Google+

Teruntuk Phereina

Leave a comment

January 29, 2014 by willamnasution

DSC_0136

Phereina, jika di suatu hari nanti kamu terbangun sendiri di pagi yang mendung ingatlah bahwa ayahmu menyenanginya. Memandang syhadu meruang ke dalam dirinya bersama kelabu yang tergantung di cakrawala. Rindu dipeluk hangatnya matahari, sayang padamu.

Sungguh sebuah pemandangan yang damai dapat melihatmu tidur pejamkan mata. Dalam piyama-piyama lucu yang dipilihkan oleh ibumu. Tidak selamanya aku dapat menatap keindahan yang dunia telah titipkan itu. Tapi sungguh aku bahagia pernah mengenalmu, pernah bersamamu dalam waktu.

Ruang itulah yang ayahmu lihat dikala pagi mendung meraja. Antara abunya angkasa dan ayahmu terdapat sebuah cerita lama, yang terjalin dalam masa, menjadi interior batinnya. Suatu hal yang dia yakini dan percaya.

Lapisan awan telah membalut pagi mentari. Mencucurkan rinai hujan yang lembut. Gulungan selimut. Secangkir teh hangat, kopi panas mengepul ataupun susu coklat. Seluruh jiwa akan terhisap oleh senyum mungilmu di pagi hari. Sinar yang meresap hangatkan sukma, batinku.

Kamu dan ibumu adalah mimpi-mimpi yang melambung bersama bintang dikala malam dan terjaga bersamaku di seantero kamar, kehidupan kita. Sungguh pagi yang mendung bukanlah batu sandungan. Bukan alasan untuk tidak membuka jendela dan menerjang berbagai arus keseharian. Pagi yang mendung adalah alasan untukku memelukmu lebih erat dan menatapmu lekat.

Ukuran sepatumu bertambah besar. Kujejerkan dari bayi hingga nanti dalam angan. Riang berwarna-warni seperti dirimu. Berlari bebas penuh kasih sayang. Kebahagiaan kami adalah dirimu, jiwamu yang terbang. Cerah ataupun mendung merudung di atas kota. Langkah-langkahmu adalah mimpi yang mewujud nyata. Tingkah lakumu adalah secuplik arti yang gugur dari surga. Turun ke bumi dan satu demi satu helainya selimuti segala lara.

Ayah tidak akan meminta apa-apa selain untuk setia menjadi dirimu sendiri. Susuri setapak menuju muka dunia. Karena tiada hari yang tidak pernah kami jatuh hati padamu. Berkembanglah sayangku dengan segala keindahan yang ditampilkan dunia. Karena dirimu akan selalu menjadi bagiannya.

Salam suka cita senantiasa ayah dan ibumu sepanjang masa. Genggamlah batinmu, dan dirimu akan selalu menemukanku di pagi yang mendung, diantara rinai hujan. Bahwa matahari itu sebenarnya bersinar di dalam dirimu. Senyummu yang menawan. Dan segala pikiranmu yang berusaha menjangkau masa depan. Ingatlah setiap bisikanku yang kucoba selipkan di telingamu, yang kucoba hembuskan kedalam kalbumu. Seperti juga hembusan alam raya yang bergemerisik melalui udara.

We love you Phereina. We’ll always do.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: