Google+

Warna Resensi “Blue Is The Warmest Color”

1

January 27, 2014 by willamnasution

BITWC

Ada film yang mungkin kamu menyesal setelah menontonnya. Ada film yang biasa-biasa saja dan setelah titel kreditnya muncul kamu justru bernafas lega lalu lupa seketika. Ada film yang cukup bagus dan ketika seseorang menyebut judulnya kamu mulai membicarakannya atau mungkin ada suatu kejadian dalam hidupmu yang kamu kira mirip dengan cerita atau adegan dalam film tersebut. Sementara itu ada juga film yang bagus, yang sesekali suka terngiang dan ingin kamu tonton kembali. Begitu menarik perhatian.

Sedangkan film yang sangat bagus adalah film yang brilian. Kamu ingin terus membicarakannya, membahas setiap detilnya. Terkesima dan menjejakan rasa yang berkesan. Seperti pulang dari tujuan liburan yang menyenangkan. Seperti sehabis makan kari yang bumbunya masih menempel di lidahmu hingga beberapa hari kedepan. Menonton film seperti itu kamu justru jadi ingin tahu lebih dalam, lebih banyak lagi tentangnya. Ia tidak memberi jawaban tapi justru merangsang pertanyaan-pertanyaan baru. Membuka jendela baru dalam tatar pikiran. Tidak berhenti berulang-ulang kembali adegan secara acak dalam angan. Menggapai. Menyihirmu. Seperti terserang demam rindu. Film yang sangat bagus adalah film yang setelah menontonnya kamu tidak akan pernah kembali menjadi orang yang sama.

Kadang tidak setahun sekali film seperti itu dapat kita saksikan. Dan film brilian terakhir yang menggapai perhatian saya terus belakangan ini adalah “Blue Is The Warmest Color”. Film ini saya kira jadi film yang paling diperbincangkan sepanjang tahun 2013 lalu. Bahkan hingga kini. Ya, film ini juara di Cannes Film Festival 2013. Ya, film ini menampilkan hubungan intim pasangan lesbi. Tapi bukan itu tuan dan puan yang menjadikannya brilian. Film itu menyihirmu.

“Blue Is The Warmest Color” adalah film yang diadaptasi dari novel grafis berjudul sama. Film yang dalam rilisan aslinya berjudul “La vie d’Adele” ini menceritakan kehidupan seorang gadis remaja yang gamang. Hingga pada suatu hari ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang perempuan. Kemudian lebih lanjut film ini mengisahkan pasang surut hubungan mereka. Film ini berdurasi hampir tiga jam tapi sambil berlalu sama sekali tidak terasa membosankan. Tidak ada yang ingin saya tambahkan atau kurangkan. Saya justru terbawa arus pertanyaan tentang bagaimana akhir ceritanya. Dan itu cukup mendebarkan juga. Sebuah hal yang sangat jarang untuk film drama.

Berkali-kali justru sutradara Abdellatif Kechiche berhasil menampilkan bahasa visual yang sangat apik. Bercerita tanpa dialog. Hanya melalui sinema, tapi justru meruang begitu dalam, menggapai jejak, meluapkan pemahaman dan suasana batin para tokohnya, menggambarkan emosi tanpa kata-kata. Begitu memukau. Karena itu juga dua tokoh utama perempuan dalam film ini diganjar pemeran terbaik dalam Cannes Film Festival 2013 selain sebagai film terbaik. Sebuah pencapain yang jarang pula.

dacbca11209c492c81f890ae5283cf7e

Tokoh Adele dan Emma dalam film ini memang luar biasa. Ia melahirkan begitu banyak kesan dan pertanyaan. Mereka berdua begitu menawan dan tampil sangat natural. Sutradara kenamaan Prancis itu lagi-lagi begitu berhasil menampilkan inner beauty mereka. Bukan kecantikan biasanya. Bukan pula jelita. Tapi berlapis selubung kecantikan yang hanya mungkin terwujud berkat penghayatan yang dalam. Mereka sungguh memesona.

Hidup saya tidak pernah sama lagi setelah menonton film ini. Dan meski sudah lewat beberapa hari tapi adegan-adegannya masih berulang dalam angan, masih tidak tahan untuk tidak membicarakannya, seperti terserang demam, mantra yang tertinggal, sihir film, bahasa sinema. Dan segala keajaiban lainnya yang membuat saya, dari lubuk hati yang paling dalam, dan banyak orang lain diluar sana menjadi seorang penggemar film, dan mengapa film adalah sebuah budaya. Jika kamu belum menontonnya maka “Blue Is The Warmest Color” layak untuk disaksikan. Jika sudah tapi kamu memiliki pemikiran yang berbeda mari kita berdiskusi melalui resensi, mungkin juga dengan secangkir kopi dan obrolan yang menyenangkan. Salam!

Baca juga: “Membicarakan Adele Dan Emma”

Advertisements

One thought on “Warna Resensi “Blue Is The Warmest Color”

  1. […] Baca juga: “Warna Resensi ‘Blue Is The Warmest Color’” […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang Paling Banyak Dibaca

Arsip

%d bloggers like this: