Google+

Radiohead & Dr.Cipto (Bagian II)

Leave a comment

November 5, 2010 by willamnasution

Setelah era pertunjukan teatrikal Pink Floyd, lahir sebuah masa yang disebut dengan era glamrock. Dan di pentas musik Inggris, masa itu muncul bersamaan dengan seorang penyanyi bernama David Bowie.

Bowie berdandan serba wah, rambut gondrong yang dicat merah, mengenakan riasan wajah, anting, dan segala hal yang membuatnya tampil glamor. Lalu selang berpuluh tahun kemudian Bowie tampil dalam film arahan sutradara Christopher Nolan. Dalam film ”The Prestige” itu peran Bowie memang tidak terlalu banyak.

Nolan yang hingga kini dikenang sejarah sebagai pembuat film Batman terlaris, dengan ”Batman Begins” dan ”The Dark Knight”, menjadikan lagu Thom Yorke sebagai lagu pengiring kredit titel dalam film dimana Bowie tampil tersebut.

Thom Yorke, vokalis Radiohead adalah band favorit saya. Saya memiliki poster album mereka ”Paranoid Android” yang terpampang di dinding kamar. Bagi saya setiap lagu dari album itu menyimpan berbagai emosi, karena sebagai anak belasan tahun ketika pertama kali menyimaknya, album tersebut membuat saya melihat dunia dengan cara yang berbeda.

***

Orang-orang mungkin mengenal Radiohead, Blur, Weezer, Nirvana, U2, The Cure dan lain sebagainya. Tapi siapa yang tahu tentang Pixies, band asal Boston yang terbentuk pada pertengahan tahun 80an? Saya kira tidak banyak atau mungkin tidak ada.

Orang-orang tahu betul siapa Sukarno juga Sutan Sjahrir. Tapi siapa yang mempelajari Dr. Cipto Mangunkusumo di sepanjang pelajaran sejarah di sekolah? Saya kira juga tidak banyak.

Lagu Nirvana ”Smells Like Teen Spirit” yang menjadi hit merupakan lagu yang mirip sekali dengan irama lagu Pixies. Saking mirip atau bisa dibilang jiplakan banget lagu Pixies, Nirvana sempat ragu untuk merilisnya. Pixies adalah band favorit mereka.

Di lain waktu Thom Yorke mengungkapkan kalau Pixies adalah salah satu band yang merubah hidupnya. Dan ketika dalam sebuah festival konser, Pixies kemudian di simpan oleh panitia menjadi band yang tampil sebelum Radiohead, Thom Yorke protes, berkoar bahwa itu sama saja dengan The Beatles menjadi band pembuka Radiohead.

Vokalis Blur, Damon Albarn, mengaku ketika dia membentuk Blur pada awalnya mereka ingin terdengar seperti Pixies. Rivers Cuomo, vokalis Weezer, ketika dia baru pindah ke LA dan mendengar Pixies, mengatakan dan saya mengutip ucapannya ”cool music” dan ”blew my mind”.

Kemudian sewaktu Pixies bubar adalah David Bowie yang menyayangkannya dengan komentar bahwa mereka pasti akan menjadi band yang sangat terkenal.  Sangat, karena ketika itupun Thom Yorke sudah menganggapnya setara dengan The Beatles.

Apakah anda pernah mendengar tentang Pixies!? Atau cuma saya yang culun!? Mengapa Pixies tidak dianggap begitu hebat sehingga dikenal banyak orang? Mengapa mereka kurang populer?

Dan jika dalam sebuah wawancara, ketika Sukarno ditanya siapa pahlawan favoritnya kemudian tanpa jeda dia menjawab Dr.Cipto, dan jika Des Alwi menuturkan bahwa Sutan Sjahrir tidak akan menjadi seorang nasionalis atau katakanlah pejuang bangsa, jika dia tidak mendengarkan pidato Dr. Cipto ketika dia SMA, maka mengapa Dr. Cipto tidak termasuk pahlawan yang sangat dipelajari di bangku sekolah?

***

Pertemuan saya pertama kali dengan Dr. Cipto Mangunkusumo, maksud saya benar-benar mempertanyakan siapa dirinya adalah ketika ayah saya masuk rumah sakit di Jakarta. Nama Dr. Cipto Mangunkusumo memang diabadikan sebagai rumah sakit nasional. Tapi apakah jasanya begitu banyak dalam bidang kedokteran?

Sebagai seorang lulusan STOVIA, Dr.Cipto memang mengabdi menjadi dokter. Dia ditempatkan di berbagai pelosok Nusantara. Tapi kemudian dicabut ijinnya karena dianggap membahayakan pemerintah kolonial. Dr.Cipto jelas saja seorang aktivis. STOVIA adalah sekolah yang melahirkan organisasi Budi Utomo.

Walapun begitu, ketika terjadi wabah pes di Malang tidak seorang pun dokter Belanda (mungkin juga pribumi) yang mau terjun ke masyarakat untuk memberantasnya. Hanya Dr.Cipto yang mau kesana dan menuntaskan wabah tersebut. Oleh pemerintah kolonial Dr. Cipto diberikan penghargaan tanda jasa, tapi tentu saja Dr. Cipto menampiknya.

Ketika Budi Utomo berdiri Dr.Cipto masuk sebagai pengurus, tapi kemudian dia keluar dengan kecewa dan mengutarakan pendapatnya bahwa organisasi tersebut terlalu kejawa-jawaan. Dr.Cipto melihat bahwa hal itu tidak akan bisa mempersatukan seluruh bangsa.

Sejarawan Anhar Gonggong pernah mengatakan bahwa Budi Utomo merupakan   sebuah momen awal bentuk perjuangan bangsa Indonesia yang baru, perubahan dari pejuangan fisik menjadi perjuangan otak. Dan pada masa itu organisasi adalah sebuah hal yang modern, sebuah senjata yang berbahaya. Maka bukankah pendirian Indische Partij (IP) sebagai sebuah partai politik pertama dengan sifatnya yang nasional merupakan lompatan yang lebih jauh lagi?

IP didirikan oleh Setiabudhi, Suryadi Suryaningrat, dan tentunya Dr.Cipto Mangunkusumo. Setiabudhi alias Ernest Douwes Dekker masih bersaudara dengan Edward Douwes Dekker alias Multatuli yang menulis ”Max Havelaar”. Dia yang mengajak Suryadi dan Dr.Cipto untuk mendirikan partai tersebut.

Setiabudhi dekat dengan lingkungan STOVIA dan dia mungkin mengenal Dr.Cipto karena sikapnya, terlebih mungkin setelah dia mangkir dari Budi Utomo. Suryadi Suryaningrat tidak lulus STOVIA, tapi kemudian diajak juga dan kemudian menjadi terkenal dengan tulisannya ”Seandainya Saya Seorang Belanda”.

Berkat tulisan itu IP dibekukan dan para pendirinya dibuang dengan kebebasan untuk memilih tujuan negara. Mereka bertiga memilih Belanda. Tapi tidak lama kemudian Dr.Cipto pulang ke tanah air duluan, karena alasan kesehatan. Di  Belanda Suryadi menimba ilmu mengenai pendidikan, dan jauh hari setelah itu dia mendirikan sekolah di Yogyakarta. Mengubah namanya yang menurutnya terlalu terlihat bangsawan dengan nama Ki Hajar Dewantara.

Dalam sebuah wawancara lain, Sukarno menyatakan bahwa Ernest Douwes Dekker merupakan gurunya. Jika Setiabudhi dianggap sebagai guru dan Dr.Cipto merupakan pahlawan favorit Sukarno juga inspirator bagi Sutan Sjahrir, lalu mengapa Ki Hajar Dewantara justru lebih populer dibanding ketiganya?

Mengapa Ki Hajar Dewantara menjadi salah satu pahlawan yang diabadikan lewat cetakan mata uang dan namanya menjadi nama sebuah kapal perang TNI AL? Jika Ki Hajar dianggap berjasa dalam bidang pendidikan, Setiabudhi juga mendirikan sekolah keahlian dan hingga sekarang bangunan sekolah itulah yang dijadikan SMP 1 Negeri Bandung. Ya, nama Setiabudhi dijadikan nama jalan. Di Bandung nama jalan itu berada di jalan yang menghubungkan antara Lembang dan Bandung, karena memang di jalan itulah dulu terletak rumah Setiabudhi. Nama Dr.Cipto Mangunkusumo diabadikan menjadi nama rumah sakit.

Saya tidak bermaksud untuk mengecilkan jasa Ki Hajar Dewantara, dan sepertinya juga memang tidak ada ukuran bahwa besarnya jasa seseorang dapat dilihat dari banyaknya penggunaan nama. Saya hanya merasa sejarah terlalu berpihak pada Ki Hajar Dewantara, tapi tidak pada Setiabudhi atau Dr.Cipto. Padahal mereka disebut sebagai tiga serangkai.

Diantara perkenalan saya dengan Radiohead samar-samar saya masih ingat lembaran buku sejarah yang saya punya. Saya sangat suka sekali pelajaran itu. Kalau tidak salah bahkan ada sebuah bab yang membahas Taman Siswa-nya Ki Hajar Dewantara. Tapi mempelajari Setiabudhi atau Dr.Cipto Mangunkusumo? rasa-rasanya tidak. Hanya sebatas IP saja, dan itupun hanya selintas. Hari Budi Utomo terbentuk kemudian diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Nasional? Betulkah? Sedangkan  IP? Jangankan diperingati, adakah orang yang ingat tanggal berapa didirikannya?

Apakah sejarah berpihak? Apakah sejarawan pilih kasih dan memiliki anak emasnya sendiri? Mengapa mereka dianak tirikan?

***

Setelah pulang duluan dari Belanda, pemerintah kolonial bingung menempatkan Dr.Cipto karena dia dianggap bisa menyebarkan pemikiran-pemikiran yang membahayakan stabilitas negara. Tapi kemudian mereka mengira bahwa ditempatkan dimanapun hasilnya akan sama saja berbahaya. Untuk itu Dr.Cipto diberikan kebebasan untuk memilih, dan akhirnya dia memilih Bandung.

Di tahun 20an kiranya masyarakat dibagi kedalam dua golongan besar bahasa. Mereka yang berbahasa daerah dan mereka yang berbahasa Belanda. Hanya ada kelompok kecil masyarakat saja yang fasih dwibahasa ataupun menggunakan bahasa pasar yang kemudian menjadi bahasa nasional.

Pilihan Bandung sebagai kota untuk kediaman Dr.Cipto cukup menggembirakan bagi pemerintah kolonial, karena setidaknya Dr.Cipto tidak tinggal dalam masyarakat yang menggunakan bahasa ibunya. Untuk itu dia tidak akan mampu menggapai seluruh lapisan masyarakat. Alasan Dr.Cipto sendiri memilih Bandung konon agar supaya nanti dia bisa dekat dengan Setiabudhi, tapi mungkin dia memiliki alasan lain.

Namun justru di Bandung itulah kemudian Sukarno yang masih anak kuliahan sering berdialog dengan Dr.Cipto, bersamaan dengan Sutan Sjahrir yang masih duduk di bangku SMA mendengarkan ceramah-ceramahnya. Salah dua tokoh yang kemudian merepotkan pemerintah kolonial Belanda.

Sekali lagi sejarah dan cerita sukses hanya berfokus pada individu, pada kehidupan Sukarno dan Sutan Sjahrir, tapi tidak banyak yang menjelaskan bagaimana jaman tahun 20an di Bandung kala itu, bagaimana kehidupan masyarakatnya hingga dapat melahirkan mereka.

Pertemuan-pertemuan dengan Dr.Cipto telah merubah hidup Sukarno, Sutan Sjahrir dan mungkin banyak lagi yang tidak tercatat dalam sejarah. Pertemuan yang mungkin sangat berpengaruh bagi perjalanan sejarah bangsa kita. Pertemuan yang mungkin sama pentingnya bagi Thom Yorke dan sederet musisi lain dengan Pixies. Pertemuan yang kurang lebih sama juga artinya seperti Radiohead bagi saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: