Google+

Solaki Sang Penulis Puisi

Leave a comment

December 16, 2013 by willamnasution

DSC05920

Solaki tualang di tengah kota. Berjalan melalui trotoar dikala malam. Berpapasan dengan orang-orang. Sudah berminggu-minggu ini dia puasa dari pekerjaannya. Sambil berjalan dia terus menelusuri pikiran-pikirannya. Selubung malam yang dia kira bisa dia buka dengan secercah cahaya. Tapi cahaya itu belum ditemukannya juga.

Menarik baginya bahwa kehidupan malam telah menjadi begitu banyak inspirasi bagi berbagai penulis di dunia. Di ujung pena malam selalu terselimuti dengan misteri, dan tidak pernah habisnya dibicarakan, didialogkan, didengungkan melalui kata-kata serta alinea yang panjang. Melalu cerpen, melalui novel, melalui essay, artikel maupun wawancara dengan para penghuninya.

Dia sadar akan magisnya langit gelap yang berkuasa. Tapi berminggu-minggu sudah dia menulusurinya, dan dia tidak menemukan apa-apa. Hanya kubangan yang kering dalam jiwanya. Dia ingin menulis puisi tentang malam. Dia ingin menulis puisi yang paling sepi tentang kesepian. Tapi sepatu yang dia simpan di sudut kamarnya selalu mengajaknya berjalan-jalan. Lembar kertas yang dia pandangi seolah berlubang, dan kata-kata terus menghindarinya. Mantel dan syal berwarna merah teronggok di belakang pintu, tergantung, dan dia merasa bersalah karena itu. Mereka selalu ingin mengajaknya beplesir. Begitulah dia kira.

Solaki, Solaki, ujarnya pada diri sendiri. Kapan kiranya dirimu akan menulis pusi lagi? Tanyanya bagai gerimis yang turun di tengah malam. Puasa ini sudah terasa terlalu lama. Tapi tak seperti biasanya dia ingin menjauh sejenak dari kata-kata, atau seperti yang dia kira kata-kata itulah justru yang sedang menjauhinya.

Tidak apa, bisiknya dalam hati. Kita tetap bisa beplesiran setiap malam. Jika memang itu yang diperlukan. Tapi malam terus tertelan pagi, dan dia terjaga menjelang malam kembali. Tidak satupun kata yang mengilhami atau tergores di hatinya. Tidak ada untaian kata-kata yang ingin dia ukir di sanubari, menjadi koleksi puisi hidupnya.

Setiap malam dia keluyuran. Dari satu toko buku ke toko buku lain. Dari satu gerai DVD ke gerai lain. Dari satu cangkir kopi di warung ke kepahitan kopi lain di sudut warung yang lain. Sudah hampir setengah kota dia telusuri, dan dia tetap saja puasa. Dia mulai menyalahkan malam, dia mulai mempertanyakan cahaya.

Menulis puisi adalah pekerjaan yang seksi menurut Solaki. Tapi hampir kebanyakan orang berpikir sebaliknya. Bahkan bagi masyarakat kota itu yang mayoritasnya adalah buruh pabrik, menulis puisi bukanlah pekerjaan sama sekali. Tidak ada yang membutuhkannya. Tidak perlu ilham atau inspirasi atau ide puncak gunung Fujiyama yang membuat orang pergi ke pabrik setiap harinya dan bekerja.

Orang-orang memandang rendah dirinya. Dia tahu itu. Sepatu boot, mantel dan syal merahnya paham dengan itu. Tapi dia terus berjalan, keluyuran, mencari inspirasi, apapun itu. Mungkin bintang di angkasa, meteor, atau sebagainya, setiap malamnya.

Menyusup dingin dalam hatinya untuk menjadi kebanyakan orang. Untuk bisa berbincang dan dianggap setara. Tapi dia tidak ingin melepaskan pekerjaannya sebagai penulis pusi. Dan diantara jeda panjang puasanya itu dia mulai limbung. Dia ingin kembali mabuk kata-kata. Tapi kata-kata mulai menelantarkannya. Lalu apa lagi yang kau miliki di dunia ini Solaki? Batinnya.

Tidak ada buku yang menarik untuk di baca ataupun film yang cukup memikat untuk ditonton. Semua terasa hambar. Hidup terasa kosong, gosong dalam lamunan seperti telur yang dimasaknya untuk sarapan. Makan pagi jam 5 sore. Sunyi ditunjuk jarum jam di dinding. Melihat jendela yang kelam.

Mungkin karena itu juga dia selalu keluar kamarnya setiap malam. Dia terlalu malu untuk keluar di pagi atau siang hari, dan bertemu pandang dengan banyak orang. Dikala malam dia tidak bisa dikenali. Hingga tiba-tiba saja dia berjalan ke sebuah gang yang sepi, dan dalam sekejap terkejut bulu kuduknya. Melonjak.

Seorang gelandangan menghampiri dan meminta uang secara paksa. Maaf pak, saya tidak punya uang. Saya hanya penulis puisi. Namun sebelum panjang lebar Solaki menjelaskan kondisi ekonominya, si gelandangan sudah meninju mukanya. Dan ketika terjatuh sang gelandangan yang wajahnya tidak jelas terlihat itu mulai menendanginya. Solaki mengaduh kesakitan dan dalam pejaman mata menahan sakit itu, dia tetap tak bisa melihat apa-apa.

Mungkin bapak butuh puisi? Sergah Solaki. Hanya itu yang saya punya. Tapi sang gelandangan terus menendanginya bahkan menginjak-injaknya. Solaki menangis. Bukan karena kesakitan, meski terasa begitu ngilu di dada. Dia menangisi hidupnya. Dia menangisi pekerjaanya sebagai penulis puisi. Dia menangisi nasibnya yang tidak menentu. Dia menangisi segala bimbang hatinya dan segala puisinya yang dia pernah lahirkan ke bumi. Semua seolah tak berarti.

Dan yang paling merobek hatinya adalah setelah puas menendanginya hingga tersungkur tak berdaya, sang gelandangan itu mengambil sepatu bootnya, membuka paksa mantel dan syal merahnya. Cukup lama Solaki menangisi itu semua. Hingga entah berapa lama dia terkulai dibawah langit gelap itu, kedinginan, dan ditinggalkan oleh barang-barang kesayangannya.

Solaki akhirnya pulang dengan tertatih-tatih. Entah sudah jam berapa malam itu. Menahan sakit dan pedih hatinya. Lebam-lebam di dadanya dia coba tak hiraukan. Tidak lama kemudian setelah pulih Solaki mengubah pemikirannya. Beberapa hari setelah kejadian itu dia tidak bisa tidur, dan berbagai pikiran menghinggapinya. Akhirnya, dia pun melamar pekerjaan di pabrik dekat kamar sewaannya. Disana dia diterima bekerja. Menjadi salah satu pegawai pembuat mebeul bagian menjahit.

Sementara itu sang gelandangan tetap keluyuran setiap malam. Meminta-minta. Hanya saja ada setelan baru yang dikenakannya. Mantel, syal merah, dan sepatu boot yang dulu dikenakan oleh Solaki. Dan orang-orang ketika melewati sang gelandangan itu mencibir, berbisik di dalam hati. Lihatlah nasib sang penulis puisi kini, dia hanya jadi peminta-minta!

Hingga kapanpun Solaki tidak bertemu lagi dengan gelandangan itu. Tapi omongan orang menyebar. Cerita tentang nasib sang penulis puisi pun hinggap di telinganya. Mengetahui itu Solaki hanya bisa terbengong. Rekan-rekan kerjanya menertawakan nasib sang penulis puisi itu dan dia pun membeku.

Walaupun begitu dia tidak menyesal. Dirinya pernah begitu bahagia sebagai penulis puisi. Yang dia sedih hanyalah yang dia rindukan, sepatu boot yang suka mengajaknya berjalan-jalan, syal merah dan mantel yang menghangatkannya. Itu saja. Dia merindukan mereka. Dia merindukan masa ketika dulu dia begitu merdeka untuk keluyuran setiap malamnya. Menyelinap, menculik sekelumit cahaya, untuk dia bawa pulang ke kamarnya. Menggoretkan kata yang berulang kali dia curi dari dunia dan begitu menggelorakan jiwanya.

Mereka semua tidak tahu itu. Betapa kata demi kata itu telah menganugrahi hidupnya. Mereka tidak pernah tahu bagaimana rasanya berjalan mengenakan sepatu itu. Dalam balutan pakaian itu. Seperti juga semua orang di kota itupun tidak ada yang pernah mengetahui apa yang dikerjakannya di malam hari atau ketika dia sedang disergap sepi. Tidak rekan-rekan kerjanya, bosnya atau lingkaran pertemanan barunya mengetahui apa yang dilakukannya.

Hingga akhirnya, pada suatu hari di bawah cahaya mentari ketika pabrik libur karena demonstrasi, Solaki berseru di dalam hatinya bahwa sampai kapanpun Solaki adalah Solaki, apapun pakaian yang dikenakannya. Dan puisi pun mulai berdesir di darahnya, mengalir kembali diantara jemarinya. Diantara kerumunan ribuan massa itu Solaki tenggelam di dalamnya. Jantungnya berdegup dengan kencang. Orasi demi orasi, yel-yel dan teriakan, himne dan lagu perjuangan. Semua mereka telah upayakan. Tapi itu semua hanya gelombang di kejauhan.

Tidak ada yang menganggap mereka berbahaya. Dengan mudah ketika matahari tergelincir nanti semua akan bubar dan nasib para buruh tidak akan berubah. Mereka semua hanya akan kembali dalam keseharian. Semua mengira seperti itu. Tidak ada yang baru.

Tidak hingga Solaki naik ke podium dan membacakan puisinya. Perlahan hening pun menyergap keramaian. Kata demi kata seolah dengan ajaib menelan suara hilang dari udara. Mengisi angkasa raya. Puisi itu tidak panjang namun justru dengan bernas dan tegas menghisap segenap nafas. Menampar kesadaran, menyentak batin semua orang. Sehingga di ujung bait puisinya yang bertanda seru itupun sontak gemuruh membahana. Sorak sorai tiada habisnya. Secara seretak membuat ribuan kepalan tangan dengan penuh keberanian meninju udara. Begitu keras, begitu nyata, penuh semangat menggelora. Buruh yang berdemonstrasi itu pun sekarang terlihat bukan lagi sebagai kerumunan, bukan lagi gelombang di kejauhan, tapi sebuah ombak yang siap menerjang.

Solaki kemudian langsung dibekuk oleh aparat. Diamankan sambil dihantam bertubi-tubi, dibanting, ditonjok dan diinjak. Untuk kali keduanya Solaki dihujamkan ke bumi. Tak berdaya. Tapi kali ini dia tertawa. Dia tersenyum lirih bahagia. Cahaya itu telah menemukannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: