Google+

Derrida Yang Seksi

Leave a comment

June 11, 2010 by willamnasution

DSCN0078

Ruang kota yang kita bagi bersama ini, ternyata, bagai bahasa. Kita gunakan setiap hari, kita maknai dan terus kita maknai. Rumah-rumah berdiri berjajar, dijeda jalan. Kita kira kita yang membentuk kota, tapi sebenarnya kotalah yang membentuk kita. Kita kira kita yang menciptakan bahasa, tapi sebenarnya bahasalah yang menciptakan kita.

Segala pengertian yang kita miliki, tentang diri kita sendiri, tentang segala sesuatunya, dibahasakan. Hanya dengan cara itu. Sebagai satu-satunya cara untuk memahami. Kita dipaksa menggunakannya, satu-satunya media yang kita miliki.

Lalu-lalang mobil berwarna-warni melintasi jalan, berpapasan. Matahari meninggi dan dedaunan bergoyang terhembus angin. Aku, kamu terbatas koma, terbatas jarak, jeda, sebuah interval dalam suara.

Dan setiap manusia adalah sebuah teks yang bisa dibaca. Sebuah manifestasi bahasa. Dan kata hanya bisa dimaknai ketika ia merujuk ke kata yang lain. Tidak ada kata yang berdiri sendiri.

Sebuah kamus menjelaskan sebuah definisi kata dengan menggunakan kata lain. Keberadaannya, maknanya, dihadirkan oleh yang lain. Begitu juga kita. Tidak ada kata final tentang arti sebuah kata. Selalu ada penundaan yang tidak pernah usai menuju satu definisi pasti sebelum mati. Begitu juga kita.

Jalan menuju rumahku yang sempit, yang penuh warna-warni, penuh koreografi. Sulit dilewati bahkan untuk dua mobil yang berpapasan. Mereka harus berpelan-pelan. Ditambah lagi dengan motor-motor yang parkir di kiri-kanan jalan.

Kabel tiang listriknya kusut, sambung menyambung. Seperti juga ada sebuah bar disana yang disebrangnya terbuka gang kecil, tempat tinggal seorang ulama. Orang-orang berseliweran. Seorang bocah mengencingi jalan. Ada rumah makan Padang, ada warung Tegal, ada tukang jualan soto Bandung, dan segalanya. Satu sama lain menjadi pembeda.

Toko kelontong, toko sayur bersanding DVD bajakan, disebrangnya ada tukang foto copy. Warnet yang terus bergadang sepanjang malam bersama warung mi. Bengkel motor menyangga kost-kostan di tingkat atasnya. Kost-kostan lagi dan lagi, beberapa. Tukang-tukang cukur yang bertetangga sama seperti tukang-tukang jualan pulsa. Gerobak-gerobak parkir, yang pasti teraliri banjir ketika hujan.

Di salah satu sudut jalan yang sibuk itu, aku tinggal disana. Melihat ke luar jendela melamun angkasa, bahasa dan Derrida. Mendekonstruksi dekonstruksi. Membayangkan kota dan ibuku yang menjahit baju-baju seperti aku menjalin cerita. Membayangkan jarum pentulnya yang berwarna-warni yang disebuah pameran ditancapkan di atas kertas bergambar awan-awan.

Jarum pentul itu jadi seperti balon yang mengudara. Dan membincangkan arti dekonstruksi, yang terus saja didekonstuksi oleh kita sendiri, sebelum tirai pertunjukan tarian hip-hop dimulai. Kamu duduk disebelahku dan cahaya panggung belum saja menyala.

Kuliah-kuliah filsafat ini mengisi jeda hidup kita. Interval pertemuan kita. Bahasa kita, yang kita kira kita ciptakan sendiri, padahal sebenarnya dialah yang menciptakan kita. Aku bangga dengan jalan yang menjadi alamat rumahku. Itulah yang membentuk diriku. Dan ruang yang ada di antara kita itulah yang sebenarnya ada. Menjadikan kita dua tapi satu.

Seperti dirimu berkata padaku bahwa sempurna itu ada karena adanya ketidaksempurnaan. Dan tirai pun terbuka, pertunjukan dimulai. Bahasa hidup dalam kamus. Kota hidup dalam dunia. Tapi kata yang tertulis hidup dalam dunianya sendiri. Tidak habis dimaknai, tidak hingga hari ini usai, dan hari baru, lembaran baru, siap menanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: