Google+

Keberanian Dan Kejujuran

Leave a comment

February 9, 2014 by willamnasution

DSCN9770 Seorang guru pernah dengan galaknya, dengan kesalnya, dan dengan kepintarannya, menyatakan di depan kelas bahwa Tuhan itu tidak ada. Dan siapapun yang tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan itu ada, tidak usah lagi kenal dengannya. Tidak usah lagi menyebut-nyebutnya. Tapi diantara puluhan murid yang masih kecil-kecil itu ada seseorang yang tidak setuju. Tangannya mengacung dan mengatakan dengan kejelasan ucapan seorang dewasa mengajukan sebuah argumen yang cerdas. “Apakah bapak pernah melihat otak bapak?” tanyanya. “Lalu apakah bapak percaya bapak memiliki otak?” “Kalau begitu saya juga tidak percaya kalau bapak itu sebenarnya memiliki otak” Anak kecil itu pernah hidup di masa lalu. Seisi kelas tertawa membahana. Bagaimana mungkin anak kecil yang duduk itu bisa melawan guru tua yang telah lama berdiri di depan kelas. Dengan sebuah logika yang bernas. Dengan sebuah keberanian yang luar biasa. Ketika besar anak kecil yang mengacung itu dikenal dunia dengan nama Albert Einstein. *** Seorang guru perempuan yang sudah berumur bertanya pada murid kecilnya tentang cita-cita. Ingin jadi apa kamu kelak jika sudah besar nanti? Anak kecil itu tidak akan pernah melupakan pertanyaan bu guru itu seumur hidupnya. Karena ketika itu dia begitu ditentang akan sebuah jawaban yang berasal dari hatinya. “Jika sudah besar nanti yang saya inginkan adalah menjadi bahagia” tulusnya. Tapi bu guru itu berseloroh dan menyatakan otoritasnya sebagai pengajar dan mengatakan padanya bahwa kamu, wahai anak yang mash kecil dan duduk di bangku, kamu tidak mengerti apa sesungguhnya pertanyaan ibu. Anak itu bukannya diam, tapi malah balik berseloroh dan dengan keberanian yang begitu matang mengatakan bahwa sesungguhnya sang bu guru itu tidak tahu apa itu kehidupan. Setelah besar dunia mengenal anak kecil itu dengan nama John Lennon. *** Di masa lalu itu semua terjadi. Di negara-negara dunia Barat yang maju itu semua pernah terjadi. Ketika seorang murid lebih pintar daripada sang guru. Ketika keberanian menghinggapi jiwa seorang anak kecil. Ketika pikiran dan nurani lebih terang ketimbang usia sang pengajar. Pada siapa kita harus percaya? Bukan guru atau sekolah, tapi ilmu pengetahuan. Pada kebenaran dan bukan darimana atau dari siapa kebenaran itu datang. Tidak ada yang lebih bodoh atau yang lebih pintar dalam cerita ini atau bahkan dalam kehidupan asli. Karena sesungguhnya setiap manusia tetap belajar hingga akhir hayatnya. Saya hanya ingin menceritakan bahwa sesungguhnya anak kecil itu banyak akalnya. Dan seringkali lebih dekat kepada kebenaran ketimbang kita yang sudah tua. Itulah mengapa, seorang sahabat pernah mengatakan pada saya, di dunia ini orang-orang selalu jatuh cinta pada tokoh-tokoh anak kecil yang dapat mengalahkan orang tua. Karena gelombang baru niscaya akan menghempaskan gelombang lama. Seperti itulah aturan alam. Hanya saja seperti pepatah Cina kuno yang terus saya ingat pernah berbunyi, ketika angin perubahan itu berhembus ada orang yang membangun kincir angin dan ada pula orang yang membangun tembok. Albert Enstein dan John Lennon hanya dua contoh kecil. Jenius yang pernah hidup dalam masa. Karena mereka berani, mereka jujur pada diri sendiri. Ada benang merah diantara dua kata sifat itu, berani dan jujur. Yang harus kita cari jembatannya sendiri. *** Mengapa manusia harus belajar sejarah? Agar manusia tahu bahwa mereka tidak pernah belajar dari sejarah – Goethe Mengapa penting bagi kita untuk bersekolah? Agar kita paham bahwa banyak hal penting yang tidak diajarkan di sekolah – Murakami Jangan tanya apa yang negara bisa lakukan untuk anda, tapi tanyakan apa yang bisa anda lakukan untuk negara – Kennedy Perbedaan antara orang besar dengan orang kecil adalah bagi orang kecil masalah kecil menjadi besar sementara bagi orang besar masalah besar menjadi kecil – Salim *** Saya bukan Einstein ataupun Lennon. Saya tidak dikenal oleh dunia. Tapi seandainya saja ada jutaan anak kecil seperti mereka dulu kecil di dunia ini kita mungkin hidup dalam dunia yang berbeda. Ajari diri kita sendiri kejujuran dan keberanian. Ajari anak kami kejujuran dan keberanian. Dan itu saja mungkin akan merubah segalanya.

Advertisements
«

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang Paling Banyak Dibaca

Arsip

%d bloggers like this: