Google+

Oscar & Felix

Leave a comment

August 27, 2010 by willamnasution

Mengetahui kapan waktu untuk berhenti, kapan untuk berjalan, dan kapan untuk berbelok. Saya sangat suka bolpoin warna-warni, saya baru ingat itu. Suatu saat di masa lalu saya tulis kalimat pertama tadi dengan krayon dan spidol warna-warni.

Saya tempel tulisan itu di langit-langit kamar dan sebelum ruangan akhirnya gelap sama sekali, kalimat itulah yang terakhir terbaca dalam hati. Dulu.

Saya sangat suka menatap langit senja. Saya sangat suka hanya dengan berdiam diri di bawahnya. Menelusuri lekuk-lekuk angkasa, lekuk-lekuk warna dan cahaya. Biru, oranye, magenta. Abu tua, abu keperakan, abu tembaga. Biru muda, biru lazuardi, haru biru hidupku, dan semuanya yang tak pernah sama.

Berjuta kali dalam waktu saya kembali lagi ke masa itu, tengadah sendiri melihat senja. Apapun cuacanya, tak peduli siang, malam, pagi, sekarang. Tak peduli dimanapun. Senja selalu menyisipkan sebuah kerinduan, hening dan sunyi, damainya awan di ketinggian. Warna-warna itu, senja dan tulisan yang kugoreskan.

Saya sadar betul saya masih juga anak kecil yang senang bermain. Saya senang tertawa, bercanda dan bercerita. Saya senang menuliskan sesuatu sekalipun itu hanya hitam di atas putih. Saya sadar betul saya senang melamun.

Oscar bilang dia akan datang ke rumah malam ini, dan dari balik pintu kulkas kutawarkan kotak-kotak jus. Jus jambu berwarna pink sementara jus mangga berwarna kuning tua.

”Mau?” tawarku.

”Engga ah” jawab Oscar.

Oscar adalah teman kecilku. Kawan yang selamanya akan saya anggap kawan. Akan terlalu memujinya jika saya menyebutnya sahabat. Tapi begitulah dia. Dari kecil kita sudah saling mengenal, dan bersama kita habiskan berbagai episode kehidupan.

Sudah lama Oscar tidak berkunjung lagi ke rumah. Cuma untuk sekedar beberapa gelas minuman atau jus atau kopi atau apa sajalah. Makan berat atau kudapan. Dan selebihnya mengobrol, bolak-balik dari masa lalu ke masa depan. Menyisir apa yang berubah, apa yang bertahan.

”Lix, gak tau kenapa, belakangan ini gua susah banget ngomong sama orang. Kayanya susah banget aja gitu gua bisa didenger sama mereka” terang Oscar.

”Itulah Car, orang-orang biasanya kalau denger cuma pakai telinga” ocehku.

”Terus mustinya denger pake apa dong?” herannya.

”Pakai hati” jawabku.

Dan Oscar terkekeh mendengar jawaban itu. Dia nyengir karena dia tahu betul saya pandai bicara. Saya senang melamun, menulis dan bercerita. Apapun warnanya, itulah yang membuat Oscar tersenyum kecil. Sudah lama kita tidak saling tertawa seperti itu. Saling melecehkan seperti itu.

Akhirnya, cuma saya sendiri yang minum jus mangga. Dan di kamar obrolan kita terus mengalir. Seperti juga tahun lalu dan tahun-tahun lalu dan sebelumnya. Entah dimana awal obrolan itu, dan entah dimana juga akhirnya.

Posisi meja, kursi, buku-buku dan tempat tidur berubah-ubah seiring waktu. Oscar tahu betul posisi mereka sebelumnya. Dan sekarang kulihat Oscar duduk di bawah rak buku. Mengoceh apa saja yang terlintas di kepalanya.

Lucu, waktu kuliah dulu Oscar rambutnya gondrong sedangkan saya cepak. Sekarang kebalikannya. Dulu Oscar setelannya hanya jins dan kaos, saya rapih. Sekarang kebalikannya.

Dan satu hal yang saya sadari betul adalah, ketika Oscar sedang mengoceh, satu demi satu buku yang berdampingan di rak itu bertambah. Dari dulu awalnya hanya beberapa hingga sekarang sudah berjajar tiga baris. Oscar selalu ada disana mengoceh seiring waktu, seiring buku yang kubaca.

Dan kuceritakan, biasanya, jika isi buku itu ada yang menarik pada Oscar. Saya kira berkat buku-buku itu juga kita jadi terus bisa mengobrol. Padahal baru di akhir SMA kita serius membaca buku dan serius juga membedahnya. Mencabut ide-ide, konsep-konsep, dan mendiskusikannya. Menerapkannya ke dalam keseharian, kadang menertawakannya juga, dan hidup bersama diantara pemikiran-pemikirannya.

Dan mungkin selama itu juga Oscar selalu mendengarkan dengan hatinya.

”Lagi denger lagu apa aja sekarang, Lix?” tanyanya.

”Gak ada yang baru” jawabku.

Kunyalakan laptopku, kuputar lagu-lagu. Lagu yang biasanya kubawa melamun di bawah senja. Melamun menembus eternit kamarku.

”Gua pulang dulu ya, Lix” pamitnya.

Puntung rokok sudah bergelimpangan di asbak. Lagu sudah berulang kali berputar, dari jaman kaset sampai sekarang tinggal unduh. Lagu-lagu yang kita tebak berapa usianya dan sedang apa kita waktu itu.

Jus mangga sudah habis, dan gelas sudah lama dibiarkan mengering. Tapi masih ada gelas-gelas lain di kesempatan berikutnya. Besok, tahun depan atau entah kapan. Dengan ocehan, obrolan atau cerita dari buku-buku yang kita baca berikutnya.

Lain kali mungkin Oscar akan gondrong lagi dan saya akan rapih lagi penampilannya. Siapa yang tahu? Lucunya lagi, awalnya adalah buku-buku filsafat yang seringkali kita baca dan bicarakan, tapi sekarang tidak ada satupun diantara kita yang membacanya lagi. Kita sudah menjadi gerak dan laku filsafat-filsafat itu.

Sejujurnya saya masih tidak tahu kapan saya harus berhenti, berjalan atau berbelok. Meskipun tulisan itu sudah tidak tertempel lagi di langit-langit kamar, tapi itu tidak berarti saya tidak pernah lagi tertidur dengannya.

Sudah lama tidak saya tulis lagi sesuatunya. Apakah hidup sudah tidak sewarna-warni bolpoin lagi, Car? Tanya saya sendiri. Ketika berada di bawah senja saya sering melamun sedang menulis sesuatu. Dan ketika saya sedang menulis sesuatu, saya seringkali melamunkan senja.

Bagaimanapun, hitam dan putih juga adalah warna. Lainkali mungkin bukan jus jambu dan jus mangga. Tapi Oscar, yang sudah pergi meninggalkan ruang kamar, akan kembali. Dan buku-buku di rak itu akan bertambah satu demi satu. Dari waktu ke waktu Oscar, teman masa kecilku, aku akan menunggu untuk menceritakan lamunanku, buku yang kubaca, dan mungkin lain kali tulisan-tulisanku yang berwarna-warni.

”Felix!” sahutnya. Melambai selamat tinggal.

Hujan, panas, siang, malam. Setiap kali Oscar memanggil, maka setiap kali itu juga saya akan menemukan dirinya diantara belantara waktu. Sampai jumpa lagi kawan, lambaiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: