Google+

Berjuta Kali Dalam Waktu

Leave a comment

October 23, 2011 by willamnasution

Pernahkah kamu perhatikan hasil sapuan kuas cat di dinding? Tekstur bergaris, tapi semua dalam satu warna. Kamarku penuh dengan rindu padamu. Asap rokok mengepul. Lampu redup, lagu merdu. Minggu malam, samudra yang tenang.

Seharusnya aku tidak menulis malam ini. Minggu malam adalah hari libur bagi semesta. Tapi garis tekstur sapuan cat abu muda di kamarku membuatku menyalakan komputer. Aku tadinya hendak membaca buku. Menonton film. Atau mungkin tidur.

Ingatkah lampu kecil yang seperti lampu Natal yang selalu kudambakan ada di kamar? Lampu kecil-kecil seperti bintang, seperti tiduran di taman. Lampu yang biasa menghias kafe-kafe yang centil dan gaul. Lampu itu kini dengan sengaja kunyalakan. Ada kamu dimana-mana. Tidak hanya di sapuan kuas cat yang menempel di dinding. Tapi di supermarket. Di dalam mobilku yang kosong. Di buku saat kuhendak membuka halaman. Di sudut mataku seketika aku akan menoleh. Di cerobong hatiku yang menguap menggapai udara kebebasan.

Puisi-puisi rindu itu sudah usang. Musim-musim berganti di dada. Kukira berulang. Tapi setiap musim adalah pengalaman yang baru. Setiap hari adalah judul rindu yang baru. Dan setiap minggu, setiap bulan yang kuinginkan adalah berjumpa denganmu. Memelukmu dalam berbagai baju.

Aku belanja makanan sendiri sekarang. Aku beli baju sendiri sekarang. Ya aku akan berjumpa lagi denganmu, batinku. Tapi bulan yang bersandar di malam ini adalah apa yang kurasakan sekarang. Sapuan cat, lagu merdu, tulisan-tulisan.

Tahukah kamu kuobati rasa itu dengan melakukan segalanya seperti normalnya ketika kita sedang bepergian. Kubeli snack yang biasa kamu beli, dan biasanya ku tak suka. Kupeluk bajumu, seperti biasanya kamu rindu, padahal ku tak pernah mau melakukannya. Kuambil mi goreng yang biasa kamu titip belikan, padahal aku tidak biasa memakannya. Kubeli baju-baju yang dulu kamu pernah pilihkan dan bilang bagus padaku.

Kamu tetap ada disini meskipun kamu tak ada. Kunyalakan lampu-lampu kecil itu. Aku tak tahu apakah aku bahagia atau tidak. Aku tak tahu apakah semua baik-baik saja atau tidak.

Terlalu banyak yang ingin kuceritakan padamu. Terlalu sering kita sudah bersama. Kini hari-hari menganga. Aku takut dirimu tak hadir lagi nanti. Aku takut semua tidak kembali seperti semula. Seperti pigura yang biasa aku geser sedikit di kamar agar persis seperti keadaannya semula.

Aku tahu kamu juga rindu. Aku tahu kamu juga tahu bahwa aku menunggu. Aku percaya kamu merasa apa yang kurasa. Sekarang di kejauhan semakin terasa bahwa ciuman tanganmu yang biasanya kamu lakukan itu adalah sebuah keistimewaan. Kau tak akan terganti. Semua menjadi lupa entah siapa itu aku atau kamu. Kita.

Rasanya ingin sekali kembali ke setiap waktu ketika mata kita bertemu. Dan memelukmu, dan mengatakannya padamu, aku tidak ingin pernah kehilangan itu. Setiap tatapan itu berharga bagiku.

Jauh darimu menyadarkan aku bahwa waktu-waktu yang kita habiskan bersama, yang kita bagi, yang kita jalani, adalah waktu-waktu terbaik dalam hidupku. Kucium bumi dan mengamini. Kupandangi dinding kamarku, dan garis-garis itu mengetahui. Garis hidupku, garis-garis lintasan hidup manusia. Yang kita pikir angkasa itu biru. Padahal disanalah garis alam semesta telah torehkan cerita-cerita dalam waktu.

Semua berarti bila ada denganmu. Ujung-ujung rambutmu yang basah. Suaramu. Sipumu. Batinku.

Kurindu besok, minggu depan, dalam nama hari yang selalu berulang. Kurindu, kupeluk dirimu dalam bayangan. Kurindu, berjalanlah yang aman. Semoga cerita kita masih akan terjalin bersama. Semoga lampu-lampu kecil itu cukup untuk membawamu kejalan pulang. Ke hatiku, tempat dirimu berada. Tempat cerita-ceritaku mengalir ke samudra. Tempat harapan tergantung setinggi-tingginya. Dan kita jalani itu semua dengan bahagia.

Sudahkah kukatakan jika aku rindu padamu?

Kamu pasti sudah tahu.

Aku rindu padamu. Berjuta-juta kali dalam waktu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang Paling Banyak Dibaca

Arsip

%d bloggers like this: