Google+

Membicarakan Adele Dan Emma

Leave a comment

January 29, 2014 by willamnasution

Baca juga: “Warna Resensi ‘Blue Is The Warmest Color'”

7617ee994f1e3a734c921c837b9437a1

Siapapun yang sudah terlena selama hampir tiga jam dalam “Blue Is The Warmest Color” pasti akan membicarakan Adele dan Emma. Bagaimana karakter mereka begitu menjelma dan merasuk ke dalam relung-relung otak kita. Begitu memukau, mencengangkan. Seolah begitu murni membuat kita jatuh hati.

Mata mereka berbicara, begitu banyak mengutarakan. Gerak-gerik mereka dan segala perbuatan mereka mengundang begitu banyak pertanyaan. Film ini adalah film drama percintaan tapi begitu menyusup tensi mendebarkan. Visualisasi asmara yang memabukan. Jangan tanya hubungan intim mereka yang kontroversial itu, membuat beku otak dan mulut ternganga. Ketika mereka marah atau terluka semua itu tergambar dengan cantik sekali lewat luapan emosi atau air mata. Adegan demi adegan bisu berkilau penuh cerita yang kita tidak tahu pasti apa maknanya, dan mengapa harus ditampikan disana tapi tetap saja mengena. Menjamah imaji akan visi yang terbalut sempurna kiranya dalam sebuah sinema.

Diri saya tersihir oleh Adele dan Emma. Gaya mereka, keluguan, kerennya, terbentuk dalam karakter yang begitu matang, terus mengikuti perkembangannya, seolah nyata, senantiasa terbayang di pelupuk mata. Tokoh-tokoh yang diperankan oleh Adele Exarchopolous dan Lea Seydoux itu terus hidup dalam kepala bahkan lama setelah filmnya usai. Sebuah pencapaian formula pembuatan film yang lapis demi lapisnya tersimpan rahasia, dan tidak semua begawan atau cendekia perfilman di dunia ini bisa mewujudkannya.

Untuk itu saya bersulang dan merayakannya. Untuk kedua pemerannya, dan juga sang sutradara yang begitu mahir, le maestro Abdellatif Kachiche. “Blue Is The Warmest Color” telah mengubah sesuatu dalam hidup saya, mengusik saya akan makna sebuah karya. Membuka jendela baru dalam jiwa sehingga menurut saya siapapun yang sudah menontonnya tidak pernah lagi menjadi orang yang sama. Ya, sisihkan sejenak persoalan hubungan sejenis dan menyelam lebih dalam lagi tentang makna yang dikandungnya. Sebuah jalinan kisah manusia, pencarian, hasrat, kesepian, cinta-benci, situasi dua manusia dalam suatu hubungan. Film ini menghujam dalam ketimbang isu lesbian yang ada di permukaan. Karena itu pula film ini begitu memikat, dianugrahi penghargaan prestius. Karena ia membicarakan tentang hakikat. Tentang kemanusiaan, dan begitu jujur membeberkan setiap persoalannya. Karena itu ia begitu mengena, dan begitu berhasil.

25ea31f6178eaf7dc059aa9a19ae6c06

Konon dalam proses pembuatannya Abdellatif, Adele dan Lea terus bersama selama lima bulan. Dengan intensif mereka berbicara tentang apa saja. Mengenal lebih dalam tentang diri mereka dan dunia. Selagi itu pula Abdellatif merekam mereka, melihat perubahan suasana hati mereka, merekam mereka ketika tidur, ketika makan, berbicara, semua. Kekompakan mereka itulah kiranya yang menjadi salah satu rahasia keberhasilannya. Sehingga setiap mereka sangat mengenal emosi dan pikiran masing-masing, juga sudut-sudut pengambilan gambar terbaik yang diperlukan.

Bahkan film ini bisa dikatakan mirip dengan dokumenter saking miripnya dengan kenyataan. Peran Abdellatif untuk mewujudkannya memang sangat gigih dan luar biasa. Sebab konon pula satu adegan yang diambil bisa melalui seratus kali pengambilan gambar atau bisa jadi dalam satu minggu mereka hanya mengulang satu adegan. Sehingga Adele dan Lea sendiri pun bingung apakah mereka aktor yang baik atau tidak, apakah mereka telah berhasil mencapai sesuai dengan keinginan Abdelallatif atau tidak. Karena Abdellatif selalu ingin melihat sesuatu, mungkin sebuah rasa dalam sebuah gambar yang tidak dapat dijelaskan kecuali dengan pengambilan gambar yang berulang kali. Terus berulang hingga ia sendiri merasa sudah cukup, sudah mendapatkan rasa atau apapun itu yang ia inginkan.

Satu pemikiran lagi tentang film ini yang saya harus utarakan adalah sikap mengenai panjangnya durasi hubungan intim mereka berdua. Sebagai catatan adegan hubungan intim mereka dalam film ini berlangsung hingga delapan menit. Banyak yang bertanya mengapa bisa hal tersebut dapat ditampilkan. Bahkan oleh orang-orang awam di Barat, juga kritikus dan insan perfilman. Apa bedanya kalau begitu film ini dengan film porno, dan begitu eksplisit mereka menampilkannya.

Ternyata, memang ada kecenderungan dalam industri perfilman dunia bahwa adegan sex atau ketelanjangan justru  ditunjukan dalam sinema. Pasalnya berkat internet yang meluas akses untuk mendapatkan hiburan atau sebutlah akses untuk mendapatkan pornografi kini sangatlah mudah. Sehingga orang tidak lagi harus menonton film untuk menyaksikan gadis seksi atau hubungan intim, mereka tinggal membuka internet. Berbeda dengan dulu. Dulu tidak ada internet, maka itu orang-orang yang ingin menyaksikan adegan yang memper-memper dengan pornografi menonton film.

Karena itu adegan intim ataupun ketelanjangan sudah tidak lagi menjadi mainstream dalam dunia perfilman. Hal itu sudah ditinggalkan. Dan karena tidak mainstream sutradara yang menampilkan dua hal tersebut justru dianggap sebagai sutradara yang serius dalam dunia perfilman sekarang. Orang yang ingin menonton film non-mainstream dianggap penonton yang dewasa, karena jika mereka memang mengharapkan film berbau pronografi maka mereka tidak akan menononton film, tapi justru membuka internet. Hubungan sex sudah dianggap sebagai bagian dari keseharian, sebuah realita, dan justru itulah yang ingin mereka tampilkan.

Itu adalah sebuah pemikiran yang menyadarkan saya, membuat saya mengangguk-anggukan kepala, memberikan jawaban tentang mengapa adegan seks atau ketelanjangan semakin biasa di dunia perfilman terutama film-film yang berkelas festival.

Terakhir, jika anda bertanya-tanya seperti apa Adele dan Lea dalam kehidupan asli mereka. Mereka punya orientasi seksual yang normal, mereka bukan lesbian. Konon mereka “kapok” bekerja sama lagi dengan Abdellatif karena proses pembuatan filmnya yang begitu melelahkan. Yang luar biasa adalah Adele dan Lea ini tadinya hanya aktris biasa, hanya sedikit atau bahkan tidak ada yang sama sekali mengenal mereka. Tapi Abdellatif dapat memilihnya, bekerja sama dengan mereka, percaya bahwa mereka berdua cocok untuk peran yang akan mereka mainkan. Dan kini keduanya telah menjadi buah bibir dunia, mereka berdua tidak akan tergantikan, akan selalu terbayang, menjadi Adele dan Emma yang begitu menawan.

2640768238404684667c3f56b5893a6f

Sungguh sangat luar biasa. Brilian. Pencapaian kualitas sinema yang begitu tangguh. Membungkus cara penceritaan dengan gaya yang super. Menjadikannya pembicaraan. Senantiasa hidup bersama kita. Mengundang banyak pertanyaan dan bukannya memberikan jawaban. Seperti itulah kiranya sebuah karya kelas dunia. Ia merangsang akal dan mengubah cara pandang kita terhadap kenyataan. Tak terlupakan. “Blue Is The Warmest Color” kiranya akan menjadi sebuah film yang bersejarah dan sebuah sinema klasik dalam industri perfilman.

Advertisements
»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang Paling Banyak Dibaca

Arsip

%d bloggers like this: