Google+

Tiga Tahun

Leave a comment

April 12, 2008 by willamnasution

Dari buku kita tahu wajah kota kita tempo dulu. Semakin sering kita membacanya, semakin kita merasa sedang ada di kamar sendiri. Dan makin hari peta kota kita kenali seperti garis tangan kita sendiri.

Tiga tahun sudah kita terus bertemu di kota ini, dan mencoba menuliskan kembali sejarahnya. Menggantung puisi di sudut-sudut jalan, dan mengingat setiap kawasan seperti bagian lagu yang suka kita senandungkan.

Tiga tahun sudah jalan di depan rumahku tersambung ke jalan di depan rumahmu. Entah sudah berapa kali kita melewatinya. Hilir-mudik sambil terus menerjemahkan dan menerjemahkan kembali arti dari semua.

Kita memang tidak pernah menanam pohon bersama atau berdemonstrasi berdua menentang kebijakan pemerintah kota. Tapi kita berusaha tidak melupakan sungai yang terbengkalai atau burung-burung yang semakin malas terbang melintasi angkasa atau kumandang adzan yang semakin sayup terdengar di celah awan.

Kota ini sudah seperti kamar kita sendiri.

Dan secemerlang apapun sejarahnya di masa lalu, kita tidak ingin hanya terlena dalam kilaunya. Kita ingin, seperti semua orang yang tinggal di kamar kita ini ingin, tidak menjadi yatim dari masa yang akan datang.

Kita tahu gunung-gunung yang membentengi kota ini sudah tinggal sekedar batas kota. Sudah tinggal seperti bangunan tua yang nasibnya sama seperti museum-museum yang ada.

Kapitalisme sudah begitu merasuk ke dalam setiap persona individu. Sadar atau tidak papan iklan di sepanjang jalan menuju rumahmu sudah semakin menutupi horison. Menciptakan belantara baru yang memelihara buasnya nafsu.

Estetika tinggal teori katamu, keindahan arsitektur bangunan, dan tata kota jaman dulu, berdebu dalam lembaran buku.

Tidak. Kita tidak anti kemajuan, paparmu. Tapi kita mempertanyakan kesinambungan, kesalarasan dan kontribusinya bagi masyarakat.

Kita tidak ingin anak cucu kita nanti membaca buku sejarah yang sama dan melihat foto yang itu-itu juga.

Kita tidak bangga dengan sebutan Parijs Van Java ataupun julukan Kota Kembang. Karena itu masa lalu, dan itu sudah layu. Bukan apa yang ada sekarang.

Kita tidak ingin bercerita pada mereka kalau kitalah yang mengusir kabut pergi, dan tak kembali lagi. Dan kalau mereka bertanya tentang sejuknya cuaca dan hutan-hutan di lembah, kita takut mereka kecewa. Karena lagi-lagi itu sudah tiada dari kamar kita.

Aku jadi ingat wajahmu ketika menatap senja. Aku jadi ingat ketika jalanan sunyi menghantarkanku di malam beku sepulang dari rumahmu.

Kota ini telah memberi banyak daripada yang pernah kita minta, tapi kita mungkin tidak pernah menjaganya. Tidak ada yang bisa kita lakukan, mungkin. Kecuali mungkin terus berdialog bersamanya. Mengingatnya setulus hati, meski hanya dalam pikiran.

Tiga tahun, dan aku terus ingin tinggal di kamar ini berdampingan denganmu. Menyusuri jalan, menyaksikan pemandangan di setiap sisi kota yang melesat seperti bayangan, tergerus ataupun bertahan di makan jaman.

 

Pour ma cherie I.S

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: