Google+

Dilepas Senja

Leave a comment

May 2, 2013 by willamnasution

DSC02286

Menulis adalah untuk tidak berpikir, tapi pergi mengalir bersama kata-kata, bersama udara. Kebanyakan orang terlalu banyak berpikir tentang tulisannya. Apa yang dia tulis, dan kemana tulisan itu membawanya. Seharusnya, mungkin, tidak seperti itu.

Mungkin tidak usah terlalu banyak yang kita pikirkan. Mungkin kita harus keluarkan sebagian beban pikiran kita. Dan mendekap dengan tulus dunia apa adanya.

Seperti orang itu, yang saya ikuti jalannya diam-diam sejak tadi, duduk sendiri diantara undakan sawah dan senja yang bercahaya. Dia yang memerhatikan riak-riak kemilau sungai.

Kota dalam hatinya begtu bising sehingga dia menyelinap sepi disini. Saya ikuti sejak tadi. Cahaya yang menciptakan genangan bayangan dirinya diantara petak sawah dan undakan itu, itu adalah bayangan saya sendiri. Bayangan si penulis impian dalam hati. Janganlah terlalu sedih akan dunia, kuhembuskan bisik padanya.

Angkasa sudah menyimpan ruang untukmu di bawah naungnannya, jangan lelah mencari. Cintamu akan menemukan posisi itu. Betapa terhiburnya dia dengan kedamaian yang dihembuskan udara petang itu. Bermain bersamanya, bercanda dengannya, menari dalam senandung balutan senja.

Setiap saat pikirannya tertuju pada kata-kata yang terbersit dalam benaknya. Dalam angan dan harapan untuk menjadi seorang penulis di muka bumi. Penulis apa? ia tidak tahu. Hidup bagaimana sebagai penulis? Dia tidak pahami.

Tapi itulah keinginan hatinya. Yang menyeruak terang benderang, berkilau di ufuk matanya, seperti senja itu. Sekarang dia memang sendiri, termenung, kadang duduk diantara undakan sawah, kadang berdiri berjalan kaki. Tapi dirinya tetap mengawang bersama tulisan-tulisannya, berharap menjadi seorang yang dikenalnya sebagai penulis impian jiwanya.

Bayang itu terus menghampirinya belakangan. Mengusik, membuka jalan akan ketidaktenangan degup nafas yang dia jalani sebagai pegawai di sebuah kantor. Dia ingin membuat pilihan itu, meski dia sungguh tidak tahu seperti apa jalan kedepan.

Tapi senja itu tahu dia telah membuat keputusan lama sejak dia belum lagi mampir di senja itu. Karena bayang dirinya yang tergenang, seorang penulis di masa depan terus mengiriminya pesan lewat awan-awan. Lewat angan yang terus menggumpal dan menggantung di bentang langit benaknya.

Dan cahaya senja itu kemudian dia simpan. Dan senja cahaya itu kemudian terus dia pegang. Sebagai penerang. Segelap apapun setapak yang ada sekarang. Tapi sebuah suara berhembus padanya petang itu, agar melepas dan pergi mengalir bersama kata-kata. Untuk tidak usah terlalu khawatir. Karena bayangan penulis impian yang selalu menghantuinya akan segera datang, segera mampir, dan menjadi dirinya sendiri, nyata.

Dia menyuruh dirinya sendiri untuk tidak terlalu banyak berpikir hal-hal yang tidak mampu benaknya pikirkan. Karena angkasa dan alam raya berjalan dengan alam pikirannya sendiri yang seringkali berbeda dengan yang ada di muka bumi. Yang kadang bertolak belakang dengan logika keseharian.

Akhirnya, dia berpaling dari sawah-sawah dan aliran sungai. Kembali pulang ke bisingnya kota, tapi kali ini keindahan sunyi yang berkilauan itu telah tersimpan di dalam dadanya. Mengisi ruang kalbunya. Mengikuti jejak yang angan sisipkan dalam cita-citanya. Segelap apapun setapak yang harus dia lalui. Dihujam dan ditinju berjuta kali oleh rasa sepi. Tapi kehangatan sunyi yang tenang di senja itu terus berkilauan di dalam hati. Meneguhkan langkahnya, untuk terus berjalan, mengikuti garis angkasa, yang kadang tertutup mendung, yang sesekali begitu jelas terlihat di pelupuk mata.

Bermain dengan kemilau senja, kata-kata, yang selalu hidupkan, penuhi jiwanya dengan cahaya. Senantiasa. Pergi mengalir bersamanya, bersama udara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: