Google+

Doa Penulis Di Malam Hujan

2

March 19, 2010 by willamnasution

MVC-429S

Tuhan inilah satu-satunya yang kubisa. Jalan telah menunjukanku bertemu dengan hal yang kusuka. Tuhan, ijinkan aku hidup bersamanya. Jika ini memang benar, maka jadikanlah aku salah satu pejuangnya. Jika ini fatamorgana atau hanya pelarian semata, maka Tuhan keluarkanlah aku dengan segala cara.

Semua tahun yang terlewati, sepi dan ketidak menentuan, semua hanya mengikuti aturan langit yang Kau tebarkan. Jika terombang-ambing di lautan, mungkin itu aku sendiri yang menggoyangkan perahu. Samudra kadang damai sentosa kadang mengamuk bersama badai.

Tidak ada yang mengatakan semuanya akan mudah, seperti juga tidak ada yang mengatakan bahwa Yang Kuasa akan meninggalkan semata  insan.

Tuhan aku merasa masuk ke dalam diriku sendiri ketika aku melakukannya, aku merasa menemukan taman yang ingin kutinggal di dalamnya.  Kurindukan musim panas diantara mendung yang meraja di atas kota. Ini saja yang ingin kulakukan, pelangi-pelangi yang memancar dari dalam diriku tersebar ke setiap pikiran.

Biarlah alam semesta yang menilai. Biarlah kuberdoa bahwa setapak ini memang  jalan yang merintis meuju perjumpaan abadi. Kutak peduli lagi jika aku tidak menjadi apa-apa. Kutak peduli lagi jika akan ada atau tidaknya karya.

Aku begini karena aku merasa inilah yang terbaik yang bisa kuberikan pada sesama. Aku begini karena hasrat kuat ingin senantiasa menyerakan kata demi kata yang pernah tertangkap. Dengan aksara aku ingin mengungkap. Dengan kalimat aku ingin membuka selubung, ingin tenggelam, ingin terbang, menemukan diri-Mu.

Jika memang ya, jika tidak ada gempa atau tsunami yang terjadi di atas kota, jika tidak ada siapapun yang berkata tidak dalam keraguan hati, maka ijinkanlah aku maju setapak demi setapak.

Jalan yang disediakan dunia akan kusyukuri, akan kurenungi, akan kuterima sepenuh hati. Aku percaya karena tidak ada lagi yang bisa kupercaya selain nanti aku akan bertemu telaga.

Disana nanti aku akan beristirahat, mendengar nyanyian hutan raya. Masih jauh lagi menuju, masih membentang lagi segala cuaca. Tuhan Kau yang berencana.

Semua tidak ada gunanya jika aku tidak menjadi manusia sebaik-baiknya manusia, maka dari itu aku rela. Dan hidup bukanlah sekedar wahana yang diciptakan Sang Pemberi Petunjuk. Hidup membentuk.

Kutulis dan kutulis lagi doaku, laguku untuk nyanyian sejarah masa lalu. Kutengadah ke angkasa dan kulihat wajahnya di permukaan samudra. Jika waktu tidak membuktikan apa-apa pada nantinya, jika ombak hanya membawa gelombang terhempas entah dimana, aku hanya berharap bahwa aku sudah menjadi diriku. Itu saja.

Jika aku tidak pernah menjadi apa-apa, maka itulah yang seharusnya terjadi. Dan aku tidak akan apa-apa karena aku yakin, seyakin-yakinnya seperti  puisi bukan semata sandingan kata, dan buku-buku yang bagus bukan cuma sekedar bacaan.

Seperti aku yakin pada yang selalu ada, yang selalu terjaga, yang mengasihi di setiap gugurnya detik, pada Yang Maha Baik. Kutundukan hatiku selalu, kapanpun dan dimanapun aku berdiri. Semoga Kau selalu memaafkan segala kebodohan yang kulakukan.

Ini hidup yang kutahu, ini kuserahkan pada-Mu.

Advertisements

2 thoughts on “Doa Penulis Di Malam Hujan

  1. treedam says:

    menghirup malam ditengah hujan
    mencari nafas dirintihan tanah
    penulis sunyi mencari jalan
    setapak basah tanpa kisah

    hati ragu merasa fana
    nyali menguat tekadkan niat
    tetap berjalan dalami asa
    gontai langkah pun semakin berat

    buku ditanah ;air memudar tinta
    kalimat luntur pelan menghapus kata
    bahasa meluruh menghilang dibalik makna
    insan tertatih sedih mencari rasa

    nyanyian sengau menyusup diantara hujan
    bibir merekah bunyi menyisip celah
    sumbing suara pun nada tak sumbang
    dibawah payung asmara bernada

    “cinta hadir cinta pergi,
    lelaki jalang menyandera pagi.
    perempuan malang merindu fajar,
    penulis buta pun merangkai kata”

    dalam hujan, dalam diam
    penulis buta membungkuk memungut
    ambil buku tuliskan kata
    dalam hujan yang mulai bermakna…

    Jakarta,20 Januari 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: