Google+

Petualang Kata-Kata

Leave a comment

November 7, 2009 by willamnasution

Mencari bentuk kata-kata yang tepat melanskapkan rasa di dada. Bulat-lonjong, persegi-jajaran genjang, limas-piramida, dan segala bentuk yang dirangkai matematika.

Kuingat sebuah pasar di pesisir, disana tiga orang nenek duduk di pinggir jalan menggelar dagangannya. Ikan-ikan yang tergelepak berjajar. Baru diangkat dari laut oleh nelayan semalam. Kuambil fotonya, dan gambarnya terselip pagi ini di hati.

Pahlawan-pahlawan tanpa nama dalam sejarah, entah sekarang mereka sudah mati atau masih hidup. Tapi dimanapun juga pagi yang baru tersibak tirainya selalu membawa suasana yang sama. Menggugah rasa, menghidupkan kata. Menggambarkan kembali bentuk-bentuk yang alam pernah ciptakan.

Kalkulus perasaan, aljabar logaritma matriks dan sintaksis dari sudut-sudut nurani. Hitungan apapun tidak bisa menghitung kemilau pasir pantai, kemilau riak lautan. Banjir motor di jalan raya yang kuterjang kemarin ketika menyebrang membawaku menjadi petualang kota. Kurindu wangi lepas lautan jadinya, kukenang suara ombak yang menerjang karang, kuingat  dan kuselami kini. Seolah waktu terbang kembali.

 

Semua itu menjadi lagu hidupku, menjadi jeda diantara waktu. Kubangun istana pasir di bawah matahari, angkasa lapang dan lautan menuju samudra terbatas horison yang membentang.

Di kota ini tidak ada nyiur pohon kelapa, di atas kepala membentang semrawut kabel listrik yang tersimpul dari tiang-tiang. Rabrindanath Tagore pernah menulis puisi tentang anak-anak yang bermain di pingir pantai. Mereka mengumpulkan karang katanya, dan kemudian melemparkannya kembali ke lautan. Tidak ada yang mereka miliki disana, kecuali waktu mereka sendiri, menjadi anak-anak dalam naungan alam.

Puisi itu terselip pagi ini dalam hati. Secercah kehidupan yang coba kujelang dari hari ke hari. Akankah aku sebahagia anak-anak itu? Akankah aku sesetia nenek-nenek penjual ikan itu? Akankah kata-kata senantiasa menjadi hidupku? Akankah matematika mampu menjadi usaha untuk pahami semua?

 

Kusebut namaku dalam hati seolah ia bermakna, setidaknya untukku. Kuterawang angkasa pagi ini. Kutanya kabarnya. Entah kata-kataku menuju kemana, mungkin nasibnya sama seperti karang-karang yang dikumpulkan anak-anak dalam puisi tadi.

Untuk apalah hidupku? Untuk apalah mimpi-mimpiku? Ya, ini sudah pagi. Kenyataan bagai bejana, kuanggap ia sebuah bak tempatku berendam menenggelamkan diri. Kubayangkan diriku adalah sebutir pasir di tepi bibir benua.

Mencoba menyusun kata, mencoba mengkliping foto-foto yang pernah kucuri dalam waktu, mencoba menerjemahkan puisi. Semua menjadi kompilasi lagu yang sreg dengan diriku. Kujelang kota ini, selelah apapun, setidak masuk akal apapun, tak terhitung sekalipun. Aku leburkan diri kedalamnya seperti ketika aku sedang berendam. Tidak ada hitungan yang dapat mengukur segala apa yang terjadi. Kunikmati pagi ini dalam bayang-bayang kenangan. Lepas pantai dalam hidupku.

Jeda diantara kota yang jalanannya kian padat setiap hari, jalanan yang banjir oleh kendaraan, menggenang tapi semua akan bermuara dalam mimpi. Mimpi yang masih lagi teringat ketika terjaga. Mimpi-mimpi sederhana.

Matahari mulai tersenyum dimanapun juga, di kota ataupun di pantai, menyentuh permukaan dunia, merengkuh jantung hatiku. Bumi kupijak dan langit kujunjung. Aku tengadah dan tertunduk. Pasir pantai itu terselip rupanya dalam tas yang kubawa ketika liburan lalu, ketika aku berkunjung ke sebuah pantai.

Kusadari aku adalah salah satu butir pasir itu, dan pengalamanku adalah sebuah geografi emosi. Kukenang bersama pagi.

Kini kunyanyikan kembali semua. Nyanyian seorang petualang kata-kata dalam sebuah rangkaian matematika yang membentuk teknologi fotografi, sebuah puisi dalam diriku. Meskipun begitu kata-kata bukanlah angka-angka, dan tidak akan pernah menjadi begitu. Karena puisi-puisi itu telah menjadikanku kembali sebutir pasir yang tertiup udara, beterbangan kadang terhempas kadang melayang menuju lepas pantainya sendiri. Sejatinya lautan abadi. Sejatinya diri sendiri.

Kesanalah aku menuju, dan kini kuajak pagi bersama untuk ikut denganku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: