu adalah lagu terakhir yang pernah dinyanyikan oleh suaminya dulu. Dan itu mungkin sudah hampir atau bahkan lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Ketika itupun dia ingat kenapa dia pernah jatuh hati padanya. Kali ini dia telah pulang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: