Google+

Selepas Hujan

Leave a comment

April 16, 2011 by willamnasution

Betapa senangnya bisa menikmati hujan. Melihatmu diantara mendung, mengguyur badanmu di kamar mandi dengan air hangat, asap mengepul. Senyum simpul.

Di kamar yang ditata apik, sesuai dengan keinginan kita. Ketika setiap barang adalah memorabilia. Kopi mengepul.

Jalanan sepi. Orang-orang diam di rumahnya. Kita tidak peduli. Ada senyummu, ada kopi. Lagu lembut menyelimuti ruang. Dan buku-buku yang menyenangkan.

Indah dunia. Mentari-mentari bersinar lewat mata. Tidak ada kemarin atau esok. Hanya waktu yang mengalir, riak-riak perlahan.

Menatapmu menatapku. Bermalas-malasan. Mendung di langit membuat lambat semua. Kita hadir disini, diantara mimpi. Dan udara terasa luar biasa, dan embun diatas dedaunan terasa menakjubkan. Dan kata-kata kehilangan fungsinya. Gerak yang tidak pernah tidak pada tempatnya. Hela nafas yang ternikmati di setiap hembusan.

Kita diam dan diam. Terpesona semesta alam. Sadar bahwa dalam kesepian kita bisa saling bersama. Mengetahui bahwa ketika jatuh akan ada kamu disana. Terberkati karena dalam balutan suasana kusadari dengan pasti kau selalu ada.

Senang, bukan kata yang tepat. Bahagia tidak mencakup isi jiwa. Bersyukur hanyalah bumi dan langit yang kita agungkan. Tidak perlu ada yang dijelaskan. Senyum yang terkulum sudah cukup menggambarkan.

Kucoba baca pikiran yang melintas di kepalaku. Isi hatimu. Tuhan, ternyata kita ada disini. Tuhan, kiranya seperti inilah langit yang turun ke bumi. Menjelma kehidupan. Waktu yang tidak pernah terbuang. Masa yang lingkupi aku.

Selamanya hidup. Jantung berdegup. Denyut nadi yang seirama dengan hujan yang reda. Kita telah berjuta kali hidup dalam impian ini. Kita telah berulang kali membicarakannya, dan akhirnya, pada ujungnya yang kita inginkan adalah sesuatu yang sederhana.

Aku dan kamu dalam waktu. Apalagi yang lebih indah daripada itu? Ketika segalanya begitu mudah dicerna. Ketika segalanya begitu bulat terasa. Ketika segala yang kita miliki hanyalah kita. Cerita demi cerita, mengalir riak-riak perlahan, gemericik air, merasuk, menjelma, satu peribahasa purba.

Hidup kita sendiri. Selamanya. Tak terganti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang Paling Banyak Dibaca

Arsip

%d bloggers like this: