Google+

Peta Malam Untuk Sahabat

Leave a comment

May 20, 2008 by willamnasution

Terkantuk-kantuk bersama malam. Tapi masih ada yang perlu disusun sebelum pagi benar-benar mengetuk pintu. Disebelah pintu ada jendela, di depan jendela ada meja dan kursi, di sebrangnya ada tempat tidur, di sebelah kasur ada lemari, disamping lemari ada rak buku.

Dan di tengah-tengah itu semua ada aku yang terlentang diantara yang sudah-sudah dan yang kuharapkan akan terjadi.

Begitu banyak yang melintas di kepala seperti perempatan di tengah kota. Lampu kuning berkedip, dan semua kendaraan; motor, mobil dan angkot berebut untuk terus melaju. Tak ada yang mau mengalah.

Dari Senin ke Minggu, Minggu ke Senin. Semua begitu saja. Bolak-balik, pulang-pergi, hilir mudik melewati jalan yang itu-itu juga. Kita selalu berpikir hendak menuju ke suatu tempat. Tapi toh yang ada kita hanya berputar-putar di situ-situ juga, di tengah-tengah kota.

Seperti aku di tengah-tengah kamarku. Terkantuk bersama malam, dikelilingi sahabat-sahabat yang tidak pernah terlalu banyak bicara. Pintu yang mempersilakanku pergi dan menyambutku pulang, meja tempatku menggelar lamunan sambil duduk menerawang jendela tempatku melihat dunia.

Kasur, lemari, rak buku, ingin rasanya memeluk mereka satu per satu sebelum tidur. Tapi begitu banyak yang ingin kuatur dalam kepala. Kata-kata yang tumpang tindih seperti atap-atap perkampungan di tengah kota.

Kata-kata yang selalu saja membuatku ingin menyusuri gang-gang yang belum pernah kulalui sebelumnya. Kata-kata yang terbang bersama debu yang kubersihkan dari rak buku. Keluar lewat jendela dan entah hinggap dimana.

Mungkin berjejak di embun pagi yang mengkilau seperti matamu, mungkin di daun-daun yang berguguran di jalan, daun-daun yang berbentuk hati seperti hatimu, mungkin di matahari pagi yang senyumnya sehangat senyummu.

Rasanya belum pernah ada orang yang bisa membuatku tertawa seperti dirimu. Dan rasanya belum pernah ada orang yang bisa membuatku marah seperti dirimu. Setiap hari aku belajar tentang diriku sendiri di dalam kamarku, setiap kali aku bertemu denganmu di tengah kota.

Dan seandainya saja ada kata-kata yang bisa kutambahkan dan kukurangkan di setiap kalimat yang kuucapkan padamu. Maka kota itu akan jadi kota kita.
Bisa jadi itu Athena, tapi bisa jadi itu cuma sekedar Bandung.

Bandung yang selalu kita lihat bersama, Bandung yang selalu mengikuti kita, Bandung yang selalu ada disela-sela kita, diantara jeda, dan diantara segala kata yang ingin kuucapkan padamu.

Tapi kini semuanya belum tersusun, tak mudah diatur, seperti Bandung yang walaupun begitu senantiasa sunyi ketika kamu menatap diriku.

Selamat malam wahai sahabat, tidurkan aku, karena aku terlalu bersemangat untuk terus bercerita pada kalian. Biarkan aku tenggelam disini, di tengah-tengah kamar yang penuh dengan kenangan dan mimpi, dan kata-kata itu mungkin akan kembali, dan lampu kuning itu mungkin akan berhenti berkedip, dan mungkin besok pagi Bandung akan cerah kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang Paling Banyak Dibaca

Arsip

%d bloggers like this: