Google+

Ulasan Setangkup Puisi Dalam Buku Langgam Rindu

Leave a comment

December 19, 2013 by willamnasution

FxCam_1387427690258

Mam,
Sebelumnya saya ingin minta maaf karena terjeda lama sekali sebelum bisa menyelesaikan setangkup puisi yang Mamam tulis. Tapi sebelum lagi usai saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk membalas puisi-puisi itu dengan tulisan. Dan kini semoga janji saya itu terbayarkan.

Dari 111 helai puisi yang terkumpul dalam buku “Langgam Rindu” itu ada dua puisi yang jadi favorit saya. Yang pertama adalah “Anak Lelakiku” (hal 110) dan “Kenangan Tahun Lima Lima” (hal 113). Bagi saya di dalam keduanya tersusup sebuah cerita yang berkemilau lewat kata-kata. Dalam pandangan saya itu adalah suatu hal yang hebat, bagaimana sebuah puisi yang ringkas bisa menggambarkan adegan-adegan yang meruang dalam pikiran, membawa pembaca tenggelam dalam sebuah waktu. Sehingga diantara jeda kata dan setiap ujung baris yang menjuntai, tersambung ke baris puisi berikutnya, terdapat sebuah dimensi. Tempat dimana pembaca ikut hadir dalam ruang dan waktu tersebut. Tidak hanya itu, tapi juga terlibat secara emosi.

Sebuah kisah bisa menjadi cerpen atau novel, atau terpapar lewat media penceritaan apa saja. Tapi kisah yang bernafas dalam puisi, menurut hemat saya, sudah melewati proses kristalisasi. Dan kristal-kristal itu menjelma kata-kata yang dirajut sepenuh jiwa. Berkilau. Sehingga sekilas pembaca dapat hidup bersama kenangan yang tertuang dalam dua pusi itu. Merasakan kemilau hangat cahayanya. Sekalipun samar, tidak detil, tapi justru dengan begitu batin dan akal kita berusaha terus menggapainya. Seperti halnya sebuah perjalanan, bukan perihal awal dan akhir yang menjadi poin utamanya, tapi proses perjalanan itu sendiri. Dan begitulah makna kedua puisi itu bagi saya, membawa saya kedalam sebuah perjalanan yang tak pernah berhenti. Hidup, bernafas, kemudian tenggelam dalam hening dan sunyi akan suatu kisah yang begitu berarti yang dialami oleh Resmini Ardiwinata, sang penulis puisi.

Itulah mengapa pada suatu masa penulis puisi dianggap setara dengan penyihir, karena ia bisa menghidupkan kata-kata dalam kepala kita. Dan selamnya kini, setidaknya dua puisi favorit saya itu, akan senantiasa hidup dalam kepala saya. Batin dan akal saya. Ya Mam, seorang penulis bisa merasakan sihir atau dengan kata lain keajaiban akan sebuah untaian kata yang dijahit ataupun dirajut. Itu mengapa penulis tidak pernah lekang oleh waktu, tetap ada di setiap jaman. Begitu juga dengan pembaca. Saya percaya dengan sihir dan keajaiban itu, dan saya kira Mamam juga begitu. Karena mungkin untuk Mamam entah mengapa hal itu, dengan menulis, bisa mujarab mengobati rindu. Buku ini “Langgam Rindu” adalah bukti keajaiban itu.

Untuk itu saya berterima kasih.

Jangan pernah berhenti menulis, Mam. Jangan pernah berhenti menyihir dan menciptakan keajaiban. Dan jangan pernah berhenti membagikannya. Kerinduan memang sebuah kuasa yang luar biasa yang bisa kita anggap sebagai anugrah atau kutukan. Tapi itu semua tergantung bagaimana kita menanggapinya. Rindu pada Tuhan, rindu pada ibu, rindu pada keluarga dan teman-teman, semua itu menjadi sebuah gravitasi yang terpapar indah dalam hamparan kertas yang sepi dan sunyi di dalam buku “Langgam Rindu”. Mamam sudah menunjukannya pada kita semua, pada kehidupan dan dunia. Bahwa bagaimanapun juga hidup terus bergulir, tetapi yang penting adalah bagaimana kita mengisinya, menghiasinya, dan tidak henti-hentinya berdialog dengannya.

Apa yang Mamam lakukan sungguh sangat berarti bagi kami. Dan satu hal lagi, Mam. Saya pernah membaca di sebuah buku tentang neuroscience bagaimana menulis dapat menyeimbangkan otak kanan dan kiri kita. Untuk itu saya doakan Mamam terus menulis hingga bisa melahirkan buku-buku berikutnya, karena dengan begitu sama saja Mamam terus menjaga kesehatan dengan senantiasa berkarya. Salam dari saya, Intan, juga Phereina, Mam. Peluk kami selalu. Kami sungguh bangga padamu. Selamat sekali lagi atas terbitnya buku “Langgam Rindu”. Selamanya ia akan hidup bersama kami, berkemilau tiada henti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: