Google+

Di Bawah Langit Malam Toskana

Leave a comment

October 29, 2011 by willamnasution

Catatan: Toskana (Toscana; Italia. Tuscany; Inggris) sebuah wilayah yang subur di tengah Italia dengan Firenze (Florence) sebagai pusat kotanya.

Di bawah langit malam Toskana yang hangat, di halaman belakang sebuah mansion kita berkumpul bersama puluhan bahkan mungkin ratusan orang asing. Menghadiri sebuah malam pertemuan yang begitu dinantikan.

Masih kusimpan fotonya ketika dia mulai menyewa sebuah kamar kostan untuk dijadikan tempatnya menulis. “Ini kantorku, sayang” ucapnya waktu itu. Dia menulis dengan bahagia disana, di kamar yang sempit itu. Dia menulis dan menulis kadang tak ingat waktu atau makan sekalipun.

Aku tidak pernah menyangka kita akan sampai disini. Di mimpi yang pernah dia bisikan dulu ketika kita masih menumpang tidur di rumah orang tuaku. Tapi disinilah kami. Diantara redup cahaya taman dan obrolan yang menghangatkan.

Dia lebih banyak senyum dan terbata-bata ketika diajak bicara dengan bahasa Italia, Prancis dan sekali-kali dalam bahasa Inggris. Dan sesekali dalam obrolan itu dia memperkenalkan aku. This is my wife, dia bilang. Je vous presentez ma femme. Mia moglie.

Dia tersenyum padaku, seperti dia tersenyum ketika di foto itu, menulis di depan laptop yang waktu itu masih belum mampu dia beli sendiri. Hadiah dari kakaknya.

Tapi waktu bergulir dan berkali-kali tulisannya ditolak. Novelnya tidak diperhatikan sama sekali. Dalam jatuh bangun itu dia tetap menulis, dan mencoba halaman baru lagi. Berkali-kali hatinya longsor karena tidak yakin dengan apa yang dia kerjakan. Dan sekarang disinilah kami.

Ketika namanya dipanggil untuk mengucapkan sebuah pernyataan atas undangannya malam ini, semua orang memerhatikan dia berjalan menuju podium kecil. Diantara langkah itu semua orang bertepuk tangan, semua orang tersenyum ke arahnya. Dan dia membalas senyum itu dengan sudut air mata.

Aku juga.

Aku merasakan kurang lebih bagaimana itu semua bisa terjadi. Bagaimana mimpi ini bisa mewujud. Ini sama sekali tidak mungkin. Aku ingat di hari dia mendapatkan undangan ini. Di rumah dia berteriak memanggil-manggil namaku hingga membuatku berlari ke arahnya. Aku kaget sendiri. Dan dengan gestur wajah yang sama girangnya seperti ketika dia menunggu tepuk tangan semua orang itu selesai, waktu itu dia berseru: “Kita akan pergi ke Italia!”

“Apa?!” aku tak percaya sama sekali.

Lalu ketika dia tidur malam itu. Aku terjaga dan menahan tangisku sendiri. Aku berjalan ke kamar mandi, dan dari cerminnya aku bisa melihat suamiku tertidur. Dan aku sendiri tak percaya, masih tak percaya, bahwa ini semua bisa terjadi. Terima kasih Tuhan. Terima kasih Kau telah menjawab segala tanya yang suamiku simpan berpuluh tahun ini.

Bahwa dia memang seorang penulis. Bahwa novelnya diapresiasi dan diakui oleh orang banyak. Dan kini novelnya akan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Oh Tuhan.

Grazie. Merci. Thank you, ucap suamiku berkali-kali hingga akhirnya semua berhenti bertepuk tangan. Taman belakang mansion di Toskana ini lebih dari apa yang aku bayangkan. Mimpi ini lebih indah dari mimpi yang sebenarnya.

Aku masih tidak percaya, tapi inilah yang terjadi dengan cerita hidupnya. Seseorang yang begitu ragu dan bimbang dengan apa yang dilakukannya. Seseorang yang tadinya tidak dikenal sama sekali oleh siapa-siapa. Tapi dia dan selalu seperti yang dilakukannya selama kutahu, mengikuti suara hatinya.

Suamiku menyebutku lagi dari podium, dan semua orang menengok ke arahku. Aku tersenyum balik pada mereka seraya melambaikan tangan pada semua orang, pada dunia, pada mimpi-mimpi, pada semua novel yang pernah ditolak penerbit, pada semua hari buruk yang pernah kita alami bersama, pada keyakinan yang longsor, pada amarah-amarah frustasi yang menyekap dada. Pada semua.

Di bawah langit malam Toskana kini aku merasa begitu lega. Bahwa aku telah berhasil menemani suamiku. Bahwa aku telah selesai melaksanakan satu tugasku. Semoga suamiku selalu bahagia. Semoga Tuhan selalu melindunginya. Sekarang aku tidak menginginkan apa-apa. Apa yang ada ini sudah lebih dari semua.

Aku mengeluarkan kamera dari tas kecilku, dan kufoto dia ketika berbicara. Aku tak sabar untuk menyandingkan foto itu dengan fotonya ketika dia dengan bahagianya mengetik di kantornya yang sempit itu. Ternyata pada malam inilah cerita-ceritanya membawa kita. Cerita hidup kita.

Sulit kupercaya bahwa cita-citanya telah mewujud nyata. Inilah yang pernah dia bisikan di malam-malam penuh kenangan berpuluh tahun yang lalu di awal aku tidur dengannya. Dia, suamiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: