Google+

Garis Hidupku

Leave a comment

March 18, 2010 by willamnasution

Ada garis putih yang membatasi di sisi lapangan sepak bola. Ada garis putih di pinggir jalan raya yang membatasi lajur kendaraan. Ada garis-garis di kertas yang kubuat membentuk ruang.

Garis di kemeja kotak-kotak dan di wafel yang kumakan. Ada garis khayal yang mengitari dunia di peta.

Hujan yang turun di atas kota membuat garis. Mendung terus di Bandung.  Tarik garis lurus antara rumahku dan rumahmu. Hujan menciptakan genangan air yang mengalir. Suaranya tertelan kesibukan suara kota.

Garis wajahmu, garis tanganmu.

Garis angkasa kota.

Sementara itu aku berusaha menghubungkan garis-garis yang terbentang dalam waktu. Garis lurus hidupku. Miring-miring, melengkung, membentuk diriku.

Aku ingin berbicara tentang garis hidupku, tentang garis-garis hidupku dan hidupmu yang saling bersilangan. Garis meja yang kucoba lepaskan dalam bayangan. Garis kursi yang kini mengambang dalam khayalan.

Garis demi garis kugambar, membentuk figur.

Aku ingin berbicara tentang Sutan Sjahrir, Salim, Sukarno, Charlie Caplin dan bintang-bintang Hollywood di tahun 20an. Aku ingin berbicara tentang Bandung.

Begitu banyak yang ingin kubicarakan, begitu banyak yang ingin kuhubungkan. Garis-garis kehidupan. Batas wilayah kota yang terus diukur dan dikembangkan. Batas diriku yang kucoba untuk kutarik dan mengendur karena kedinginan.

Garis-garis benang yang dijahit dalam pakaian. Kupanjangkan hingga menyusup dalam tidurku.

Luruskah semua? Pusing kepalaku, kembung perutku, kukira aku akan tidur sejenak, setengah jam. Setelah itu aku akan mengukur garis yang membatasi iler yang tercipta di atas bantal.

Garis, bentuk, ruang. Dimensi.

Isilah ruang dalam hidupku. Tiada batas selain hanya ciptaan. Ini batas antara terjaga dan tidurku.

Garis yang syahdu. Garis hatiku. Mencoba membayangkan apa yang tidak mungkin terjadi. Semoga berharap saja cukup. Karena mimpi yang jadi kenyataan mungkin saja terwujud.

Buat garis yang panjang dan coba katakan kalau ini hanya imajinasiku saja. Buat garis yang panjang dan buat batas dirimu sendiri, buat batas kotamu sendiri, buat batas cita-citamu sendiri.

Garis dalam tabel tentang perhitungan uang yang ingin kucoret-coret dan kubuang jauh ke tengah lautan.

Ini garis yang kucoba tegaskan, ini garis yang kucoba tebalkan. Keinginanku yang sudah kugariskan. Dan masa bodoh dengan masa depan. Garis ini akan membentuk gambar dari keseluruhan pigura kehidupan yang nanti akan kusesali atau kubanggakan.

Garis pilihan. Dan melebur sajalah bersama udara, bersama angan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang Paling Banyak Dibaca

Arsip

%d bloggers like this: