Google+

Orhan

Leave a comment

April 5, 2014 by willamnasution

FxCam_1350985057446

Terima kasih Orhan, baik sekali kamu mau menraktir aku sebotol bir. Meski aku tidak minum bir tapi semalam rasanya tiada beda seperti air. Dan, dalam mimpi itu aku bisa pergi ke Turki dan nongkrong bersamamu. Beruntung aku pernah mendengar suaramu. Dan wajah penulismu yang sayu, tersenyum, menikmati genggaman tanganmu akan sebuah buku. Menerawang sambil membenarkan rambutmu. Kamu sungguh telah berhasil. Berjam-jam setiap harinya mengunci dirimu di sebuah kantor yang isinya hanya dirimu sendiri. Menatap lanskap kota, menjalin kata-kata.

Terima kasih Orhan, ketika pagi menjadi aku tetap tidak lupa. Kamu yang begitu sayang pada ibumu. Kamu yang sejak kecil sudah pintar, bisa berbahasa Inggris dan Prancis. Tidak heran jika kamu juga seorang profesor yang diminati banyak murid.

Kamu tidak pernah belajar seni, tapi kamu mengamatinya melalui buku-buku. Kamu bilang seperti Sartre bilang seorang penulis haruslah pandai belajar secara otodidak. Sartre pernah dipenjara dan menulis trilogi novel. Tapi kamu tidak. Penjaramu hanyalah kata-kata. Dan setiap hari kamu mengamatinya seperti seni, memenjarakan dirimu di kantormu, jendelamu.

Tapi Orhan, aku tidak punya kantor. Dan kata-kata bukan seni bagiku. Aku tidak pintar sejak kecil, bahasa Inggris dan Prancisku hanya pas-pasan. Aku payah dalam menulis meski semalam aku bisa duduk berdua denganmu. Mendengar suaramu lagi dan melihat sungging senyummu.

Bukumu sudah diterbitkan kedalam puluhan bahasa, aku

Menerbitkan fiksi untuk mengisi pagi saja aku seperti mendaki Himalaya. Menerjemahkan bahasa di dalam kalbuku saja aku setengah mati harus berlama-lama. Tapi sekali lagi, terima kasih untuk birnya, Orhan.

Mungkin lain kali aku akan bermimpi kamu yang datang ke Bandung. Nongkrong bersama dengan senjakala yang sederhana. Kamu akan aku traktir bir. Meski mungkin rasanya tidak akan sama seperti air. Aku bukan siapa-siapa, Orhan. Hanya penulis yang tak tentu masa depan. Salam dariku beribu kilometer jauhnya darimu. Kamu mungkin belum terjaga sekarang.

Tapi aku yakin ketika kamu sampai di kantor nanti jauh di lubuk hatimu ada diriku dalam dirimu. Kamu mungkin tidak betul-betul mengenalku selain hanya sebuah bayangan samar. Tapi diantara lamunan panjang jendelamu itu, kamu tahu di dalam batin bahwa di suatu tempat dulu kamu benar-benar mengenalku. Bahasa kita berbeda Orhan. Walaupun begitu hal tersebut tidak membuatmu untuk tidak datang ke dalam mimpiku.

Karena seperti kamu tahu kata-kata itu adalah penjara, dan seumur hidupnya seorang penulis hanya bisa hidup di dalamnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang Paling Banyak Dibaca

Arsip

%d bloggers like this: