Google+

Pisang Underground & Tembok Pink (Bagian I)

Leave a comment

November 5, 2010 by willamnasution

Menarik bahwa Andy Warhol adalah orang pertama yang mengawinkan antara musik dan video. Untuk itu Warhol bereksperimen dengan Velvet Underground,  sebuah band asal New York yang tidak terlalu populer pada masanya atau bisa dibilang kelewat aneh. Velvet Underground merupakan laboratorium seni bagi Warhol.

Dan jika konser Sex Pistol yang hanya ditonton segelintir orang kemudian menjadi legendaris, karena para penonton yang sedikit itu kemudian  membentuk band-band yang penting bagi Inggris, maka album Velvet Underground (dengan cover album pisang yang sangat aneh pada masanya dan dirancang oleh Warhol) juga hanya laku sedikit. Tapi mereka yang membeli album tersebut kemudian juga membentuk sebuah band atau terinspirasi untuk menciptakan musik darinya. Salah satunya adalah Pink Floyd.

Pink Floyd juga membawa pertunjukan musik ke level yang belum pernah dicapai sebelumnya. Setiap kali manggung Pink Floyd memadukan musik dengan penampilan teatrikal. Di atas panggung yang begitu besar dengan begitu banyak penonton, Pink Floyd memberikan efek-efek kejut. Semua dalam skala yang bombastis.

Pernah dalam suatu konser, Pink Floyd menata panggungnya dengan bata-bata yang membentuk dinding. Bata-bata bohongan yang ukurannya raksasa itu disusun satu demi satu seiring nyanyian mereka. Hingga akhirnya, di ujung sebuah lagu mereka benar-benar terpisah oleh tembok.

Lewat set panggung tersebut Pink Floyd ingin menyimbolkan keterasingannya dengan para penonton, juga dengan dunia. Hanya musiknya saja yang terus terdengar. Ribuan penonton riuh melihat kepingan bata yang terakhir, akhirnya, tertutup melengkapi sebidang dinding. Tembok itu semua dibangun hanya untuk kemudian dihancurkan kembali.

***

Saya baru sadar bahwa para penulis sejarah adalah orang-orang yang pilih kasih. Dan setiap jaman memiliki anak emasnya sendiri. Mereka hanya membicarakan orang-orang yang kelewat sukses, orang-orang yang mereka bilang membentuk sejarah. Padahal di jaman Warhol juga mungkin banyak seniman lain yang bereksperimen dengan musik, atau dengan video. Dan Velvet Underground mungkin bukan satu-satunya band yang kelewat nyentrik.

Mungkin ada yang membuat Warhol beralih pada musik, pada video (dia juga yang merancang logo lidah The Rolling Stones). Diantara mereka selalu ada jaman atau lingkungan yang membuat mereka terus ”bergerak”. Ada sederet band-band yang membuat satu band seperti Velvet Underground terlihat berbeda dari yang lainnya.

Tapi itu semua tidak pernah disinggung oleh sejarah. Seolah mereka begitu karena, dan hanya karena, mereka sendiri. Kejeniusan mereka seolah muncul begitu saja dalam dirinya, dan bukan karena terlahir oleh berbagai peristiwa yang melingkupinya.

Menurut saya tokoh-tokoh legendaris itu hanya seperti bidan yang berhasil mengantarkan sebuah ”bayi” yang inovatif. Tapi yang melahirkannya adalah sebuah jaman. Mereka hebat, tapi menurut saya, yang justru lebih hebat adalah sekeliling mereka yang mendorong mereka sebegitu jauh hingga menghasilkan sesuatu yang baru.

Dan kita selalu silau oleh mereka yang hebat itu, mereka yang terpilih dan ditulis oleh sejarah itu, anak-anak emas itu. Tapi kita tidak pernah, mungkin sedikit sekali, menengok pada mereka yang justru lebih hebat, yang lebih acak, yang lebih besar, yang lebih kita tidak ketahui: orang-orang, peristiwa-peristiwa, semua yang menciptakan Warhol juga Velvet Underground. Yang memungkinkan Warhol mengawinkan antara video dan musik, juga eksperimen-eksperimen bunyi yang dilakukan oleh Velvet Underground. Mengapa begitu? Karena tentunya, untuk menjelaskan semuanya akan lebih sulit bagi sejarah, lebih sulit juga bagi kita. Itu semua hanya untuk gampangnya saja.

Yang saya ingin utarakan sebenarnya adalah kesuksesan bukan sesuatu yang sederhana, melainkan sebuah kompleks, jalinan semrawut yang mungkin tidak pernah bisa terpetakan. Atau di lain waktu kita menyebut hal yang rumit itu dengan  keberuntungan.

Kita hanya percaya bahwa mereka jenius, mereka berbakat, mereka bekerja keras, dan karena itu semua mereka berhasil. Tapi kita tidak terbiasa, tidak dibiasakan, atau malas melihat bahwa diluar sana ada juga mereka yang jenius, memiliki bakat, dan bekerja keras, tapi tidak pernah sukses. Atau ada juga yang berhasil, sekalipun mereka tidak jenius, tidak berbakat, dan tidak bekerja keras.

Tidak ada suatu hal yang namanya kunci kesuksesan, tidak ada satu kunci yang sama untuk setiap orang, untuk setiap pintu. Hidup bukan matematika yang bisa ditaklukan dengan rumus yang sama. Setiap orang memiliki jalannya masing-masing.

Dan saya ingin berusaha untuk tidak silau, tidak terlalu kagum, pada sebuah kesuksesan. Karena dibalik kesuksesan seseorang terdapat sebuah mekanisme unik, sebuah rahasia Tuhan, yang mendorong mereka sampai di puncak, sampai ke sebuah titik yang di mata manusia bernama: kesuksesan.

Seorang jendral yang hebat tidak terlahir dengan sendirinya, tapi seorang jendral hebat lahir karena sebuah perang yang hebat. Hal itu menunjukan bahwa jendral itu memang hebat, tapi dia tidak akan pernah menjadi hebat tanpa sebuah perang yang juga hebat. Jauh lebih hebat dan dahsyat darinya.

***

Saya tidak bermaksud untuk membenci kesuksesan atau sirik pada orang-orang sukses. Saya juga bukannya tidak mau sukses. Tapi selama ini, dan baru saya sadari, ada tembok raksasa bohongan yang membuat kita terasing dari konsep kesuksesan, menutup pandangan kita untuk melihat bagaimana sebenarnya kesuksesan itu terbentuk.

Selama ini saya kira kita melihat kesuksesan dengan mata yang terlalu fokus pada individu. Padahal sebenarnya sebuah kesuksesan tercipta bukan karena hanya individunya saja, tapi justru karena masyarakat yang melingkupinya, lingkungannya.

Jika Pure Saturday dianggap sebuah band indie legendaris, kita harus melihat situasi dan suasana musik indie pada masa PS mulai memetik gitarnya. Jika 347 dianggap sebuah distro yang mapan dan keren, kita harus melihat perkembangan clothing pada masanya. Dan seterusnya.

Kita harus membuka mata kita dan bertanya kenapa Microsoft dan Apple lahir di Amerika dan bukan di Eropa? Mengapa Mercedes, BMW, Audi, VW diciptakan di Jerman dan bukan di Prancis, misalnya. Itu semua tentu terjadi bukan karena kebetulan. Dan seterusnya.

Jadi, jaman dan masyarakatlah yang sebenarnya menciptakan suatu kesuksesan. Jaman dan masyarakatlah yang melepaskan potensi seseorang atau sesuatu. Mendorongnya ke puncak. Dan mereka yang berhasil sampai di puncak kesuksesan adalah orang-orang yang menjadi ”the right man on the right time”. Dengan begitu, pertanyaannya adalah, apakah lingkungan sekitar kita mampu untuk terus mendorong kita menuju sukses? Dimana kita bisa menjadi ”the right man”? Dan kapan sekiranya ”the right time” itu hadir?

Kesuksesan memang berbeda untuk setiap orang, tapi saya tidak mau munafik. Kesuksesan versi saya, dan mungkin untuk orang-orang jaman ini adalah punya banyak uang, punya hidup yang menyenangkan, dan punya banyak waktu luang. Bahagia.

Masalah terkenal atau menjadi legenda sepertinya hanya masalah apakah sejarah akan berpihak pada anda atau tidak, apakah anda akan dianak emaskan sejarah  atau tidak. Yang  jelas sekarang saya sadar bahwa kesuksesan itu bukan takdir atau hanya karena bakat seseorang. Kesuksesan kita sangat ditunjang oleh sekeliling kita. Puncak Himalaya tidak akan ada jika jutaan tahun yang lalu India, yang masih berbentuk pulau, tidak membentur benua Asia.

Jadi, akankah kita menapakan kaki kita di puncak kesuksesan? Akankah kita menjadi ”the right man on the right time”? Yang saya yakini adalah ketika bata raksasa bohongan itu mulai dihancurkan dalam konser Pink Floyd, para penonton tidak pernah lebih riuh dan bersemangat seperti sebelumnya. Untuk itu setidaknya, untuk saat ini, saya telah menghancurkan sebuah tembok di atas panggung pikiran saya sendiri. Dan untuk kali ini biarlah jika yang bertepuk tangan baru hanya saya sendiri. Selamat sukses! Doa saya untuk kita semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang Paling Banyak Dibaca

Arsip

%d bloggers like this: