Google+

Pelukis dan Istrinya

Leave a comment

December 25, 2012 by willamnasution

FxCam_1331464347739

Bangun pagi untuk melukis. Menghirup udara dalam-dalam, dan setiap sel dalam tubuhnya seolah mendorong dirinya untuk pergi ke teras. Melihat keindahan yang tidak semua orang dapat melihatnya. Melihat sesuatu yang menyala dalam dirinya.

Ia tidak lagi mempertanyakan bagus atau buruk. Ia tidak lagi bertanya apa yang harus digoreskan di kanvas. Masih pagi benar ketika dia memulai ini semua. Ia melakukannya seolah tanpa berpikir. Seperti matahari yang meninggi. Seperti burung-burung yang mampir ke halaman belakang rumahnya, dan pepohonan rimbun yang ada disana.

Ia tidak memilih warna, tapi warna yang memilihnya. Ia tidak memilih bentuk, tapi bentuk itu tercipta seiring hembusan nafasnya.

Ia lupa harus sarapan atau bahkan meneguk secangkir kopi yang sudah disediakan oleh istrinya. Ia juga bahkan mungkin lupa siapa dirinya atau ada dimana dia sekarang. Di hadapan kanvas ia begitu guyub dan syahdu dalam waktu.

Tidak selintas pun terbersit dalam benaknya jika lukisan yang dia buat pagi ini harus selesai sekarang juga atau akan laku di pasaran atau nantinya hanya akan tersimpan di gudang. Ia hanya melukis dan melukis, menggoreskan warna demi warna, berkarya.

Istrinya melihat dari kejauhan apa yang dilakukan oleh sang pelukis. Tahun demi tahun berlalu, ia bertanya dalam hatinya apakah sang pelukis tahu jika waktu terus berjalan? Setiap hari pemandangan itulah yang dilihatnya selama puluhan tahun.

Kadang ia kesal karena tidak seperti pasangan normal lainnya yang disibukan oleh rutinitas pagi, ia harus merelakan suaminya pergi. Meski hanya berjarak beberapa langkah saja dari dirinya, tapi sang pelukis seolah pergi ke dunia lain, dunianya sendiri.

Rumah dan berbagai kebutuhan lainnya kadang terpenuhi selama sebulan dari lukisan yang dibuat sang pelukis. Tapi seringkali juga bulan demi bulan tidak ada satu lukisan pun yang berhasil dijual. Sang pelukis hanya tersenyum jika ditanya masalah uang. Apapun yang terjadi dia tetap pergi ke teras setiap pagi.

Dalam hatinya ia tahu, apapun masalahnya, sang istri dapat menyelesaikannya. Ia tahu istrinya kadang menjual perhiasannya sendiri, kadang menggadai barang-barang elektroniknya, kadang pergi untuk meminjam uang pada siapa saja, semua dilakukannya hanya untuk menyambung hidup mereka. Tapi terkadang dia masih terkejut bahwa itu harus dia lakukan juga. Tidak mudah menikah dengan seorang pelukis. Tidak semua perempuan bisa.

Karena itu juga sang pelukis begitu mencintainya. Dari tahun ke tahun beberapa lukisan yang menakjubkan tentang istrinya tercipta. Dari dunianya sang pelukis selalu mengagumi istrinya. Dan dengan cara itu, tanpa bahasa, mereka guyub dan syahdu dalam waktu.

Anak-anak mereka sudah besar semua sekarang. Hanya sesekali berkunjung ke rumah. Dan mereka pun begitu sayang pada sang pelukis. Dari goretan warna dan bentuk itulah mereka dapat sekolah dan mandiri hingga sekarang.
Wahai sang pelukis, tidakkah kau lelah dengan lukisan? Wahai sang pelukis tidakkah kau lelah dengan dunia dan waktu yang terus bergulir entah kemana? Wahai sang pelukis, apatah tujuan dari semua lukisan yang kau buat?

Sang pelukis tidak pernah banyak berbicara, yang dia lakukan hanya melukis setiap pagi. Ketika ada seorang wartawan bertanya tentang itu semua padanya, dia hanya tersenyum dan memandangi istrinya. Menatapnya penuh kagum dengan mata yang menyala-nyala.

“Saya tidak pernah memilih atau meminta menjadi seorang pelukis” ucapnya suatu hari, “Dulu saya tidak pernah banyak berpikir akan jadi apa saya nanti. Suatu hari saya bangun dari tidur dan melakukan, hanya melakukan apa yang benar-benar saya lakukan. Dan itu ternyata melukis”

Itu obrolan terpanjang yang pernah saya lakukan dengan sang pelukis. Dalam hati saya, saya bertanya apakah sang istri tahu betapa dia mengaguminya? Oh tentu saja, betapa bodohnya pertanyaan itu. Karena itu pula setiap paginya ia dengan setia menunggu sang pelukis pulang dari peraduannya. Karena itu pula setiap harinya ia rela berkorban hanya untuk melakukan semua demi sang pelukis, hanya untuk menjadi istrinya, seseorang yang tidak semua perempuan bisa. Ia menyadari itu dan ia bangga.

Saya pulang ke rumah dan bertemu dengan istri saya sendiri. Saya menceritakan kisah sang pelukis padanya. Ia tersenyum begitu juga dengan saya.

“Hanya bersamamu segalanya menjadi berarti,” bisikku, “Terima kasih kamu telah menjadi istriku selama ini. Terima kasih untuk semua, sayang”

Kutatap istriku dalam tidurnya. Kuharap dia tahu bahwa itulah yang sebenar-benarnya apa yang kurasakan. Dan seperti juga sang pelukis, sepertinya tidak sehari pun atau sedetik pun kiranya dia bisa menjadi seperti dirinya sekarang jika tanpa istrinya.

Pagi telah membangunkan dunia. Dan meski saya sudah tidak melihatnya lagi, dalam hati saya, saya tahu sang pelukis tetap pergi ke terasnya. Istrinya membuatkan kopi yang ia tahu dan semua orang yang mengenalnya juga tahu, bahwa kopi itu tidak akan diminummnya hingga nanti, tapi ia tetap membuatkan untuknya dengan sepenuh hati.

Kehidupan terus bergulir. Anak-anak pergi ke sekolah, jalanan kembali dipenuhi oleh lalu lalang kendaraan. Kota terus berkembang dengan berbagai pembangunan. Saya dan istri saya pun pergi bekerja ke kantor masing-masing. Seolah semuanya tidak pernah berhenti.

Ingin saya pergi kembali ke rumah sang pelukis, menemaninya seharian, berdiam melihatnya mengerjakan lukisan. Hanya di teras rumahnya itu waktu seolah berhenti. Karena setiap kembali menjejakkan kaki disana saya merasa seperti anak kecil lagi, dan sampai kapanpun juga sang pelukis itu akan tetap menjadi ayah saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: