Google+

Kenakalan Miriad Yang Singkat

Leave a comment

January 15, 2013 by willamnasution

DSC04104

Dikilauan hijaunya botol bir di bar yang temaram ini aku bersulang untukmu, sobat kecilku. Teman masa remajaku. Kau yang mengajakku untuk kabur saja dari rumah meski orang tuaku tidak mengijinkanku untuk pergi. Kau berandalan kecil, Miriad!

Ketika tatto belum sejamak sekarang dan segaya sekarang menjadi aksesoris tubuh yang wajar, kau sudah mengenakannya di lengan kananmu. Kau menyengir sombong padaku, tertawa nakal.

Kau mabuk dan bermain musik. Malam-malam kita bergadang dan menunggu giliran MTV memutar video-video indie. Kau yang katanya waktu SMP itu suka tidur dengan kakak perempuanmu dan memegang buah dadanya. Dasar kau gila! Hanya di malam-malam itu kau ingin menjadi anak kecil lagi dan memegangnya sesukamu.

Perpisahan kita terjadi ketika kau tidak selesai SMA dan ingin pergi ke Bali. Kau ingin menghirup lepasnya pantai di dada. Kau ingin mampir ke bar setiap saat, bergaul dengan siapa saja, bermain musik semabuknya, dan keluyuran dari tepi pantai ke tepi pantai lain, meluncur di atas papan, menatap lapangnya lautan. Menjadi muda selamanya.

Lama kita tidak berjumpa dan aku tidak tahu angin apa yang membawamu kembali ke Bandung. Mungkin rindu dengan kampung halamanmu. Mungkin orang tuamu sudah tidak tahan dengan kebengalanmu. Geleng-geleng kepala melihat anaknya menjadi hitam kulitnya, bertato disana-sini, berambut pirang, dan menunjukan sorot mata yang liar tapi berhasrat penuh ketika bermain musik.

Aku ingat sebelum itu kita suka nongkrong di pelataran gedung yang belum jadi. Menenggak vodka dan membakar kayu-kayu di dalam tong.

“Seperti di Bronx” serumu.

Kita tidur disana dan keesokan paginya ketika matahari menyapa, kita langsung berhamburan ke tempat pertunjukan musik underground. Kamu menari pogo bersama pusaran arus manusia, menghentak-hentakan kepalamu mengikuti irama, melompat dari panggung dan mendarat di hamparan tangan-tangan orang asing yang terus menerus menghanyutkanmu hingga akhirnya kamu terjatuh. Tapi kamu bangkit lagi dan berpogo lagi.

Seperti itu kiranya kamu menatap lautan di Bali ketika kamu terjatuh dari papan seluncur. Di bawah sana selalu ada yang menangkapmu ketika kamu jatuh. Kamu selalu menyanyi ketika nongkrong bersama. Kamu selalu tertawa, tawa bengal yang begitu senangnya menertawakan kelakuan aneh teman-temanmu.

Di malam-malam itu juga kamu pernah bertanya padaku, “Hei jika kamu mati nanti, kamu ingin masuk kemana? Surga atau neraka?”

“Tentu saja ke surgalah” jawabku.

“Ahh!” dia mengelak, “Yah mending ke nerakalah. Di neraka itu seru ada Sid Vicious, ada John Lenon, Jimi Hendrix, Bob Marley, Jim Morrison, Kurt Cobain, dan banyak lagi. Coba kalau di surga… ahhh paling juga ada ustad yang ceramah disana. Gak rame. Mending ke nerakalah” jelasnya.

Kita semua terbahak mendengarkan lanturannya. Terbahak dan agak mabuk dengan masa muda. Kita masih SMP waktu itu dan dia sudah berpikir sejauh itu. Surga dan neraka.

Tapi tidak lama setelah dirimu pulang dari Bali. Setelah gedung tempat nongkrong kita mulai beroperasi. Setelah kita lulus SMA dan mulai kuliah, kabar tentang kepergianmu menghampiriku.

“Miriad meninggal. Overdosis” ucap seorang teman. Siapa yang menyampaikan pesan itu aku tidak ingat lagi. Hal itu tidak penting dibanding isi kabarnya. Aku tidak ingat sama sekali. Aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku tidak percaya sama sekali.

Teman-teman yang dulu, teman-teman sepenongkrongan, yang merangkul malam gelap di pelataran bangunan yang belum rampung itu, tidak pernah berkumpul lagi kala itu, tidak ada vodka yang kita minum bersama atau tong yang kita nyalakan lagi apinya. Anak-anak kecil yang bengal dulu itu sudah berpencaran sekarang.

Aku terdiam di bar, seorang diri. Menenggaknya, bersulang untukmu, Miriad. Secepat itu ternyata kau ingin pergi. Secepat itu kau ingin bertemu dengan idola-idolamu. Secepat itu kau ingin berselancar di lautan yang abadi. Akankah kau pergi ke surga? atau neraka seperti keinginanmu waktu mabuk dulu? Akankah idola-idolamu itu akan menjadi teman nongkrongmu yang baru, yang kau tunjukan tattomu sambil menyengir sombong. Akankah kau bernyanyi, menari, dan bermain musik bersama mereka sambil mengitari tong yang terbakar?

Selamat jalan teman masa mudaku. Aku akan mengenangmu wahai kawan yang begitu bengal, aku tidak akan pernah lupakan cara jalanmu, caramu bernyanyi, dan semangatmu yang bergelora berhamburan ke lantai untuk berpogo bersama arus pusaran massa.

Sudah lama aku berjanji untuk tidak menenggak bir lagi, kawan. Sudah menahun aku bersih dari alkohol. Tapi kali ini, hanya untukmu sobatku, aku bersulang untukmu.

“Untuk Miriad!” seruku.

Kuangkat botolnya ke udara dan dalam temaram cahaya bar itu, botolnya yang hijau berkemilau. Waktu terasa begitu lambat dan kemilau cahaya botol bir itu terhisap kedalam mataku. Perlahan terhisap hingga kumemejamkan mata. Kuberharap kudapat keluar dari bar ini dan pulang ke rumah dengan selamat. Kuberharap kudapat pulang dari bar ini dan meninggalkan segala pertanyaan tentangmu di dalam botol kosong itu. Kau bajingan, begundal, berandal! Semoga kau tetap dapat tertawa disana, semoga sekarang kau lebih bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: