Google+

Mimpi Untuk Kota

Leave a comment

May 4, 2011 by willamnasution

DSCN8794

Siapa yang merindukan untuk berjalan-jalan dengan asyik di tengah kota? Siapa yang merindukan taman atau museum atau perpustakaan mana lagi yang harus kita pilih untuk sore ini? Bagaimana dengan berbagai gedung pertunjukan atau galeri-galeri?

Satu hal yang tidak perlu kita lakukan dalam kegiatan-kegiatan tadi adalah kita tidak perlu membayar. Jikapun ada transaksi itu hanyalah sekedar administrasi, bukan taksiran atas nilai dari suatu produksi.

Tapi sayangnya kita semua adalah generasi yang dibesarkan oleh jual-beli. Pengalaman kota kita lebih dibentuk dari satu pusat perbelanjaan ke perbelanjaan lain. Dari satu tempat makan ke tempat makan lain. Dari satu tempat hiburan ke tempat hiburan lain. Dst.

Memori kita lebih banyak pada produk ketimbang makna-makna yang kita dapatkan. Kita lebih menyimpan banyak dialog dengan diri sendiri ketika kita menimbang untuk memutuskan membeli sesuatu. Ketimbang, ambilah contoh, pelajaran yang didapatkan dari hari yang sudah kita lalui.

Coba rentangkan sejarah diri kita, maka akan lebih mudah untuk mengingat pakaian apa saja yang kita miliki sejak kecil hingga kini. Baju, celana, jaket, topi, dsb. Menyenangkan memang merentangkan sepatu yang pernah kita miliki sejak dulu, atau ponsel atau jam tangan atau tas atau dsb.

Produk-produk itu menjadi sebuah memorabilia dari suatu masa, suatu trend yang mengikat kita dengan jaman dan orang-orang yang ada disekitar kita. Tapi itu semua tergantung dengan jumlah uang yang kita miliki pada saat itu, atau yang orang tua kita miliki. Tidak semua orang seberuntung kita dalam hal itu.

Tapi bayangkan orang yang tumbuh kembang dengan melihat bentang pegunungan dari jendela kamarnya. Bayangkan orang yang bertambah besar sambil terjaga dengan kabut di pagi hari setiap harinya. Bayangkan orang-orang yang ketika kecilnya menghabiskan waktu bermain di taman-taman, sungai yang jernih atau hijaunya sawah. Hal-hal seperti itu mungkin tidak ternilai harganya.

Bayangkan bagaimana setelah waktu-waktu yang dihabiskan di perpustakaan pikiran seseorang bisa begitu penuh pilihan untuk menentukan jalan hidupnya. Bayangkan bagaimana sebuah pertunjukan, anggaplah sebuah tarian, teater atau pertunjukan musik telah mengubah hidup seseorang dan membuka matanya terhadap dunia. Bayangkan bagaimana sebuah museum dapat membuat seseorang jatuh cinta terhadap sejarah dan membentuk karakternya.

Semua kegiatan itu tidak terkait dengan jual beli. Pengalaman personal yang penuh makna, menggugah pikiran, dan menentukan bagi kehidupan seseorang itu tidak ada hubungannya dengan pemasaran atau kemasan atau sejumlah uang yang perlu dipertimbangkan.

Inspirasi bukan suatu produk. Ide tidak bisa muncul tanpa sebuah pemicu. Dan inspirasi juga ide itu berpindah dari suatu ruang atau suatu orang ke orang lain, ke ruang lain. Kemudian hasil dari inspirasi juga ide itu menyebar, berkembang, mekar dan mati untuk hidup dengan berjuta cara.

Apa lagi peran penting seorang manusia, insan, individu, bagi orang lain selain memberikan inspirasi, saling menginspirasi? Dan berapakah harga yang pantas agar seseorang mau memberikan inspirasi? Itu bukan pekerjaan! Tapi itu adalah salah satu fungsi mengapa ada kamu dan aku disini. Kita saling mendukung, menahan jika terjatuh, menemani dengan segala kritik dan pengakuan. Apakah itu semua perlu dibayar? Tidak. Hidup seperti juga dunia tidak memerlukan karcis untuk dijalani, alam semesta bukan kompleks yang dikavling dengan harga yang sudah ditentukan oleh bank, pasar, kreditur, investor atau siapa saja.

Ketika kita dilahirkan bukan hanya makan dan minum yang dibutuhkan. Tapi juga yang sama pentingnya adalah kasih sayang. Dan siapa yang bisa menaksir harga kasih sayang itu? Kiranya itulah inti kehidupan. Dan kasih sayang seperti juga rintik hujan dan sinar matahari, siang dan malam, tidak bergulir karena sejumlah nilai mata uang.

Lalu apakah uang itu penting? Ya, tapi itu bukan satu-satunya. Kita harus mengembalikan ruang-ruang dalam hidup kita. Taman, perpustakaan, museum, gedung pertunjukan, galeri dan ruang-ruang publik lainnya. Tanpa berbayar, kecuali untuk sekedarnya. Agar inspirasi itu mengalir, menyebar, mekar. Dari kota untuk warganya yang kemudian akan menjadi sebuah timbal balik, dari warga kembali untuk kotanya. Sebuah siklus abadi antara warga dan kota.

Saya kira uang telah menyekat kehidupan kita sedemikian rupa. Di ruang-ruang publik sekat-sekat itu dapat melebur menjadi sebuah rumpun ikatan warga kota. Saya mendambakan kota yang seperti itu. Saya merindukan kota yang seperti itu. Gelak tawa anak-anak di taman-taman, riang berlarian. Hening keterpukauan di museum-museum. Teks yang membuka pikiran, meliarkan mimpi, memberikan semangat yang luar biasa nyaris tanpa suara di berbagai perpustakaan. Indera-indera yang terbuai dengan selipan arti juga filosofi di panggung-panggung pertunjukan. Galeri-galeri yang mengajarkan kita berbagai bentuk, warna dan makna. Dst.

John Lennon pernah berkata “You may say i’m a dreamer. But i’m not the only one”. I know I’m not the only one. Saya tahu saya tidak sendirian. Jangan biarkan apatis melindas harapan. Walt Disney dikubur tanpa melihat jadinya Disneyland. Van Gogh mati tanpa merasakan sekalipun lukisannya diapresiasi apalagi dibeli dengan harga tinggi. Berapa banyak pejuang kita yang meninggal di medan perang tanpa melihat fajar kemerdekaan?

Kita semua pada waktunya akan meninggalkan hidup ini. Tapi mimpi dapat bertahan untuk jangka waktu yang lama, mungkin selamanya. Dan mudah-mudahan saja, suatu hari nanti, mimpi itu bisa menjadi nyata. Setidaknya untuk anak-cucu kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: