Google+

Esa

Leave a comment

February 3, 2014 by willamnasution

DSC06001

Seorang musisi terdiam dalam lamunan. Menunggu terciptanya lagu hit irama jantungnya. Tangan dan pita suara. Menulis lagu di malam sepi. Di kamar kostannya yang dia cintai. Sudah hampir tujuh tahun dia tinggal disana, dan dia masih merasa seperti baru kemarin membuka kuncinya. Terkesima oleh ruang suasana. Oleh jendela bumi, oleh keasrian rumah dan pekarangan, juga dapur mungil yang digunakan bersama. Orang-orang datang dan pergi menjadi teman kostannya. Dan satu demi satu lagu tercipta tentang mereka. Tentang kelakuan mereka. Perjumpaan mereka yang pertama atau juga, tentu saja, tentang perpisahan.

Tidak ada kegiatan lain yang dia lakukan di kostan itu selain mendengarkan lagu. Duduk atau tiduran. Menulis dan mengubah-ubah lagu. Mengunggahnya ke youtube. Menciptakan nuansa melalui bunyi. Menemukan dan menemukan kembali kemampuannya bermusik dari hati.

Selepas kuliah beberapa tahun yang lalu Esa telah kehilangan ambisi pada dunia. Dia terjebak dengan cita-citanya sendiri dan berikrar untuk bermain musik hingga mati. Tawaran rekaman sempat datang, tapi tidak jadi. Bergabung dengan beberapa band, tapi selalu saja tercipta perselisihan. Dan di penghujung hari dia senantiasa kembali ke kamar kostannya. Tertunduk maupun tegak. Dinding kamarnya dipenuhi oleh rak-rak piringan hitam, kaset dan juga CD. Poster-poster band favoritnya tergantung. Tiket konser juga flyer ataupun brosur pertunjukan musik yang dia datangi tertumpuk rapih di sudut meja.

Di laptopnya sendiri dia sudah menyimpan puluhan lagu ciptaannya sendiri. Tapi tidak ada yang berhasil menjadi hit. Dia masih menunggu malam memeluknya, menggengam petikan jemarinya, melantunkan sebuah nada lagu yang merdu.

Rabu malam saya pulang ke kampung halaman. Ke kota tempat saya dilahirkan hingga akhirnya saya diwisuda disana. Dan tidak banyak lagi teman yang tersisa, kecuali Esa. Padanya saya iseng menelpon dan mengajaknya berjumpa.

Teman musisi saya satu-satunya.

Dia datang tidak lama setelah secangkir kopi dihidangkan di meja. Seperti suasana kafe tempat kita bertemu itu parasnya tidak terlalu bersinar. Tapi dibalik bola matanya selalu tersimpan kemilau, pesona seorang musisi yang berjuang. Secercah kilau semangat yang merasuk dalam sekejap mata, pada apa-apa saja dia memandang. Itulah yang saya suka darinya. Dia tidak pernah menyerah.

Jabat erat dan pelukan hangat. Malam panjang kita lewati bersama. Meloncat dari satu topik obrolan ke topik lain tanpa kita rencanakan. Tapi mengalir begitu tenang seperti sungai menuju samudra.

“Kamu masih tinggal di tempat kostanmu yang dulu?” tanyaku.

Ya, angguknya. Disanalah tempat hatinya berada. Di sebuah rumah asri di suatu sudut perbukitan.

“Kamu tidak memiliki pekerjaan lain, Sa? Maksudku bagaimana caramu membiayai kehidupanmu?”

“Kebetulan saya sekarang menjadi bapak kost,” suara merdunya, “pemilik tempat kost saya sudah memberikan kepercayaan pada saya untuk… eee… mengurus tempatnya. Jadi, selain saya gratis tinggal disana, saya juga sudah diberi jabatan”

Senyumnya. Sinar matanya.

“Mengapa kamu tidak bermain di kafe-kafe seperti ini? Pasti banyak yang ingin mendengarkanmu bermain”

Sekarang sedang tidak ada, jelasnya. Tapi dari jabatannya sebagai bapak kost, itu juga sudah cukup membiayai kebutuhannya selama sebulan.

“Hei aku suka mendengarkan lagu-lagumu di youtube atau di souncloud punyamu, menurutku mereka cukup menarik”

“Terima kasih, kawan. Itu sungguh berarti. Tapi menarik saja tidak cukup membuatku menjadi seorang musisi. Aku berambisi menghembuskan udara segar bagi dunia musik tanah air”

“Aku mengerti, Esa” anggukku. “Jangan sia-siakan bakatmu itu, kamu akan berhasil. Aku yakin itu.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanyanya.

“Ah, lupakan saja. Bekerja di Ibukota sangat melelahkan. Ya, mereka membayar saya dengan gaji yang cukup besar. Tapi itu saja, tidak ada yang lain yang menantang atau diperjuangkan. Setiap harinya ya… begitu-begitu saja”

Malam semakin larut dan dia mengajak saya untuk berkunjung ke kamar kostannya. Saya setuju, lagipula saya ingin menengok blantika koleksi musiknya yang sudah lama saya tidak ikuti perkembangannya. Di kamarnya menjelang matahari terbit dia menciptakan lagu untuk saya. Saya kira itu lagu yang sangat merdu.

Kami berdua tidak memakai baju. Dan lagu itu adalah lagu yang begitu indah menjelang sinar pagi hari yang mulai merasup ke jendela, ke jiwa. Dia memeluk gitarnya. Tapi saya harus pergi Esa. Kamu tentu mengerti. Besok-besok mungkin saya akan kembali. Tiduran di kasurmu, menyusup ke dalam selimutmu. Ke dalam sukmamu. Memelukmu.

“Mengapa kau tidak menikah denganku?” bisik Esa sebelum ku beranjak dari tempat tidur.

“Dengan bapak kost?” candaku.

Tidak, gelengnya menatap syahdu. “Denganku. Dengan seorang musisi“

Saya berkilah dan tidak menjawabnya. Tidak dulu, sekarang, dan mungkin juga tidak nanti. Sungguh sulit bagi seorang wanita untuk menjawab pertanyaan itu. Begitu banyak pertimbangan, begitu banyak yang perlu dipikirkan. Saya kira saya sudah cukup bahagia dengan begini. Mengunjungimu sesekali.

Tidur bersama bukan berarti harus menikah, bukan? Saya tidak percaya dengan sehati, sejiwa, seirama. Belum saatnya.

Buatkanlah lagu-lagu lain untukku. Lagu cinta atau patah hati, saya tidak peduli. Saya hanya berharap yang terbaik untukmu. Agar suatu hari kamu bisa menjadi musisi seperti keinginanmu. Seorang musisi dengan lagu-lagu hit yang melegenda. Seperti setiap album-album musik yang kamu ceritakan padaku, di malam Rabu itu. Dan lagu itu pun tercipta dari petikan gitarnya. Menggema di sudut-sudut kamar kostannya. Merdu terbawa rindu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: