Google+

Toko Buku Tua

Leave a comment

March 27, 2014 by willamnasution

0702d0b0dff8699d6d8457d7b6385331

Di hari itu Coldplay terdengar seperti Bon Iver dan The Cure terdengar seperti New Order yang bermain tanpa mood. Kamu sekonyong-konyong hadir. Seperti ketika di sebuah toko buku tua tiba-tiba saja kamu tersandung sebuah buku yang kamu inginkan sejak lama, tapi sebelumnya kamu bahkan tidak tahu bahwa buku itu ada. Kamu muncul seperti sihir.

Toko buku tua itu menyimpan banyak tumpukan buku yang lapuk. Kamu bisa menciumnya di udara, bercampur debu. Tapi kamu menganggapnya seperti harta karun. Selalu saja ada sesuatu yang bisa kamu temukan disana. Agak kejam memang mereka menyandera semua kata itu termakan waktu. Tapi kamu sungguh senang berada disana. Sepi diantara belantara kata. Beku.

Tapi tidak dengan hatimu.

Seperti itu jugalah kiranya ketika kamu menemukan diriku. Aku lapuk dan layu, tapi kamu ingin membawanya pulang seperti sebuah buku. Membacanya dari waktu ke waktu. Kamu ingin tahu lebih banyak tentang diriku. Diriku yang tak pernah kuanggap menarik ataupun cemerlang.

Kamu tidak pernah mengatakannya langsung, tapi kamu suka ketika aku tersenyum. Matamu berpijar dan bibirmu pun mengembang. Aku yang selalu murung dan kota dalam jiwaku yang selalu mendung. Aku tahu kamu berbohong ketika kamu bilang aku penulis berbakat. Tapi kadang aku lebih suka dibohongi ketimbang ditindas kenyataan yang seringkali terasa menyakitkan.

Ah, lagipula seluruh dunia ini isinya hanya kebohongan. Kita tidak hidup, tapi mati. Kita tidak bekerja untuk diri sendiri, tapi untuk uang dan orang lain. Kita tidak bermimpi melainkan hanya dijejali berbagai macam pikiran. Kita tidak unik dan berbeda melainkan hanya dikelompok-kelompokan dalam neraca.

Yang lebih gilanya lagi ketika aku melantur kamu dengan seksama mendengarkan itu semua. Kamu memandang aku seperti pahlawan. Padahal sesungguhnya aku bilang padamu jika aku bisa hidup mapan aku akan memilih untuk mapan. Hanya saja kenyataannya aku hanya seorang penulis amatiran, bajingan, miskin, tidak tahu etika dan dengan gagahnya bersembunyi dibalik kata-kata manis, sebuah semboyan berbunyi: Seniman. Revolusioner. Antikemapanan.

Percayalah hanya kebetulan saja kamu sekarang sedang senang membaca buku. Besok-besok kamu akan kembali dengan segala macam gadget mahalmu. Miskin bukanlah tren terbaru. Besok-besok kamu akan malu kenal denganku. Kamu bilang setidaknya dirimu bisa menjadi salah satu tokoh fiksiku. Tapi aku bilang padamu bahwa kamu adalah tokoh betulan. Kamu itu betulan, cantik!

Aku datang dari tempat yang kotor dan keji. Tempat yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya dimana banyak orang mau membunuh hanya untuk beberapa nominal angka. Menjadi penulis bukanlah pilihan hidupku diantara lapangan luas tempat anak-anak orang kaya bisa memilih jalan setapak. Aku begini karena terpaksa. Tidak ada pendidikan lain yang bisa memberikanku keahlian. Bangku sekolah hanya meninggalkan jejak menulis dalam hidupku. Dan itulah yang aku lakukan.

Tapi semakin murung diriku, semakin mendung dan berkabut malam-malamku, kamu malah semakin tertarik padaku. Ya, musik yang kamu dengarkan memang mainstream. Coldplay, Bon Iver, The Cure, New Order, semua sekarang dimainkan jadi latar-latar lagu fim drama percintaan. Indie sudah menjadi mainstream sekarang. Tidak ada lagi yang bisa aku keluhkan.

Maka dari itu aku sudah lepaskan sejak lama cita-citaku menjadi pemusik. Meskipun sesekali aku masih membuat lirik lagu. Cantik, kamu lihat pengamen di dalam bus kota itu. Itu adalah aku beberapa bulan yang lalu dan mungkin juga beberapa bulan kedepan. Mengemis hanya sekedar untuk bertahan hidup. Bukan karena suaraku bagus dan aku ingin mengindahkan hari-hari penumpang dengan irama.

Mengapa bahkan dirimu ingin berlama-lama mengobrol denganku? Mendengar setiap ocehanku? Apakah aku objek penelitian bagimu? Kamu berbohong ketika kamu bilang dirimu jatuh hati padaku. Tapi lagi-lagi aku lebih suka kebohongan dibandingkan kejujuran.

Mengapa, kamu bilang, kamu tidak mau menikmati saja keberadaanku, tanyamu. Sesungguhnya aku risih, tahu?! Aku takut aku akan kehilangan dirimu. Padahal diriku sudah tidak punya apa-apa sejak dulu. Yang kumiliki hanyalah bertualang diantara toko buku tua yang lapuk itu. Dan kamu kini telah menculikku dari sana. Menatap kedalam lubuk jiwa, menyimpan rasa. Betapa teganya dirimu?

Tapi aku sudah siap jika kamu ingin pergi tiba-tiba. Seorang penulis harus siap terhadap segala konsekuensi. Seorang penulis harus siap apabila tulisannya tidak pernah dibaca. Berguguran seperti dedaunan, meranggas, hingga akhirnya pohon itupun tumbang. Kesepian.

Tidak, dengarkan aku, cantik, sesungguhnya kamu tidak ingin menjadi penulis. Gadis cantik seperti dirimu tidak pantas bergumul dalam lumpur pikiran yang kata-katanya tak jelas bertepi dimana. Kamu lebih pantas bergaul bersama teman-temanmu, bergosip, dan memainkan setiap gadget terbaru. Kamu lebih pantas makan di kafe yang harum, menonton di bioskop dan berjalan-jalan di mal ketimbang sejuta kali menggandeng tanganku diantara tumpukan buku.

Pulang, dan dengarkan sajalah album-album musikmu itu. Dan bayangkan saja bahwa kemiskinan itu seberapa pun nyatanya dijalani oleh jutaan orang di muka bumi ini hanyalah sebatas kisah-kisah sedih dan lagu-lagu rindu. Selebihnya itu hanya imajinasimu belaka. Begitu juga aku. Tinggalkan saja aku dan biarkan aku hidup sendiri. Karena aku kira meskipun sejujurnya aku tidak mau, dan sejujurnya aku lebih suka dibohongi, tapi lebih baik dirimu tidak bersama diriku. Tidak seperti ini. Tidak sekarang ataupun nanti.

Sebut saja aku bajingan, tidak tahu diri, miskin dan segalanya. Tapi aku tahu kamu berbohong. Dan aku tahu kamu berbohong. Dan sudah kubilang padamu bahwa dunia ini isinya hanya bohong belaka. Dan mungkin segala apa yang pernah kuucapkan padamu pun juga bohong. Tapi lebih baik begitu. Karena siapa kita yang merasa dirinya sudah siap terhadap kebenaran, kejujuran, dan kenyataan yang sebenarnya? Seumur hidupnya seorang penulis mencari itu semua. Hanya sebagian kecil yang berhasil, tapi sisanya gagal semua. Tidak tahan menjalaninya. Tidak tahan menghadapinya.

Hujani aku dengan caci maki, hujam hatiku dengan tatap matamu yang pedih merindu. Sebut aku pembohong sesukamu. Aku memang tidak pantas mendapatkan apa-apa. Apalagi dirimu. Biarkan aku hidup dalam kebohongan bahwa dirimu adalah sebuah kenangan manis. Bahwa dirimu pernah menjadi gadis yang begitu cantik. Tapi niscaya aku, penulis dalam diriku, toko buku tua dengan tumpukan buku-buku yang lapuk itu, kecantikanmu, semua akan sirna. Semua hanya bohong belaka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang Paling Banyak Dibaca

Arsip

%d bloggers like this: