Google+

Dunia Berada

Leave a comment

June 10, 2009 by willamnasution

Kadang dunia berada di sebuah kursi dengan sebuah meja. Duduk bersama kata-kata. Zona-zona itu sebenarnya merupakan petak-petak sawah yang indah di pinggir kota. Dan perlahan alinea demi alinea membawa setiap orang menyusuri setiap jengkalnya. Hijau yang kemudian merambat ke dalam sukma.

Dunia berputar bersama senyuman mentari. Waktu merupakan sebuah jurang tak bertepi. Semakin dalam kita masuk semakin terjabarkan bahwa setiap orang memiliki cerita. Setiap suara memiliki makna.

Para penulis bukanlah para pahlawan atau penjaga kesucian. Mereka adalah pendiri pagar. Mereka tidak menuliskan kalimat, mereka menularkan gagasan. Mereka mencoba menjalani apa yang telah sejarah ajarkan pada awalnya.

Semerbak mentega yang digoreng. Asap mengepul dari secangkir teh di pagi hari. Pernak-pernik yang menemani sepanjang kota. Apapun adalah sebuah dunia yang dijalani penulis setiap harinya.

Dan dunia adalah geografi bumi, matematika para pemimpi dan kasih sayang fisika. Penulis hidup di dalamnya mempelajari filosofi dan membuka lembar dalam dunia yang diciptakannya sendiri.

Aku, penulis. Kuangkat penanya dan kuterbangkan ke angkasa. Tak kuharap kembali, tapi peralatan radar dalam hati dapat menjangkaunya menjelajah setiap benua dan samudra dari belakang meja ini. Pena itu bertualang dalam dada. Seluruh penjuru dunia. Seluruh cerita tragedi manusia. Detil-detil setiap peristiwa. Apa yang terlihat oleh mata dan terbutakan oleh pelangi. Pena itu berlayar bersama iring-iringan awan. Mengembara ke puncak-puncak gunung dan mengapung di tengah lautan. Aku adalah penaku. Aku adalah sejarah. Dan saat ini segala bentuk huruf yang ditemukan pena itu hendak dikirimkannya dalam sebuah map. Melalui pos yang belum juga mengetuk pintu.

“Kenapa tidak di e-mail saja?” tanyaku.

Tidak ada satupun yang menjawab. Prangko, mungkin karena prangko. Baik, akan kutunggu, ucapku dalam hati.

Diam-diam kubayangkan segala bentuk akasara itu, segala kisah tentang tumbuh-tumbuhan, fauna dan semua yang berjiwa, bahkan mungkin seonggok batu yang kesepian di tengah hutan, diantara pertambangan. Atau mungkin sebuah kisah tentang anak kecil yang berusaha menyatakan bahwa dirinya hidup dalam sebuah kartun. Atau segala-galanya.

Akan kutunggu meski sudah tidak kumonitor lagi radarnya. Akan kutunggu meski uban satu demi satu mulai memutihkan helai rambutku. Akan kutunggu meskipun aku keburu menyatu dengan kuburku. Aku akan setia pada diriku. Aku akan bercerita dalam kuburku nanti bahwa hidupku adalah sebuah penantian.

Dan meskipun nanti  tidak dapat kubaca hasil penaku yang melanglang buana itu, tapi aku cukup dan sudah pernah melamun bersamanya, setiap hari sepanjang sisa hidupku.

Sekarang, terbang! Terbanglah! Terbanglah dengan gagah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang Paling Banyak Dibaca

Arsip

%d bloggers like this: