Google+

Kisah Sisa Di Minggu Pagi

Leave a comment

August 18, 2013 by willamnasution

DSCN9574

 

Di Minggu pagi yang mendung dia menyusuri jalan yang lengang. Hingar bingar malam yang liar sesekali masih terngiang diantara langkahnya. Tersenyum-senyum sendiri, sekalipun tampak kantung yang mengantuk di bawah matanya. Namun tidak seperti mega, sorot matanya cukup terang dan senyumnya agak membuat cemburu angkasa.

Manis, seperti senja.

Dia lupa jaket yang melindungi tubuhnya dari hembusan angin yang sejuk itu milik siapa. Mungkin dari salah satu laki-laki yang mencoba menggodanya. Dia tidak peduli. Dia hanya ingin berjalan kaki di pagi yang sunyi. Dan dia tahu dia hendak kemana. Mencari matahari yang masih urung menunjukan wajahnya.

Satu lagi malam Minggu yang meriah yang penuhi hatinya terlewati dalam hidupnya. Berkali-kali dia berkata bahwa dia masih cukup muda untuk itu semua. Tapi entah kapan dia akan mengakhirinya. Diam-diam dia mendamba dia akan melewati hingar bingar malam yang liar itu bersama seorang lelaki.

Seorang lelaki saja.

Seseorang yang dia bisa ajak bersenang-senang sepanjang malam. Dan meski tidak perlu tidur setelahnya mereka masih dapat saling tersenyum dalam pelukan. Berjalan kaki di pagi yang perlahan melepas selongsong gelap dan beku dari udara. Mencari matahari. Mencari sorot mata yang bisa menghangatkan paginya.

Seseorang yang bisa dia ajak berjalan tanpa banyak berkata-kata, tapi saling mengegenggam hati mereka. Adakah seseorang itu di dunia? Dia bertanya-tanya. Yang menerima dirinya apa adanya. Yang menghargai apa yang dia suka dan begitu juga sebaliknya.

Diantara hembusan pertanyaan yang menerpa lembut pikirannya itu, matanya semakin mengantuk. Walaupun begitu tubuhnya tidak lelah. Dia merasa dia masih cukup kuat sekalipun harus berolah raga pagi ini. Seperti yang seringkali dia temui di sepanjang jalan. Keluarga muda yang berolahraga, para manula yang berjalan menggunakan baju jogging, ataupun anak-anak kecil yang berlarian.

Dirinya tersenyum melihat kegiatan di Minggu pagi itu. Pemandangan yang begitu dikenalnya. Dia tidak hirau apa yang dipikirkan orang tentangnya. Seorang gadis yang masih dalam pakaian pesta. Seorang perempuan yang akan pulang entah kemana berpapasan dengan mereka yang baru saja pergi dan berkegiatan.

Dia tersenyum manis pada mereka dan mereka juga sebaliknya.

Dia merasa ada sebuah pemahaman tertentu diantara para penduduk bumi yang berkilaran di Minggu pagi. Sekalipun jaketnya kebesaran dan milik laki-laki. Sekalipun dia selalu berjalan bertelanjang kaki sambil menenteng sendal berhaknya.

Dia berjalan dan berjalan. Berlomba bersama matahari untuk menyibak hari. Untuk menyapanya pagi ini. Hingga akhirnya dia sampai juga di tujuannya. Di sebuah pelabuhan kecil terbuka dengan ombak yang mengalun tenang. Dan di tepi dek itu dia duduk memandang ke kejauhan. Dia memandang jauh kehidupannya. Malam-malam minggu yang dia lewati. Kesehariannya yang agak membosankan. Dan secercah impian bahwa suatu hari nanti ada seseorang yang duduk menemaninya di dek itu.

Debur ombak, semerbak laut dan butir-butir pasir selalu menghiburnya. Menutup akhir pekannya. Sesungguhnya ritual itulah yang dia tunggu setiap minggu. Mendung, cerah maupun hujan. Dia tidak terlalu memikirkannya. Termenung penuh pesona di hadapan hamparan lanskap alam raya. Hanya menjadi dirinya sendiri, penuh, tanpa harus peduli pada siapa-siapa.

Dan ketika sang surya mulai tampak di angkasa, dia tahu itu sudah waktunya untuk beranjak. Mengakhiri minggunya. Untuk terlelap dan terjaga bahwa seseorang yang dia puja ada di suatu tempat nun entah dimana, sedang melamun juga memikirkannya.

Dia berterima kasih untuk jalan kakinya. Dia berterima kasih untuk malam minggu hingar bingar liarnya, dan mengijinkannya menikmati sunyi di Minggu pagi. Dia berterima kasih untuk hamparan laut dan dek pelabuhan yang selalu jadi miliknya.

Mungkin tidak minggu ini. Ya, mungkin tidak minggu ini. Bisiknya dalam hati. Tapi setiap minggunya dirinya yakin seseorang itu berdiri semakin dekat dengan dirinya. Untuk terakhir kalinya dia tersenyum sendiri dengan pikiran itu. Membawanya pulang ke tempat tidur sekalipun harus membayangkan sepreinya yang terhampar dingin untuknya. Tapi langkahnya tidak pernah ragu, dia tetap berjalan dengan anggun. Seperti juga senyumnya dan sorot matanya. Yang begitu manis.

Manis, seperti senja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang Paling Banyak Dibaca

Arsip

%d bloggers like this: