Google+

Penulis Dalam Hujan

Leave a comment

January 10, 2014 by willamnasution

n817103113_1695035_5966271

Puing-puing selepas hujan tidak meninggalkan apa-apa selain kenangan. Kemanapun aku pergi aku ingin menjadi penulis. Tidak hujan badai sekalipun dapat menghanyutkan impian. Hujan yang kunikmati sambil berjalan kaki, hujan yang ikut bernyanyi sunyi dari jendela kereta api, hujan keseharian di kala musimnya tiba menyapa lewat jendela rumah. Dan diantara itu semua ada jejak-jejak cangkir teh manis. Berkilau menghangatkan jiwa. Seperti senyummu. Seperti sorot matamu.

Kupernah bilang bahwa sahabatku di dunia itu adalah awan. Bergulung mengembara tak pernah tentu jadwalnya. Tak pernah jelas wujudnya. Kadang melapang, kadang tiada, kadang bergumul, kadang menjelma serupa apapun imajinasimu. Awan-awan itu adalah aku. Kubilang. Lalu siapa aku? Tanyamu.

Air.

Menguap. Mengkristal. Dari hamparan samudra nun entah dimana. Dan kemudian berjatuhan. Tetes demi tetes. Membasuh padang pasir yang setelah sekian lama memanjang menyusuri usia.

Wahai tuan, penulis. Sapamu. Sudut senyummu. Simpan segala kata gombal itu untuk wanita lain dalam hidupmu. Tapi aku tidak sedang melantur, tegasku. Ya, semua tukang gombal pun akan berkata seperti itu. Kilahmu.

Dan kita mengembara. Siang dan malam. Dibawah awan-awan yang mengudara. Di atas kesadaran dan di bawah alam sadar. Menghiasi cahaya matahari. Mengisi segala puisi.

Kurindu padamu, sayang. Bisikku pada angin. Tidakkah kau lihat diriku dan ingin segera pulang. Pulang adalah kemanapun cinta membawamu. Ucapmu. Bukankah itu aku? Tanyaku. Itu yang kamu harapkan. Jawabnya.

Dan hujan turun di TV, di koran, di twitter, facebook, dan semua media yang dimiliki manusia. Purba maupun modern. Kuno maupun canggih. Tapi apa? Apa yang kudapatkan. Hanya bayang-bayang dirimu.

Hujan masih lagi turun di seantero kota. Di dalam jiwa. Dan aku masih juga belum menemukan dirimu. Dan aku masih juga jatuh hati pada tatapan matamu. Teh manis demi teh manis. Cangkir kosong dan halaman melapang tanpa kata. Dan dirimu tetap tiada.

Kita berjalan sepayung berdua. Dibawah derasnya hujan. Berada dekat dengan diriku. Semerbak kubawa sepanjang masa. Kini setiap kali hujan turun, setiap kali payung kubuka, setiap kali aku menuju ke stasiun kereta api. Hanya dirimu yang meraja dalam ingatan jiwa.

Kamu datang dan menghilang seperti hujan. Dan yang kamu tinggalkan hanya puing-puing diriku. Serpihan sekilas dalam masa. Dan penulis ini akan selalu melamunkanmu. Menunggumu hingga entah kapan nanti waktunya tiba.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang Paling Banyak Dibaca

Arsip

%d bloggers like this: