Google+

Bandung is Ibiza (Bagian III)

Leave a comment

November 5, 2010 by willamnasution

Oh betapa inginnya saya melancong ke Ibiza. Duduk di teras Cafe Del Mar, menikmati musik yang mengiringi senja, melamun bersama cahaya senja yang perlahan lenyap. Debur ombak di kejauhan dan butiran pasir pantai yang masih tersisa di sela-sela jari kaki.

Menarik menyadari bahwa musik-musik para DJ Cafe Del Mar terinspirasi oleh senja, menciptakan suasana pantai yang santai dan tidak usai-usai. Dimanapun dan kapanpun anda mendengarkannya. Para DJ yang tidak terkenal itu atau tidak  kita kenal itu menciptakan sebuah genre musik yang sebelumnya tidak pernah ada di rak-rak toko kaset dan CD. Dunia musik menyebutnya: chillout.

Belakangan pacar saya mendengarkan lagu-lagu dari album kompilasi Cafe Del Mar. Dan saya jadi ikut mendengarkannya lagi, kembali hanyut dalam buaian nada-nada hangatnya lepas pantai.

Di Bandung memang tidak ada pantai, tapi kita punya senja-senja yang indah. Masyarakatnya hidup dalam tempo yang santai. Terinspirasi juga oleh alam, alunan pegunungan, suhu yang sejuk dan nyaman.

Menarik bahwa Bandung selalu saja melahirkan tokoh-tokoh sukses yang dicatat sejarah dari sejak tahun 20an hingga sekarang. Kalau saya boleh punya permintaan, saya ingin ada plakat di setiap bangunan lama. Seperti halnya di kota-kota besar di Eropa yang memberikan keterangan suatu bangunan itu pernah ditinggali oleh siapa atau dulunya tempat apa.

Jadi, kalau kita jalan-jalan di Bandung kita bisa tahu mana tempat kostannya Sukarno, mana ruang kelasnya Sutan Sjahrir, mana rumah Dr.Cipto, oh ini gudang tempat latihannya Pure Saturday, oh ini tempat jahitnya 347 pertama kali, dan seterusnya.

Setiap jaman menciptakan pahlawannya masing-masing. Dan bukan kebetulan banyak tokoh, legenda, orang sukses, yang berasal dari Bandung. Itu semua pasti karena masyarakatnya. Masyarakat yang terinspirasi dari alamnya.

Untung Bandung memiliki beberapa buku yang menerangkan tentang sejarah kota. Dari situ kita bisa mencuplik bagaimana kiranya kehidupan warganya dari  masa ke masa. Tapi yang khusus menerangkan bagaimana interaksi kehidupan masyarakatnya saya kira belum ada.

Dan dari setiap plakat bangunan itu kita jadi bisa tahu kiranya kehidupan yang dialami sehari-hari oleh tokoh-tokoh sukses kita. Suatu waktu dalam sebuah diskusi di kota Bandung, Sukarno dan Sutan Sjahrir bertemu untuk pertama kalinya. Sukarno menerangkan tentang PNI, partai politik yang didirikannya. Ketika sedang menjelaskan tiba-tiba saja Sukarno ditegur oleh seseorang. Orang itu adalah Sjahrir. Dia menegur karena menurutnya Sukarno kelewat sering menggunakan bahasa Belanda.

Sebenarnya wajar Sukarno memakai bahasa Belanda, karena kaum intelektual yang termasuk golongan kecil pasti menggunakan bahasa yang diajarkan juga di sekolahnya. Tidak mungkin dalam sebuah diskusi digunakan bahasa daerah, kecuali kalau yang mengobrolnya berasal dari satu daerah. Tapi ketika itu mungkin ada urgensi untuk membiasakan perbincangan dalam bahasa yang pada saat itu hanya digunakan di pasar, bahasa Indonesia. Bahasa yang paling potensial dijadikan bahasa persatuan, bahasa nasional. Lagipula mungkin Sjahrir berpikir bahwa partai yang didirkan Sukarno menggunakan kata nasional dan Indonesia.

Sukarno terkejut oleh teguran itu. Berani-beraninya anak SMA menegur sarjana, mungkin begitu pikir Sukarno. Dan sejak perjumpaan pertama itu Sukarno mengaku tidak pernah melupakan Sjahrir. Dimanakah biasanya terjadinya perdebatan-perdebatan itu? Dimana tempat nongkrong mereka? Suasana masyarakat Bandung seperti apa yang mereka rasakan ketika itu? Seandainya saja plakat-plakat itu ada.

***

Dr. Cipto sebagai salah satu tokoh tiga serangkai yang mendirikan partai politik pertama sekaligus tidak bersifat kesukuan, tentunya sangat menarik bagi Sukarno. Seperti halnya saya tertarik pada Pure Saturday atau 347, pahlawan pada jamannya.

Adalah Dr.Cipto yang mengajarkan Sukarno, dan orang-orang yang tidak dicatat sejarah lainnya, tentang pentingnya organisasi, tentang betapa ampuh dan berbahayanya partai politik. Karena itu Sukarno dan beberapa teman-temannya yang tidak terlalu dilirik oleh sejarah mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Dr.Cipto sendiri menolak masuk kedalam struktur organisasi, dia hanya menjadi dewan penasihat. Itupun mungkin hanya dicantumkan oleh Sukarno dkk. Alasannya mungkin karena dia sendiri sebenarnya merupakan tahanan kota, jadi percuma kalau dia membuat organisasi baru karena itu akan membuat langsung semua anggotanya seperti penjahat juga. Atau karena dia gengsi harus bergabung dengan geng anak muda. Yang jelas dia pasti punya alasan sendiri.

Ada dua hal yang luar biasa yang saya sadari dengan berdirinya partai PNI ini. Pertama, menamakan partai dengan nama Indonesia di dalamnya sama saja halnya di saat Indonesia merdeka ada sekolompok orang yang mendeklasariskan   Gerakan Aceh Merdeka atau Republik Maluku Selatan, dan sebagainya. Kedua, Sukarno dkk tetap saja mau mendirikan partai politik sekalipun IP, partai politik nasional pertama, dibekukan atau kasarnya dilarang. Mereka sangat berani sekali.

Sukarno dkk pastinya tahu resiko atas pilihan mereka. Dan memang benar, atas tuduhan makar mereka dipenjara. Dan mulai saat itulah, di usia pertengahan 20an itu, Sukarno memulai petualangannya dari penjara ke penjara, dari satu tempat pembuangan ke tempat pembuangan lain. Sambil juga mengoleksi ide-ide untuk negara.

Dr.Cipto sendiri ikut digiring masuk penjara dan langsung dibuang ke Banda Neira, sekalipun Dr.Cipto tidak terlibat langsung dengan PNI. Tapi mungkin juga karena memang status Dr.Cipto memang sedang dalam pembuangan. Sukarno dkk sendiri harus melewati persidangan. Untungnya gedung pengadilan dan sel Sukarno ketika itu masih bisa ditemui di kota Bandung, meskipun tidak ada plakatnya.

Kompleks penjara Sukarno dkk itu sendiri sekarang sudah menjadi kompleks perbelanjaan yang tidak terlalu mentereng. Hanya satu sel yang disisakan, sel sang anak emas, Sukarno. Itupun tertelan di dalam, diantara toko-toko. Sel yang begitu kecil tanpa kakus, sehingga Sukarno harus buang hajat di sebuah kaleng. Yang ketika malam kaleng itu dibalikkan dan dijadikan meja tempat dia menulis pledoinya: Indonesia Menggugat.

Sementara itu gedung pengadilannya yang kini dinamakan Gedung Indonesia Menggugat masih lestari. Ruang pengadilannya menurut saya cukup mengejutkan karena ukurannya lumayan kecil, tidak seperti ruang pengadilan yang suka kita lihat sekarang-sekarang di TV.

Pada periode itu konon banyak sekali tokoh-tokoh yang ditangkap dan dibuang, sehingga menurut sejarawan Ong Hok Ham periode itu dianggap sebagai periode yang tidak menarik dalam lembaran sejarah Indonesia, karena tidak ada lagi pergolakan. Dan nanti mulai ramai lagi ketika pada era tahun 40an.

Setelah itu sepertinya pena sejarah membuka lembaran baru dengan menuliskan pergolakan bangsa Indonesia dari negara Belanda. Disana ada Moh. Hatta dan Sutan Sjahrir, dan tentunya tokoh-tokoh lain yang kurang diberi perhatian. Sutan Sjharir baru lulus SMA dan melanjutkan studinya kesana.

Nanti ketika Sjahrir pulang ke tanah air dan bergabung lagi bersama Hatta mereka  juga ditangkap dan dibuang. Pertamanya ke Boven Digul yang terletak di bagian bawah pulau Irian, tapi setelah beberapa bulan kemudian mereka dipindahkan ke Banda Neira. Mungkin alasan pemindahan itu karena disana sedang terjangkit wabah penyakit atau mungkin juga ada alasan lain. Usia Sjahrir waktu itu baru pertengahan 20an.

Ada sekumpulan anak kecil yang senang ketika pertama kali Sjahrir dan Hatta, dan mungkin juga tahanan lainnya, berlabuh di Banda Neira. Mereka senang bukan karena kedatangan mereka, mereka hanya takjub ada kapal mesin besar yang mampir ke daerah mereka. Salah satu dari sekumpulan anak kecil itu ada seorang anak yang namanya tercatat dalam sejarah, dia adalah Des Alwi.

Dan Des Alwi menuturkan bahwa ketika pertama kali Sjahrir menginjakkan kakinya di darat, hal pertama yang dia tanyakan pada Des adalah dimana rumah Dr.Cipto. Begitu hebatnya Dr.Cipto, saya kira begitu, jika tidak mana mungkin seorang pemuda yang baru saja mengarungi lautan dalam waktu yang begitu lama langsung menanyakan tentangnya. Saya heran mengapa dia tidak menempati deretan pahlawan spesial dalam pelajaran sejarah kita. Sama halnya juga mungkin jika saya terbang ribuan kilometer, dan ketika pertama kali mendarat di Inggris hal pertama yang saya akan tanyakan adalah kapan dan dimana ada konser Radiohead lagi.

Saya tidak tahu apakah Dr.Cipto mengenal nama Sutan Sjahrir, Hatta, dan beberapa orang lainnya yang kita tidak ketahui dibuang juga ke Banda Neira. Atau mungkin Dr.Cipto familiar dengan wajah Sjahrir karena dia suka mendengarkan pidatonya semasa di Bandung. Saya tidak tahu, sejarah tidak mencatat bagian-bagian ini ataupun mencatat hal-hal apa saja yang mereka obrolkan, bagaimana kehidupan sosial antara tahanan disana, kita juga tidak tahu.

Yang jelas Sutan Sjahrir betah berada di Banda Neira karena alamnya dan pantai-pantainya yang cantik. Mungkin seperti Ibiza. Mungkin Sutan Sjahrir melamun bersama cahaya senja yang perlahan lenyap. Debur ombak di kejauhan dan butiran pasir pantai yang masih tersisa di sela-sela jari kaki. Menikmati suasana pantai yang santai dan tidak usai-usai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: