Google+

Penerbangan Ke Frankfurt

2

May 3, 2013 by willamnasution

DSC05913

Terbang tinggi menuju gelap. Melihat bumi dari jendela pesawat. Deru mesinnya tidak juga menepis sepi yang dibawa angkasa malam. Membumbung, meninggi. Pramugari yang cantik berseliweran, dengan seragam. Bertanya apakah saya perlu selimut atau makan malam. Saya bilang terima kasih, tapi saya baik-baik saja.

Senyumnya. Simpul senyumnya perlahan hilang padam.

Berapa lama kita sampai di Frankfurt? Tanya saya pada jam tangan. Masih lama. Kantuk tidak juga datang. Jendela sudah ditutup, tiada pemandangan.

“Penerbangan pertama anda ke Jerman?” tanya orang yang duduk di sebelah saya.
“Bukan, tapi mungkin yang terakhir”
Dia mengernyitkan dahinya. Dari penampilannya dia terlihat seperti seorang pengusaha ulung di masa jayanya.
“Anda?” Tanya saya.
“Ya, ini yang pertama” jawabnya.

Kemudian kita tenggelam lagi dalam lamunan. Pramugari melintas. Saya pun berusaha menutup mata saya. Tidur. Lagipula ini sudah larut.

“Anda pikir mengapa orang Jerman pandai membuat kendaraan?” Tanyanya kemudian.
“Maaf?” Tanya saya kembali membuka mata.
“Ya, BMW, Mercedes Benz, Audi, VW, semua dari Jerman bukan?”
“Ah tidak juga,” kilah saya. “Ferari, Lamborghini, Toyota juga kendaraan yang bagus, tapi mereka tidak dari Jerman.”

Dia kemudain memalingkan mukanya dan kembali tenggelam dalam lamunannya. Saya berharap dia tidak mengganggu saya lagi.
“Bagaimana dengan Nazi?” Tapi kemudian suaranya bertanya lagi.
“Ada apa memangnya dengan Nazi?” tanya saya kembali sambil mengernyitkan dahi.
“Mereka juga dari Jerman bukan?”
“Ya, tapi itu dulu, sekarang sudah tidak ada lagi. Sekarang sudah tahun 2013, Tuan”
Dia kemudian mengangguk. “Maaf anda pasti ingin istirahat. Saya tidak akan mengganggu anda lagi.”
“Terima kasih” tukas saya.

“Eee, maaf tuan. Tuan bilang ini adalah penerbangan terakhir tuan, mengapa bisa begitu?” tanyanya.
Saya tatap matanya lekat-lekat, dan saya tidak mengeluarkan sepatah katapun. Tapi dia terus menunggu, dan kemudian saya bilang padanya bahwa itu bukan urusan anda.

“Oh, tentu saja tuan. Itu memang bukan urusan saya. Maafkan saya tuan, kali ini saya akan benar-benar menutup mulut saya. Saya hanya penasaran.”
“Baiklah, saya ingin tidur.” Saya bilang.

Untuk beberapa saat kemudian saya tertidur. Tapi saya terkejut begitu terlelap, saya bertemu lagi dengannya, orang yang duduk di sebelah saya. Dalam ruangan yang gelap itu hanya ada kita berdua.

“Tuan,” sapanya. “Yakinkah tuan pada Tuhan?”
“Sedang apa anda disini? Anda tadi sudah berjanji akan menutup mulut anda, lagipula pertanyaan macam apa itu, itu tidak sopan!”
“Tapi tuan, mengapa anda tidak pernah mau menjawab pertanyaan saya?”
“Siapa anda? Dan mengapa saya harus menjawab pertanyaan anda?”
“Tidak kenalkah tuan dengan saya?”

Demi Tuhan, saya terjaga, terengah-engah. Dan melihat orang yang duduk di sebelah saya tertidur juga disana.
“Maaf tuan,” saya bangunkan tidurnya. “Tadi saya bermimpi bertemu Tuan, siapakah tuan sebenarnya?”

“Apa anda bilang? Bertemu saya? Aneh sekali? Saya… saya bukan siapa-siapa, hanya seorang pengusaha.”
“Bisnis apa yang anda jalankan?”
“Membunuh orang.”
“Anda bercanda…” Tapi dia tidak terlihat sama sekali sedang bercanda. Paras wajahnya justru terlihat begitu jujur.
“Anda bilang ini perjalanan anda pertama kali ke Jerman, apakah ada yang ingin anda bunuh disana?”
“Ya” Angguknya.
“Siapa?”
“Saya belum tahu”, ucapnya, tapi mungkin saja itu… anda”
“Saya!? Mengapa saya harus dibunuh?” heran saya, terperangah.
“Ah Itu bukan urusan anda” tukasnya.

Kami berdua kemudian duduk diam. Saya bingung dengan semua ini. Saya berusaha mencerna kembali informasi yang saya dapatkan di kepala, tapi sebelum usai, dia kemudian bertanya.

“Anda bilang tadi ini perjalanan terakhir anda ke Frankfurt, mengapa?”
“Karena eee karena saya tidak berencana untuk kembali ke Indonesia.”
“Mengapa memangnya anda tidak akan kembali lagi?”
“Saya sudah tidak punya apa-apa lagi disana.” jawabku.
“Nah, jika begitu sama dengan saya. Saya selalu tidak punya apa-apa. Tapi justru dengan begitu saya bisa hidup kemnapaun saya mau.”
“Termasuk membunuh orang?”
“Ya, termasuk itu,” angguknya.

“Tapi tunggu, jika anda tidak punya apa-apa. Mengapa anda bisa pergi ke Jerman?”
“Saya hendak bertemu seseorang” jawab saya.
“Siapa dia?”
“Saya kira itu bukan urusan anda.”
“Saya kira, bisa jadi iya, karena mungkin saja anda atau orang yang akan anda temui itu target saya yang berikutnya.”

“Anda tidak terlihat seperti pembunuh bayaran” ungkapku.
“Anda juga tidak terlihat seperti orang yang tidak punya apa-apa” balasnya.

“Baiklah, dia… mantan istri saya”
“Orang Indonesia?”
Ya, jawabku.
“Sudah menikah lagi dengan orang Jerman?”
Ya, anggukku.
“Tapi kau masih mencintainya?”
“Mengapa anda berkata begitu?”
“Saya hanya menebak.”
“Mungkinkah dia menyuruh saya dibunuh?” tanyaku.
“Saya tidak tahu. Saya tidak pernah berurusan langsung dengan klien saya. Saya hanya berkirim email dengannya.”

“Apakah anda… eee berencana untuk membunuh saya?” tanyaku.
“Mungkin, kita lihat saja nanti. Silahkan jika tuan ingin tidur” silanya.
Saya tidak ingin tidur, saya bilang, saya ingin jawaban yang pasti.

Tapi dia kembali dalam tidurnya. Nyenyak seperti bayi. Obrolan macam apa ini? Saya tidak peduli jika saya ingin dibunuh. Saya merasa tidak punya musuh. Pramugari sesekali masih bersewliweran. Kebanyakan lampu yang berada di atas kepala padam. Suasana di tubuh pesawat senyap, hanya deru mesinnya saja yang mendekap.

Saya lihat jam tangan, dan baru beberapa jam saja pesawat lepas landas. Masih banyak waktu, masih banyak obrolan yang harus saya gali dari orang yang duduk di sebelah saya. Saya tidak tahu. Semoga saya bermimpi indah kali ini. Semoga saya terjaga dan pesawat sudah hendak mendarat. Dan saya tidak usah bertemu lagi dengannya, dengan orang yang duduk di sebelah saya ini.

Tapi ah saya tidak bisa tidur. Saya jadi melamun jauh dan membayangkan kematian saya. Tapi tidak ada firasat bahwa saya akan mati terbunuh. Saya mungkin akan meninggal di rumah sakit, sendirian. Tapi orang di sebelah saya ini… mungkinkah dia yang akan mencabut nyawa saya?

“Tidak bisa tidur?” tanyanya.
Saya menggelengkan kepala saya. “Mengapa anda tersenyum?”
“Anda terlihat seperti anda sudah mati” jawabnya.
“Betulkah?”
Ya, angguknya. “Saya akan beritahu sedikit tentang sesuatu, jika seandainya memang anda yang harus saya bunuh apa yang anda akan lakukan?”
“Saya akan membunuh anda duluan” cetus saya.
Tapi dia malah tertawa, dan sambil cekikian dia melemparkan pertanyaan yang melecehkan, “Bagaimana caranya? Pernahkah anda membunuh orang sebelumnya?”
Saya merasa kaki saya mati rasa mendengar tawanya, mendengar pertanyaannya.
“Orang seperti anda mana mungkin berani membunuh. Membunuh kecoak saja anda pasti ketakutan” lanjutnya sambil terbahak.

Entah mengapa tapi kali ini saya mengangguk. Saya memang berusaha menghindar mengobrol dengannya. Tapi kali ini saya benar-benar mengantuk, dan tidak bisa menahan untuk meluncur ke dalam tidur. Saya berusaha menahannya sekuat tenaga. Sekalipun saya takut saya tidak akan bangun kembali, tapi saya tidak berdaya. Dan seperti saya duga. Di dalam mimpi saya, saya bertemu lagi dengannya.

“Tuan, apakah tuan yakin pada Tuhan?” mengulang pertanyaan yang sebelumnya.
“Sebenarnya anda ini siapa sih?!” heranku.

Advertisements

2 thoughts on “Penerbangan Ke Frankfurt

  1. kaprilyanto says:

    lanjutannya? siapa sih dia? penasaraaaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: