Google+

Avant Propos

Leave a comment

January 27, 2007 by willamnasution

1349836811902

harapan adalah sepotong kayu
yang menanti dalam hutan dalam hujan
kian melapuk ; hancur dalam waktu

Kata-kata tak ubahnya seorang pengacara. Begitulah kira-kira pemaparan Jacques Lacan mengenai bahasa. Semua hal yang kita utarakan harus kita ucapkan melalui ungkapan kata-kata. Itulah satu-satunya alat yang digunakan manusia untuk saling mengerti satu sama lain. Tak ada cara lain. Hanya kata dan bahasa.

Ia merupakan juru bicara kita.

Pada saat membaca halaman mengenai bahasan itu saya terdiam untuk waktu yang lama. Bahkan seingat saya setelah itu saya berhenti membaca. Begitu curiganya Lacan pada bahasa, kata saya dalam hati. Dan begitu juga sebarisan filsuf lainnya yang diamini sebagai kaum postmodernis. Mereka semua mempermasalahkan bahasa. Bahasalah yang membentuk manusia dari awal. Mengenai  struktur, kekuasaan dan nilai-nilai. Hal itu terbukti dengan adanya bahasa untuk orang tua dan teman sebaya. Atasan dan bawahan. Bahasa para pejabat. Bahasa gaul. Bahasa media massa. Dan sebagainya-dan sebagainya dalam berbagai macam struktur atau lingkup sosial lainnya. Dan, bahasa pulalah yang acapkali bertanggung jawab terhadap kesalah pahaman antar manusia.

Karena memang cuma ialah satu-satunya alat yang dimiliki manusia.

Tapi Lacan tak berkata apa-apa tentang puisi. Padahal secara definisi puisi juga terbentuk oleh kata-kata. Puisi juga alat komunikasi. Sebuah bahasa.

Tapi bahasa hati.

Bahasa yang mengungkapkan perasaan yang tak terungkapkan. Menggambarkan gambar yang tak tergambarkan. Dan mengatakan hal-hal yang tak terkatakan.

Sejarah eksistensi puisi itu sebenarnya mungkin ada selama sejarah keberadaan manusia itu sendiri. Dia selamat dalam setiap abad. Bertahan dalam segala macam jaman. Karena pada saat tertentu dalam setiap hidup manusia, ia membutuhkan puisi. Ia membutuhkan untuk mengutarakan hal-hal yang terlewat oleh bahasa, yang jumlahnya terkadang banyak sekali membanjiri diri. Kadang kita juga lelah dan jenuh oleh ”pengacara” itu dan ingin mengeluarkan suara yang benar-benar keluar dari dalam diri. Betapapun absurdnya. Betapapun tak dapat diterima oleh aturan tata bahasa. Tapi pada saat itulah justru kita akan merasakan kalau kita sedang berbicara dengan diri kita sendiri. Seolah ia tengah berbisik, memberitahu kita sesuatu yang penuh arti. Sebuah kristalilasi yang tadinya hanyalah seonggok batu dalam diri.

Dan ketika pusi itu dituliskan maka ia tidak hanya bermakna bagi si penulisnya tapi juga menjamah orang-orang yang membacanya. Karena kita, pembaca, akan diajak masuk ke dalam sebuah pemahaman nirbahasa. Kita akan diajak melihat dunia tanpa ”pengacara” itu, murni melalui mata pena sang penulisnya.

Untuk itulah saya mengutip penggalan pusi diatas yang berjudul ”angin(harapan)”. Lewat puisi itu Tri seolah mengajarkan kembali arti harapan melalui bahasanya sendiri. Melaluinya Tri mengajak kita kembali untuk memegang sepotong kayu, merabanya, lalu mencium baunya. Dan ia ternyata telah menanti hujan dari waktu ke waktu. Di dalam hutan, rimba raya pepohonan, lumbung oksigen yang hijau dan sunyi. Hingga akhirnya ia melapuk oleh waktu. Hancur, juga seperti semuanya. Begitulah Tri melihat harapan. Atau saya melihat harapan melalui mata penanya Tri.

Dan banyak lagi yang dapat membuat kita belajar jika kita membaca puisinya. Bagi saya kumpulan puisi Tri kali ini yang kebanyakan ditulis pada medio 2006 dan 2007 ini seperti sebuah galeri. Ruang-ruang dengan masing-masing sebuah lukisan yang menggambarkan sebuah perjalan hidup. Hidup yang terkadang melelahkan itu. Semua warna di dalam lukisan itu kemudian seolah membawa kita pergi ke suatu tempat yang familiar, tapi lupa dimana atau sengaja tak kita ingat-ingat kembali. Seperti contohnya penggalan puisi berjudul ”Di Taman” berikut ini:

Aku menunggu taman yang hening
menabahkan rindu-rinduku
diantara sengit cinta itu
kau menunggu aku menunggu

Saya terdiam setelah membacanya. Sama seperti saya juga terdiam setelah membaca halaman pembahasan Jacques Lacan sebelumnya. Ada sesuatu yang menyentak disana. Yang membuat saya terdiam menatapi kata-kata itu berulang kali. Menatapi lukisan itu, di ruang itu. Sehingga membuat saya pun menunggu seperti puisi itu. Membuat saya seolah saya pun tengah menunggu sesuatu, entah apa.

Dan pada akhir diam saya, saya kira ya saya tengah menunggu sesuatu. Saya menunggu Tri menuliskan puisi lainnya tentang suatu negeri di dalam dirinya yang masih lagi belum tersusuri. Dimana puisi mengalir seperti mata air dan keheningan memiliki berjuta makna. Jernih, murni, sejuk menyegarkan, dan terpencil. Namun justru disitulah letak keindahannya. Sesuatu yang selalu saja dirindukan setiap manusia meski lupa namanya. Karena memang dari sanalah kamu berasal Tri.

Bandung, Januari 2007

Ditulis untuk kumpulan puisi Tri Damayantho, “Sepotong Hati Dalam Lemari”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Arsip

%d bloggers like this: