Google+

Prolog

Leave a comment

March 13, 2012 by willamnasution

FxCam_1309225334455

Saya pernah berpikir bahwa bercita-cita menjadi penulis novel mungkin suatu ide yang buruk. Diantara lorong-lorong buku perpustakaan, tempat yang begitu menyenangkan. Statistik menunjukan sepanjang sejarah lebih banyak penulis yang hidupnya menderita ketimbang bergelimang harta atau bahagia. Sayangnya, meskipun begitu saya tetap ingin menjadi seorang penulis.

Mungkin itu adalah kesalahan terbesar dalam hidup saya.

Tapi seperti semua kisah yang lestari dalam setiap masa, semua berawal dari kesalahan. Bayangkan jika semua berjalan dengan benar, jika semua berjalan seperti yang direncanakan atau jika semua berjalan seperti semestinya, tidak akan ada cerita-cerita yang seru dan menarik. Semua akan terlalu membosankan.

Saya, kamu, anda dan setiap manusia cenderung untuk melakukan hal yang benar sepanjang hidup kita. Kita takut jika berbuat salah. Sebisa mungkin kita menghindarinya.

Padahal kesalahan-kesalahan telah memberikan warna pada hidup kita. Kesalahan telah memberikan begitu banyak pelajaran. Dalam hidup saya kesalahan telah mengajari saya jatuh dan bangkit kembali, menjadi seseorang yang baru.

Seseorang yang bermimpi untuk menjadi seorang penulis novel.

Salahkah itu? Mungkin hidup sebagai seorang penulis novel tidak masuk akal. Tapi orang-orang yang tidak masuk akal telah membentuk pikiran jaman, budaya, semangat, filosofi, sepanjang sejarah manusia. Para pemimpi itu.

Mengambil beberapa buku di perpustakaan. Membacanya sendirian di sudut kafe. Jendela yang besar dengan hujan yang tengah membasahi kota. Suasana begitu sendu diluar sana tapi justru begitu tenang. Semerbak kopi mengisi ruang, orang-orang yang berbincang di meja lain, senandung lagu yang pelan. Semua tidak mengganggu. Hanya ada dirimu, buku yang kamu baca, dan hujan diluar sana.

Saya merasa berada disana dalam waktu. Seperti juga ketika saya sedang menulis sesuatu di laptop saya. Tulisan-tulisan dari masa ke masa, mengambang, tak berujung, mencari arah, muara. Tualang kata-kata. Beberapa diantaranya ada yang menjadi novel. Novel dengan adegan-adegan pembuka yang tidak saya lupakan.

Pertama, ketika sang tokoh berdiri di sebuah trotoar di depan penjaja cermin. Dia melihat dirinya sendiri disana, di berbagai ukuran kotak cermin. Kota sedang mendung.

Saya ada disana.

Kedua, ketika sang tokoh utama sedang menghisap dalam-dalam rokoknya. Di sebuah malam buta di jalan tol yang sepi. Siap untuk masuk ke dalam mobilnya. Melakukan balapan mobil mundur, bukannya maju.

Saya ada disana.

Ketiga, ketika sang tokoh utamanya sedang melihat-lihat koleksi foto pigura milik seorang tuan rumah, yang juga penulis favoritnya. Disana dia melihat sebuah foto balon-balon yang tersangkut di atas pohon.

Saya ada disana.

Sayangnya, belum ada satupun novel saya yang diterbitkan. Tapi biar saya ceritakan kembali mengenai kesalahan. Di kamar berjajar buku-buku di rak-raknya. Disana tiga penulis favorit saya juga telah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya.

Pertama, Herman Hesse. Semasa Perang Dunia II dia mungkin satu-satunya orang Jerman yang lantang menyuarakan antiperang. Sehingga dia harus kabur dari negaranya, dan tentunya dikucilkan. Dianggap pengkhianat oleh teman sebangsanya sendiri.

Kedua, Milan Kundera. Dia menentang pendudukan negaranya, yang waktu itu masih Cekoslovakia, oleh komunis pada tahun 60an. Sehingga dia dijadikan buron, dan akhirnya harus melarikan diri ke Prancis. Setelah itu dia tidak bisa kembali ke negaranya sendiri.

Ketiga, Haruki Murakami. Di tahun 90an Murakami memiliki sebuah restoran yang sukses di kotanya di Jepang. Tapi kemudian dia memilih untuk menutupnya, dan menjadi seorang penulis.

Hesse dinyatakan salah oleh teman dan saudara setanah air, Kundera divonis salah oleh pemimpin yang berkuasa, sementara Murakami dinyatakan salah oleh akal waras orang-orang yang mengenalnya dan juga pelanggannya. Mereka semua bersalah. Mereka semua dalam satu waktu dinyatakan melakukan kesalahan oleh publik. Tapi apa yang mereka lakukan semata-mata karena mereka setia pada suara hatinya. Sesalah apapun kondisinya saat itu.

Saya ingin ada disana.

Ensiklopedia di perpustakaan bergeletakan di meja. Membuka-buka halaman sejarah. Dua orang bersaudara mungkin dianggap salah dan tidak waras karena bermimpi ingin terbang. Tapi sekarang kita berterima kasih pada mereka, William bersaudara, yang karena merekalah kita dapat melakukan perjalanan udara.

Jauh di jaman purba lalu beberapa orang mungkin dianggap sinting oleh sukunya karena ingin mengontrol api. Tapi berkat pikiran mereka yang tidak lazim itu maka kemudian kelompoknya dapat menerangi malam, memasak, dan menghangatkan badan.

Lalu jika Christopher Columbus tidak ngotot ingin berlayar ke India dan tidak membeli peta yang salah, benua Amerika mungkin entah kapan diketemukan. Dan jika ditelusuri lagi masih banyak kesalahan yang telah membentuk hidup kita. Bahkan sejak awal keberadaan kita.

Orang-orang di jalanan. Orang-orang di tempat jual beli. Orang-orang di rumah peribadatan. Dikisahkan manusia tidak akan turun ke muka bumi jika Nabi Adam tidak melakukan kesalahan. Dia mengikuti hawa nafsunya, dan karena kesalahan itulah kita semua ada di dunia sekarang. Melakukan kesalahan adalah mungkin sudah menjadi kodrat kita semua.

Berjalan kaki, lalu berhenti di sebuah taman untuk kembali membaca buku. Melalui kisah Nabi Adam sebagian orang menafsirkan bahwa kita terlahir dengan dosa, sebagian lain menafsirkan bahwa setan akan senantiasa mengganggu kita. Melamun angkasa. Tapi bagi saya sejatinya kisah Nabi Adam mengajarkan pada kita bahwa setiap manusia tidak mungkin bisa lepas dari kesalahan.

Namun justru dengan berbuat salah itu kita mendapatkan pelajaran, sebuah makna, sebuah penemuan diri. Suatu bekal yang akan kita bawa sampai mati.

Lewat kesalahan, Tuhan mengajarkan sesuatu. Ikuti saja kata hatimu, meski itu jalan setapak. Karena tidak ada jalan raya yang menuju ke puncak, tulisku. Lalu lalang jalanan kota yang padat menjadi lengang di kala malam. Perjalanan menemukan keberhasilan adalah jalan yang sunyi dan seringkali melelahkan. Percaya dan setia padanya, sekalipun banyak orang atau bahkan dirimu sendiri menganggap bahwa itu suatu kesalahan. Sekalipun novel-novelmu belum pernah diterbitkan.

Saya ada disana, bersama dalam waktu, sejak masih jadi anak mahasiswa yang lebih sering menyendiri membaca buku. Tapi kemudian cuaca diluar sana berubah, usia bertambah. Sudut-sudut kafe pun berganti, sofa atau kursi yang diduduki berubah bentuk, seperti juga jendela, begitu juga dengan suasana dan segala perabot interiornya. Berbeda tempat, berpindah-pindah.

Lambat laun ada seorang perempuan yang suka menemani. Menyapa saya dengan riang dan sepenuh hati. Dan dengan senang hati juga buku saya simpan dan laptop saya tutup jika dia datang. Obrolan-obrolan mengisi ruang-ruang diantara kita. Membicarakan aku-kamu tiada bosan. Menyimak, mengoceh, bercanda, mencurahkan isi hati dan pikiran. Tiada henti. Hingga akhirnya aku-kamu itu dalam suatu waktu menjadi satu. Dan akhirnya pula dia, perempuan itu, menjadi istri saya.

Parasnya yang riang dan sorot matanya yang terang. Wangi rambutnya, wangi tubuhnya, wangi nafasnya, terbawa mimpi. Tak pernah lepas dalam pelukan. Penampilannya tidak pernah risih untuk makan di pinggir jalan ataupun datang ke acara resmi. Dia selalu bisa terlihat menarik. Dia selalu bisa menemukan dirinya sendiri dalam setiap suasana.

Senyumnya, berpendar cahaya. Berjuta kali dalam waktu.

Dia cantik karena menjadi dirinya sendiri, gayanya sendiri, pikirannya sendiri. Tapi yang paling penting dia pikir cita-cita saya menjadi seorang penulis bukanlah suatu ide yang buruk. Dia menyukai tulisan-tulisan saya. Dia sangat suka membacanya.

Sejak tadi kita berdua sedang duduk di sebuah sudut kafe. Lalu dia bertanya apa yang sedang saya lakukan. Saya jawab saya sedang menulis adegan pembuka untuk novel saya. Seperti apa ceritanya, kemudian tanyanya.

Diceritakan seorang pemuda yang baru saja menikah sedang menulis di meja kamarnya. Dia sedang menulis di sebuah kafe. Dia sedang menulis di kantornya. Dan setiap kali dia mau mulai menulis disana, dia selalu menoleh ke jendela. Melamun jauh bersama angkasa. Berpikir bahwa disitulah tempat dia berada. Bersama tulisannya.

Kami berdua tersenyum. Seperti waktu pertama kali jumpa. Seperti beribu kenangan yang tersimpan dalam masa. Seperti menahun kemudian saat kita bertambah tua bersama. Saya tahu seperti dia tahu cerita itu tentang siapa. Saya juga tahu seperti dia juga tahu bahwa novel itu mungkin tidak akan pernah terbit atau bahkan tidak akan pernah selesai. Tapi kami berdua akan tetap menyukainya.

Benar atau salah hatimu yang paling tahu. Benar atau salah kita harus tetap memulainya bagaimanapun juga. Benar atau salah kita harus menjalaninya. Karena saya percaya, seperti sebuah tulisan di pembatas buku yang pernah saya baca, bahwa yang paling aman untuk sebuah perahu adalah berlabuh, tapi perahu tidak diciptakan untuk itu.

Jendela-jendela. Tulisan-tulisan itu. Angkasa. Samudra. Bertebaranlah. Berpencaran ke segala arah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: