Google+

Saku Celana dan Lubuk Hati

Leave a comment

March 26, 2013 by willamnasution

2012-10-31 12.19.47

Dia keluarkan isi saku celananya dan ide-ide berjatuhan dari sana. Sengaja tidak dia pungut kembali. Karena menurutnya ide-ide itu akan datang kembali.

Melawan arus perkataan kebanyakan orang bahwa ide harus ditata. Bahwa ide harus diorganisir, dicatat selagi ingat. Karena ide adalah harta yang sesungguhnya.

Tapi dia tidak peduli pada harta. Berserakan idenya di trotoar jalan. Tertiup angin ke udara dan nanti udara itu akan dia hirup kembali.

Atau jika tidak akan dia temukan kembali. Karena ide-ide itu baginya ibarat kawan-kawan. Yang datang dan pergi. Duduk berbicara. Mengumbar masa lalu dan mengundang harapan di masa depan. Mengembara.

Sebrapa besar ide dapat merubah dunia? Gagasan baginya seperti hujan yang akan turun kembali. Ya, semua itu mungkin hanya penyangkalan. Mungkin salah atau benar, tapi dia tidak terlalu ambil pusing.

Penulis hidup permai dengan waktu dan kata-kata. Bukan ide atau gagasan. Karena itu semua akan berkonvoi secara diam-diam, muncul kembali tanpa terasa, meresap ke setiap kata yang dia sematkan.

Baginya kata-kata bukan sekedar bahasa, penyampai informasi, tapi keajaiban itu sendiri. Sebuah kota, sebuah dunia, sebuah semesta itu sendiri.

Ruang dengan gravitasinya sendiri.

Dia rogoh saku celannya dan kadang ide-ide itu ada, tapi seringkali juga tiada. Dia lihat trotoar di belakangnya dan yang dia lihat hanya trotoar. Itu saja.

Jalan panjang yang mengantarkannya hingga saat ini dan nanti. Jalan panjang di bawah peophonan rindang, meneduhi jiwanya.

Dia, orang itu, menyadari ketololannya, tapi justru dengan begitu dia bermain petak umpet dengan kepintarannya. Mana yang akan menang? Lagi-lagi orang itu tidak peduli.

Dia hanya ingin menjalani setiap waktunya di dunia. Bernafas menghirup udara, berdetak jantung, mengalirkan oksigen ke otaknya. Terpana akan kehidupan. Menuliskannya, menggoretkan kata-kata di dalam lubuk hatinya.

Dikenal atau tidak bukan masalah baginya. Bodoh atau pintar bukan itu persoalannya. Sukses atau gagal itu hanyalah variasi perjalanan kehidupan.

Untuk saat ini dia hanya ingin mengeluarkan tangannya dari saku, tidak merogoh apa-apa. Karena pada dasarnya setiap manusia memang tidak memiliki apa-apa di dunia. Tidak gagasan, ide ataupun udara yang dihirupnya. Semua hanya mengalir melaluinya. Itu saja.

Dia hanya ingin terus berjalan dan menikmati pemandangan. Dia hanya ingin mengangkat sebelah tangannya dan melambaikan salam. Pada kawan-kawan, pada masa depan, pada setiap kata yang akan dia tuliskan.

Karena baginya itu adalah kota, dunia, semesta itu sendiri. Baginya itu adalah keajaiban itu sendiri. Baginya itu adalah kehidupan. Seperti berjalan kaki, bernafas, tersenyum, menulis. Kehidupan sehari-hari.

Tidak lain dan tidak bukan. Itu adalah dirinya sendiri. Itulah dia. Sang penulis hari ini. Sebuah kota, dunia, semesta di dalam jiwa. Ruang dengan gravitasi yang terus menariknya ke lubuk hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang Paling Banyak Dibaca

Arsip

%d bloggers like this: