Google+

Menghabiskan Akhir Pekan

Leave a comment

January 26, 2013 by willamnasution

FxCam_1309225485206

Badan ini rasanya seperti sudah melanglang buana semalam. Masih beruntung saya bisa melihat pagi. Saya kira saya akan bangun siang. Tapi saya tidak menyesal, karena cuaca pagi begitu bersahabat, begitu menyenangkan.

Membuat teh yang manisnya larut di dada. Memutar musik yang ringan di telinga, membuat saya seolah mengambang di kamar. Jendela terbuka mengajak udara segar masuk bermain di dalamnya. Dinding-dinding yang mengitari ikut menghembuskan nafas, membuat lapang pikiran yang baru saja terjaga.

Semalam kita mengendarai mobil, jalan-jalan tualang kota, tanpa tujuan. Bersama kita menelusuri malam. Tertawa dan kadang saling melamun. Menyimak lanskap kota yang seiring malam semakin sepi, namun syahdu seperti juga yang kita rasakan.

Membuka jendela mobil, menyanyikan lagu-lagu yang kita suka. Berhenti ketika kita ingin berhenti, dan terus melaju jika memang itu yang kita mau, kemanapun juga. Navigasi hati, mengikuti arah peta bintang, meninggalkan jejak ban dan cahaya lampu mobil di jalan.

Di akhir pekan tidak ada beban pikiran. Tidak kuliah, tidak segala masalah, tidak jalan gelap di masa depan ataupun genangan-genangan persoalan di masa lalu. Kecepatan mobil berjalan menyesuaikan dengan irama nyanyian, lagu-lagu rindu. Lagu-lagu yang kelak akan menjadi klasik di masa yang akan datang. Mengalun tenang, duduk santai, menyaksikan lampu-lampu kota dan segala degup kehidupan malam.

Di cermin yang tergantung di dalam mobil, berbayang keremangan malam diantara empat pemuda. Empat pemuda dengan mata yang menyorotkan sinar cahaya, menyala, menanti malam meniti cerita bagi mereka. Empat pemuda dengan pakaian yang bergaya, dan wajah muda yang membuat iri malam yang semakin tua.

Kita merasa perempuan manapun akan melirik seketika. Sinar mata, paras wajah, gaya berpakaian, dan aura kebersamaan yang membumbung ceria, seperti magnet yang dapat menarik gravitasi di dada mereka. Kemanapun kita pergi. Dan kita sadari itu.

Ponsel kita sesekali menyala dan bingung dengan berbagai ajakan untuk menghabiskan malam. Dari berbagai perempuan, juga kawan-kawan yang mengabarkan bahwa disana banyak perempuan yang kesepian. Tapi kita tidak punya tujuan tertentu malam itu. Sebagian besar ajakan itu hanya kita lewati.

Kita hanya ingin menikmati sepenggal malam, malam yang tanpa beban atau membawa kisah yang berkelanjutan. Kita hanya ingin menikmati kebersamaan, menelusuri kota, mengobrol, bercanda tawa, melamun bersama. Kita pikir jika satu ajakan kita terima, kita akan tidak enak dengan ajakan lain yang tidak kita tanggapi.

Dan meski tanpa dibicarakan, kita tahu keadaan akan rumit jika malam ini kita bergumul dengan para perempuan. Mereka mungkin mau ikut karena malam masih panjang, mereka mungkin ingin diantarkan pulang nantinya, mereka mungkin besok-besok akan terjaga dan mengingat malam ini yang dihabiskan bersama.

Kita tidak sedang ingin seperti itu. Tidak malam ini. Jalanan terlalu menyenangkan, terlalu mengalun tenang untuk dipusingkan dengan pikiran-pikiran seperti itu. Kita masih muda dan masih banyak waktu untuk memikirkan persoalan itu nanti.

Nanti sajalah, nanti lagi.

Lagipula di dalam hati kita masing-masing, sebenarnya sudah ada perempuan-perempuan yang sebenarnya kita suka. Dan tidak satu. Ada beberapa incaran yang memikat hati di kampus, di gedung sebelah, di fakultas lain, yang diam-diam kita idamkan. Tapi sengaja tidak kita kejar terus-terusan. Karena ya begitu, juga dengan alasan yang kurang lebih sama,  kita tidak enak pada yang lain, kita tidak ingin menutup kesempatan bagi perempuan lain untuk dekat juga dengan kita.

Ya, kita tertawa. Sesekali menertawakan berbagai cerita yang ada dalam hidup kita. Kita suka heran dengan perempuan yang begitu serius ingin memiliki kita untuk dirinya sendiri. Yang kita pikir itu begitu egois. Tapi bukannya kita ingin melukai hati siapa-siapa, tapi santai sajalah, memangnya kita mau kemana? Memangnya apa yang kita lakukan sampai-sampai para perempuan itu menganggap kita tambatan hati?

Kita hanya ingin bersenang-senang, tidak dengan cara yang licik ataupun jahat. Kita bukan kriminal, kita hanya anak-anak muda yang ingin menikmati masanya. Bergaul luas dengan siapa saja, berkenalan, bersalaman tiada henti, dan berenang diantara berbagai kolam-kolam kisah kehidupan. Bersulang dan bersuka cita dengan siapa saja.

Nanti jika waktunya datang bagi kita untuk membagi jalan dengan seorang perempuan, seiring seirama, dan hanya untuk seorang perempuan, kita akan setia. Obrolan itu membuat kita menahan tawa, berusaha serius, dan kita tahu itu hal yang serius, dan hal yang musti kita jalani. Tapi ya tawa kita akhirnya tetap saja membuncah, lagipula kita masih muda. Persoalan itu nanti sajalah, nanti lagi.

Menurut kita bukan itu yang perlu kita seriuskan sekarang. Dunia begitu luas dan memaparkan berjuta jalan yang dapat kita jalani. Lebih baik kita mengukuhkan dulu cara kita berdiri dan melangkah di dunia ini. Lebih baik kita fokus dulu pada bidang-bidang yang kita minati.

Di cermin yang membayang temaram malam itu, kita lihat lima tahun lagi Dida yang sedang duduk dibelakang, sambil menepuk-nepuk lututnya seiring dengan nada, akan menjadi musisi. Taji yang duduk disebelahnya, yang menerawang pandangannya ke panorama kota, akan menjadi arsitek muda yang handal. Maru yang kali ini sedang dibalik kemudi akan menjadi dosen politik luar negeri yang menyenangkan. Dan saya, tatap mata saya sendiri di cermin, lima tahun lagi saya akan menjadi pengarang novel yang diperhitungkan. Tapi sekarang jalan masih gelap di depan.

Angkasa malam sudah bergulung menjelang subuh. Jam empat pagi saya baru sampai di rumah. Masuk ke dalam kamar saya. Menyalakan lampu untuk berganti baju, dan menjatuhkan diri di kasur. Malam itu kita tidak pergi kemana-mana, tidak bisa dibilang juga menghabiskan malam dengan berhenti dimana. Kita hanya menyusuri malam, meninggalkan jejak ban dan cahaya lampu mobil di jalanan, di dalam cerita masa muda kita.

Malam yang bersahaja, tapi begitu menyenangkan. Menghabiskan waktu dengan mereka. Mengobrol apa saja dan menjadi anak muda, diri kita sendiri, apa adanya. Saya tidak tahu apakah akhir pekan nanti kita masih bisa melakukan itu lagi. Tapi setidaknya untuk sesaat kita bisa melepaskan diri kita bersama, dari keseharian yang kadang membuat kita tersengal-sengal mengejar keharusan.

Malam ini kita hanya anak muda yang tidak tahu apa-apa, yang melamun dan tertawa bersama. Tapi mungkin itulah gunanya masa muda, untuk tidak terlalu memikirkan apa-apa, untuk berkenalan sebanyak mungkin dengan berbagai macam perilaku manusia, dan untuk menyelam berenang bersama dengan berbagai perempuan. Juga tentu saja untuk mencari jalan, jalan yang akan kita telusuri untuk menjemput impian.

Setelah tidur saya tidak bermimpi apa-apa, hanya saja jejak roda ban dan kerlap-kerlip panorama kota berbekas dalam bayangan, lagu-lagu yang diputar dan berbagai obrolan masih terngiang di kepala. Sebelum tidur saya hanya berdoa semoga saya dapat berjumpa dengan pagi yang menyenangkan. Dan itulah yang saya dapatkan, dan itulah yang sejak tadi mampir ke kamar saya. Tidak ada lagi yang lebih saya inginkan, tidak untuk melengkapi kisah di akhir pekan.

Jendela kamar masih terbuka, dan dinding-dindingnya masih terus melebar. Sementara itu musik pagi yang diputar masih membuat saya mengambang. Hanya saja permukaan teh yang saya buat sudah menyusut ke dalam gelas, walaupun begitu manisnya yang larut di dada masih terus terasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang Paling Banyak Dibaca

Arsip

%d bloggers like this: