Google+

Di Tepi Waktu

Leave a comment

April 29, 2007 by willamnasution

DSC06027

“Di tepi waktu, menepikan aku, kamu dan semua yang ada. Segala dunia. Jalan-jalan yang telah dilalui. Ketika aku, tua.” Seorang ayah berkata pada anaknya.

“Lihatlah telapak tanganku. Tataplah wajahku. Kerut-kerut itu.” Lanjutnya, dan berhenti setelah itu.

Aku, tua, katanya tanpa bicara. Ada senja di matanya. Sayu sendu mengingat masa lalu ketika ia muda. Ketika ia mendapat gaji pertama. Ketika melamar calon ibu dari anak-anaknya. Ketika rumah yang bahkan sebelumnya tak pernah diimpikannya berdiri di muka bumi. Tangis anak pertamanya. Dan ketika mereka semua beranjak dewasa. Ayahkah aku? Beribu kali tanya dalam dirinya bahkan hingga kini.

Kini rambutnya tumbuh hanya satu per satu. Berat tubuhnya menguap seiring dengan waktu. Tapi melihatnya berjalan meski dalam susah payah adalah sebuah legenda bagi diriku. Sebuah perlambang sisi dunia.

Di hadapan samudra yang mulai tertidur. Senja ada dimana-mana. Aku berdampingan dengan ayahku meski hanya angan semata. Dia yang diam tak banyak bicara sejak dulu. Kulihat ia berputar dalam benakku. Kulihat senyumnya yang membuatku tersipu. Yang dulu suka menggendongku, memelukku. Laki-laki yang sudah tinggalkan cerita bagi segenap kawan, sanak saudara, sahabat, kolega, bangunan-bangunan di tengah kota, ataupun orang-orang tanpa nama.

Teringat kembali foto-foto di album lama yang semakin lusuh. Cerita silsilah masa. Cerita-cerita kita. Walaupun begitu ia tak pernah mengenang masa lalu. Mungkin ia simpan untuk dirinya sendiri. Mungkin ia berharap kami ingat sendiri.

“Ayo kita pulang” katanya, setelah diam untuk sementara.

Akupun membantunya berdiri. Dan kukatakan dalam hati, aku sudah di rumah kemanapun ada bersamamu ayah. Aku sudah di rumah. Siapapun dirimu dulu. Aku ingin mengatakan yang tak akan pernah terkatakan, tidak dengan suara. Tapi dirimu juga akan merasakan. Bahwa aku ada karenamu. Aku besar karenamu. Aku berpikir dan menjadi laki-laki karenamu.

Aku menirumu cara berjalan. Meniru gaya bicara. Meniru bentuk dan rupa, bayangan dirimu. Meskipun kabur. Meskipun tak pernah usai dapat kugapai. Watak dalam diriku, ada dirimu.

Mungkinkah aku jadi dirimu ayah? Menjelma melalui jalan sendiri ini yang kulalui.
Berjuta pertanyaan seperti bintang-bintang di kala malam. Dirimu diam. Bicara secukupnya. Padahal aku ingin dirimu bercerita segalanya meskipun tentang rerumputan yang tumbuh di belakang rumahmu dulu.

Apapun juga ayah. Dimataku selalu terpantul dirimu. Orang-orang akan melihat itu. Sepanjang hidupku. Segala nafas, dan dirimu ada dalam doa-doaku. Senantiasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Yang Paling Banyak Dibaca

Arsip

%d bloggers like this: